Luka kronis merupakan masalah kesehatan yang sering sulit sembuh dan membutuhkan perawatan jangka panjang. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tetapi juga meningkatkan beban biaya perawatan. Salah satu tantangan utama dalam penyembuhan luka kronis adalah lingkungan luka yang terus berada dalam fase peradangan sehingga proses pembentukan jaringan baru terhambat. Oleh karena itu, pengembangan balutan luka yang mampu mengendalikan peradangan sekaligus mendukung regenerasi jaringan menjadi sangat penting.
Sebuah penelitian terbaru mengembangkan bovine amnion–alginate sponge (BAAS) sebagai balutan luka modern yang menggabungkan dua bahan alami. Amnion sapi dikenal mengandung berbagai faktor pertumbuhan dan memiliki sifat antiinflamasi serta antimikroba, sementara alginat berfungsi sebagai penopang struktur yang mampu menyerap cairan luka dan menjaga kelembapan. Kombinasi keduanya diharapkan menciptakan lingkungan luka yang optimal untuk penyembuhan.
Penelitian ini menguji BAAS dengan beberapa perbandingan komposisi amnion sapi dan alginat, yaitu 25:75, 50:50, dan 75:25. Analisis struktur kimia menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan amnion, semakin baik sifat hidrofilik bahan tersebut. Hal ini berarti balutan mampu menahan air dengan baik, suatu kondisi penting untuk mendukung migrasi sel dan pembentukan jaringan baru. Selain itu, interaksi molekul antara amnion dan alginat membuat struktur sponge menjadi stabil dan sesuai digunakan sebagai balutan luka.
Peneliti juga mengukur kadar dua molekul penting dalam penyembuhan luka, yaitu interleukin-6 (IL-6) dan basic fibroblast growth factor (bFGF). IL-6 berperan dalam mengatur peralihan dari fase peradangan menuju fase perbaikan jaringan, sedangkan bFGF berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru dan proliferasi sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BAAS mampu mengandung dan melepaskan kedua molekul ini, dengan kadar tertinggi ditemukan pada komposisi amnion dan alginat 50:50. Sebaliknya, pada alginat murni tanpa amnion, kedua molekul tersebut tidak terdeteksi sama sekali.
Temuan ini menunjukkan bahwa komposisi BAAS dapat disesuaikan dengan kebutuhan penyembuhan luka. Pada fase awal luka, pengendalian peradangan menjadi penting, sementara pada fase berikutnya diperlukan dukungan untuk pembentukan jaringan baru. BAAS dengan komposisi seimbang mampu menjawab kedua kebutuhan tersebut secara bersamaan. Selain itu, bahan baku yang relatif mudah diperoleh menjadikan BAAS sebagai kandidat balutan luka yang ekonomis dan aplikatif.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa bovine amnion–alginate sponge memiliki potensi besar sebagai balutan luka modern, khususnya untuk luka kronis. Dengan kemampuan mengatur peradangan dan mendukung regenerasi jaringan, BAAS membuka peluang pengembangan balutan luka yang lebih efektif, terjangkau, dan berbasis biomaterial alami. Penelitian lanjutan tetap diperlukan sebelum penerapan klinis luas, namun hasil awal ini memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk inovasi perawatan luka di masa depan.
Penulis: Muhammad Bayu Zohari Hutagalung, Tabita Prajasari, Dwinka Syafira Eljatin, Mouli Edward, Heri Suroto
Judul Artikel : Bovine Amnion–Alginate Sponge (BAAS) as a Modern Wound Dressing: Pilot Study of Functional Groups and BAAS Formulation Effects on Basic Fibroblast Growth Factor and Interleukin-6 Levels
Jurnal : Scripta Medica (Banja Luka)
Tautan : https://doi.org/10.5937/scriptamed56-56888





