Syok perdarahan merupakan salah satu kondisi medis gawat darurat yang paling berbahaya. Kondisi ini terjadi ketika seseorang kehilangan banyak darah dalam waktu singkat, misalnya akibat kecelakaan lalu lintas, luka tembak, atau perdarahan hebat saat operasi. Kehilangan darah yang masif membuat aliran oksigen ke organ-organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal menjadi sangat berkurang. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, syok perdarahan dapat berujung pada kegagalan organ hingga kematian.
Dalam penanganan syok perdarahan, menghentikan sumber perdarahan adalah langkah utama. Namun, sebelum darah donor tersedia atau selama proses penanganan berlangsung, tenaga medis perlu memberikan cairan infus untuk menjaga volume darah dan tekanan darah pasien. Di sinilah muncul pertanyaan penting: cairan apa yang paling efektif dan aman untuk digunakan? Selama ini, ada dua kelompok utama cairan infus yang digunakan, yaitu kristaloid dan koloid. Cairan kristaloid, seperti cairan saline atau Ringer laktat, merupakan cairan yang paling sering digunakan karena murah, mudah didapat, dan relatif aman. Cairan ini menyerupai komposisi elektrolit dalam darah. Namun, kelemahannya adalah sebagian besar cairan kristaloid cepat keluar dari pembuluh darah dan masuk ke jaringan tubuh, sehingga dibutuhkan volume yang cukup besar untuk mempertahankan tekanan darah. Sebaliknya, cairan koloid mengandung molekul yang lebih besar sehingga bertahan lebih lama di dalam pembuluh darah. Akibatnya, cairan ini mampu meningkatkan volume darah dengan jumlah yang lebih sedikit. Koloid sendiri terbagi menjadi koloid alami, seperti albumin atau plasma, dan koloid sintetis, seperti hydroxyethyl starch (HES) dan gelatin. Meski menjanjikan, penggunaan koloid selama bertahun-tahun masih menuai perdebatan karena kekhawatiran akan efek sampingnya.
Untuk menjawab perdebatan tersebut, sebuah penelitian besar yang diterbitkan pada tahun 2025 melakukan analisis menyeluruh terhadap berbagai penelitian sebelumnya. Studi ini menggabungkan data dari 23 uji klinis acak yang melibatkan hampir 3.700 pasien syok perdarahan dari berbagai negara. Dengan metode yang disebut network meta-analysis, para peneliti dapat membandingkan berbagai jenis cairan infus secara lebih komprehensif, meskipun tidak semua cairan pernah dibandingkan secara langsung dalam satu penelitian. Hasilnya cukup menarik. Penelitian ini menemukan bahwa cairan koloid sintetis memiliki angka kematian paling rendah dibandingkan jenis cairan lainnya. Selain itu, pasien yang menerima koloid sintetis membutuhkan jumlah cairan infus yang lebih sedikit untuk menstabilkan kondisinya. Artinya, dengan volume cairan yang lebih kecil, tekanan darah dan aliran darah ke organ penting dapat dipulihkan secara lebih efektif.
Mengapa hal ini penting? Pemberian cairan dalam jumlah besar, terutama kristaloid, dapat menimbulkan masalah baru. Cairan berlebih dapat menyebabkan pembengkakan jaringan, termasuk paru-paru, yang berujung pada gangguan pernapasan. Selain itu, pengenceran darah akibat terlalu banyak cairan dapat mengganggu proses pembekuan darah dan memperparah perdarahan. Dengan menggunakan cairan yang lebih “efisien”, risiko-risiko tersebut dapat dikurangi. Namun, penelitian ini juga menegaskan bahwa tidak ada cairan yang sepenuhnya bebas risiko. Cairan kristaloid tercatat paling sering menimbulkan efek samping yang beragam, seperti gangguan pernapasan akut dan kelebihan cairan. Koloid sintetis pun tidak luput dari efek samping, terutama risiko gangguan paru-paru pada sebagian pasien. Oleh karena itu, pemilihan cairan tetap harus mempertimbangkan kondisi pasien, ketersediaan fasilitas, dan pemantauan ketat oleh tenaga medis. Hal penting lainnya dari penelitian ini adalah temuan bahwa hasil positif koloid sintetis relatif konsisten pada berbagai kelompok pasien. Faktor seperti usia, jenis kelamin, lokasi penelitian, maupun tingkat keparahan cedera tidak secara signifikan mengubah hasil utama. Ini menunjukkan bahwa temuan penelitian cukup kuat dan dapat diterapkan secara luas, meskipun tetap perlu kehati-hatian dalam praktik klinis.
Bagi masyarakat awam, hasil penelitian ini menegaskan bahwa penanganan darurat tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga ketepatan. Pilihan cairan infus yang tepat dapat membuat perbedaan besar antara hidup dan mati. Meski transfusi darah tetap menjadi standar utama dalam perdarahan berat, cairan infus yang digunakan sebelum dan selama transfusi memegang peran yang sangat krusial. Ke depan, para peneliti menyarankan agar studi lanjutan dilakukan untuk menilai dampak jangka panjang dari berbagai jenis cairan ini, termasuk pengaruhnya terhadap fungsi ginjal dan kualitas hidup pasien setelah sembuh. Selain itu, faktor biaya dan ketersediaan juga perlu dipertimbangkan, terutama di negara dengan sumber daya terbatas. Kesimpulannya, penelitian ini memberikan bukti ilmiah kuat bahwa cairan koloid sintetis dapat menjadi pilihan awal yang efektif dalam penanganan syok perdarahan. Dengan penggunaan yang bijak dan pengawasan yang tepat, strategi ini berpotensi meningkatkan angka keselamatan pasien dalam situasi darurat yang paling kritis.
Penulis: Yan Efrata S
Sumber:
Aldian FM, Visuddho V, Anggarkusuma MV, Wijaya JA, Lim AC, Chandrawira G, Sembiring YE, Semedi BP, Dillon JJ. Optimizing Fluid Resuscitation Strategies: A Network Meta-analysis of Effectiveness and Safety for Hemorrhagic Shock Patients in Emergency Settings. West J Emerg Med. 2025 Nov 26;26(6):1795-1803. doi: 10.5811/westjem.47198. PMID: 41380067; PMCID: PMC12698173.





