Makalah penelitian ini mengkaji hubungan rumit antara kepemilikan uang tunai, pandemi COVID-19, dan efisiensi investasi di perusahaan. Efektivitas investasi merupakan faktor penting bagi pertumbuhan bisnis dan telah mendapat perhatian signifikan dari para peneliti. Yang penting adalah efisiensi investasi perusahaan, karena hal ini berdampak langsung pada kemampuan mereka mencapai tujuan dan memaksimalkan kekayaan pemegang saham [1]. Untuk melakukan investasi, perusahaan memerlukan sejumlah besar arus kas yang tersedia, yang berfungsi sebagai ukuran penting likuiditas dan memfasilitasi berbagai aktivitas, termasuk investasi [2, 3]. Tingkat cadangan kas yang dimiliki oleh perusahaan secara signifikan mempengaruhi keputusan investasi mereka. Mempertahankan tingkat penyimpanan kas yang optimal membantu mengurangi masalah keagenan dan asimetri informasi, sehingga meningkatkan efisiensi investasi [4, 9, 10, 46, 47].
Dengan memiliki posisi kas yang optimal, perusahaan akan lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi seperti pandemi COVID-19. Pandemi ini telah menghadirkan tantangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyebabkan gangguan pada rantai pasokan, berkurangnya permintaan konsumen, dan meningkatnya volatilitas pasar. Dalam konteks ini, perusahaan dengan cadangan kas yang memadai dapat memanfaatkan peluang investasi selama penurunan pasar dan melakukan akuisisi atau ekspansi strategis [5, 39, 40]. Namun, penting untuk dicatat bahwa kepemilikan uang tunai yang berlebihan dapat menghambat efisiensi investasi. Perusahaan yang menimbun uang tunai melebihi tingkat optimalnya mungkin menghadapi kritik dari pemegang saham yang menginginkan keuntungan lebih tinggi atas investasinya. Selain itu, cadangan kas yang berlebihan dapat menimbulkan rasa puas diri, sehingga membuat perusahaan enggan mencari peluang investasi yang menguntungkan [6, 41, 42, 43].
Sampel penelitian ini terdiri dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013 hingga 2020. Data dikumpulkan dari laporan tahunan perusahaan-perusahaan tersebut. Untuk memastikan kualitas sampel, kriteria seleksi khusus diterapkan. Awalnya, perusahaan dengan data yang tidak lengkap mengenai efisiensi investasi tidak dimasukkan. Selain itu, variabel kontrol yang hilang juga dihilangkan dari analisis. Setelah menerapkan kriteria tersebut, sampel akhir terdiri dari 2.721 perusahaan dengan observasi setiap tahun selama periode penelitian. Untuk meminimalkan dampak outlier dan nilai yang tidak biasa, semua variabel kontinu dalam kumpulan data disesuaikan menggunakan winorization, yang membatasi nilai ekstrem pada persentil ke-1 dan ke-99. Penyesuaian ini membantu mengurangi potensi distorsi pada data yang disebabkan oleh pengamatan ekstrem.
Studi ini mengeksplorasi hubungan antara jumlah uang tunai yang dimiliki perusahaan dan efektivitasnya dalam melakukan investasi, serta dampak pandemi COVID-19. Para peneliti menganalisis kumpulan data yang terdiri dari 2.721 observasi dari perusahaan publik Indonesia antara tahun 2013 dan 2020, tidak termasuk industri keuangan (SIC 6). Mereka menggunakan analisis regresi linier berganda untuk menyelidiki bagaimana kepemilikan uang tunai memengaruhi efisiensi investasi dan bagaimana pandemi COVID-19 memengaruhi hubungan ini. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa kepemilikan kas yang lebih tinggi berdampak negatif terhadap efisiensi investasi.
Ketidakpastian akibat wabah COVID-19 telah berdampak signifikan terhadap arus kas perusahaan sehingga menghambat aktivitas bisnis. Selain itu, uji ketahanan juga dilakukan untuk mengatasi kekhawatiran mengenai potensi bias, dan hasilnya secara konsisten selaras dengan estimasi kuadrat terkecil biasa (OLS). Temuan-temuan ini penting bagi investor, calon investor, dan manajemen karena memberikan wawasan mengenai interaksi antara kepemilikan uang tunai, efisiensi investasi, dan Pandemi COVID-19.
Penulis: Dr. Ardianto, S.E., Ak., M.Si





