Peningkatan kadar serum Interferon Gamma (IFN-γ) berkaitan erat dengan tingkat keparahan kerusakan hati pada infeksi virus hepatitis B kronik, sedangkan polimorfisme genetik IFN-γ +874 T/A bukan merupakan prediktor mandiri dalam transisi menuju sirosis hati. Evaluasi imunogenetik menunjukkan bahwa disregulasi imun yang bergantung pada stadium penyakit memegang peranan lebih dominan daripada variasi genetik tunggal dalam memicu patogenesis stadium lanjut.
Patogenesis Imunologis pada Infeksi Hepatitis B Kronik
Infeksi kronik Hepatitis B Virus (HBV) menunjukkan manifestasi klinis yang sangat heterogen, mulai dari kondisi karier asimtomatik hingga perkembangan progresif menjadi sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler. Interaksi kompleks antara karakteristik virus dan respons imun inang menentukan perjalanan klinis tersebut. Di antara komponen sistem imun, IFN-γ—sebuah sitokin proinflamasi utama yang diproduksi oleh sel T dan sel Natural Killer (NK)—memiliki fungsi sentral dalam eliminasi virus serta mediasi cedera jaringan hepatik.
Analisis Polimorfisme Genetik IFN-γ +874 T/A
Variasi genetik pada daerah intron pertama gen IFN-γ, khususnya polimorfisme lokus +874 T/A (rs2430561), terletak pada posisi pengikatan faktor transkripsi Nuclear Factor Kappa B (NF-κB). Secara teoritis, alel T diasosiasikan dengan produksi sitokin yang tinggi (high-producer), sedangkan alel A atau genotip AA berkaitan dengan kapasitas produksi yang lebih rendah (low-producer).
Berdasarkan data molekuler terhadap 125 subjek, genotip AA dan alel A ditemukan mendominasi baik pada kelompok hepatitis B kronik maupun sirosis hati. Tidak terdapat perbedaan distribusi genotip atau alel yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok klinis tersebut. Indikasi ini menegaskan bahwa keberadaan polimorfisme gen IFN-γ +874 T/A secara independen tidak cukup kuat untuk meramalkan risiko perkembangan fibrosis dari fase kronik menuju sirosis hati.
Signifikansi Elevasi Serum IFN-γ dan Disregulasi Stadium Lanjut
Meskipun profil genetik serupa, konsentrasi IFN-γ dalam serum menunjukkan disparitas yang nyata. Kadar median IFN-γ serum pada kelompok sirosis hati secara signifikan lebih tinggi (2,2 pg/mL) dibandingkan dengan kelompok hepatitis B kronik (1,32 pg/mL). Elevasi sistemik ini merefleksikan adanya aktivasi imun persisten yang bersifat maladaptif, yang umum terjadi pada kondisi Cirrhosis-Associated Immune Dysfunction (CAID). Peningkatan permeabilitas usus dan translokasi produk mikrobial melalui aksis usus-hati pada stadium lanjut memicu stimulasi inflamasi kronik yang masif.
Fenomena krusial terlihat ketika analisis dilakukan secara berstrata: subjek dengan genotip AA pada stadium sirosis memiliki kadar sitokin serum yang jauh lebih tinggi secara signifikan (3,38 pg/mL) daripada pembawa genotip AA pada stadium hepatitis B kronik (1,16 pg/mL). Data ini membuktikan bahwa lingkungan mikroinflamasi patologis pada stadium lanjut mampu mengesampingkan kendala regulasi sitokin yang ditentukan oleh genotip awal. Dengan demikian, kuantifikasi kadar serum IFN-γ lebih representatif sebagai penanda klinis perkembangan inflamasi dan fibrotik dibandingkan pemeriksaan variasi genetik tunggal.
Penulis: Aryati
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.researchgate.net/publication/410331471_Analysis_of_IFN-_g_874_TA_Gene_Polymorphism_and_Serum_IFN-_g_Levels_in_Chronic_Hepatitis_B_and_Liver_Cirrhosis_Patients
