Tanaman obat telah lama dimanfaatkan sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Namun, di balik manfaatnya, penting untuk memastikan bahwa tanaman-tanaman tersebut aman dan tidak menimbulkan efek berbahaya. Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab hal ini dengan mengkaji tingkat toksisitas, potensi teratogenik, serta kandungan kimia dan aktivitas antioksidan dari 28 spesies tanaman obat.
Dalam penelitian ini, bagian tanaman diekstraksi menggunakan pelarut etanol untuk memperoleh senyawa aktifnya. Untuk menguji toksisitas, peneliti menggunakan metode brine shrimp assay, metode sederhana namun efektif dalam mendeteksi efek toksik senyawa. Sementara itu, uji teratogenik dilakukan dengan mengamati perkembangan embrio ikan zebra (zebrafish), yang sering digunakan sebagai model biologis karena kemiripannya dengan proses perkembangan vertebrata lainnya.
Kandungan kimia tanaman dianalisis menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Selain itu, kadar senyawa fenolik total diukur dengan metode Folin–Ciocalteu, sedangkan kemampuan antioksidan dievaluasi melalui uji peredaman radikal bebas DPPH. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanaman-tanaman obat tersebut mengandung 12 jenis senyawa fitokimia, antara lain minyak atsiri, triterpen, fenol, asam lemak, gula, antrakuinon, kumarin, antron, tanin, flavonoid, steroid, dan alkaloid. Senyawa-senyawa ini dikenal berperan penting dalam aktivitas biologis tanaman, termasuk sebagai antioksidan dan agen terapeutik. Kadar fenolik total yang terdeteksi berkisar antara 125,45 hingga 568,99 mg GAE/g, dengan Muntingia calabura mencatat nilai tertinggi. Sementara itu, aktivitas antioksidan berada pada rentang 40,25% hingga 82,56%, dengan Zanthoxylum americana menunjukkan kemampuan antioksidan paling kuat. Temuan ini menguatkan potensi tanaman obat sebagai sumber antioksidan alami.
Dalam uji toksisitas, Murraya paniculata menunjukkan tidak adanya efek toksisitas dengan nilai LCâ‚…â‚€ terendah (1157,42 ppm), demikian juga Centella asiatica tergolong aman dengan nilai LCâ‚…â‚€ tertinggi (33252,69 ppm). Namun pada pengujian teratogenik pada embrio ikan zebra menunjukkan berbagai efek, mulai dari gangguan ringan hingga berat, seperti pembekuan embrio, pembengkakan kantung kuning telur dan jantung, kelainan bentuk kepala, tulang belakang, dan ekor, pertumbuhan terhambat, keterbatasan gerak, hingga gangguan pigmentasi. Meski demikian, secara umum nilai LCâ‚…â‚€ teratogenik menunjukkan bahwa ekstrak tanaman yang diuji tergolong rendah hingga tidak bersifat teratogenik, dengan rentang nilai dari 324 ppm pada Alternanthera brasiliana hingga 11933 ppm pada Pogostemon cablin.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman obat yang diuji memiliki kandungan fitokimia yang kaya, aktivitas antioksidan yang kuat, serta tingkat toksisitas dan teratogenisitas yang relatif rendah. Temuan ini mendukung pemanfaatan tanaman obat sebagai bahan alami yang berpotensi aman, meskipun penelitian lanjutan tetap diperlukan sebelum digunakan secara luas dalam pengobatan modern.
Penulis: Prof. apt. Tutik Sri wahyuni, SSI.MSi. PhD.





