UNAIR NEWS – Kesempatan untuk belajar langsung di lingkungan klinis internasional menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa kedokteran dalam memperluas wawasan dan memahami praktik pelayanan kesehatan di negara lain. Hal tersebut dirasakan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) yang berkesempatan mengikuti clinical elective di Kobe University Hospital, Jepang.
Selama menjalani program tersebut, ia mengikuti kegiatan klinis di Departemen Cardiovascular Surgery dan Neurosurgery. Tidak hanya mengamati proses pelayanan pasien, pengalaman ini memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai prosedur bedah kompleks yang selama ini dipelajari melalui buku, kuliah, maupun diskusi akademik.
Kompleksitas Bedah Kardiovaskular
Pada rotasi Cardiovascular Surgery, mahasiswa mengikuti berbagai kegiatan mulai dari morning conference, diskusi kasus, hingga observasi tindakan di ruang operasi. Berbagai prosedur besar menjadi bagian dari pengalaman klinis, seperti Coronary Artery Bypass Grafting (CABG), Bentall procedure, hemiarch replacement, operasi katup jantung, hingga Endovascular Aneurysm Repair (EVAR).
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kesempatan menyaksikan operasi kompleks yang melibatkan beberapa katup jantung sekaligus serta prosedur CABG. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa tidak hanya melihat teknik pembedahan, tetapi juga memahami pentingnya koordinasi antara dokter bedah, anestesi, perfusionist, perawat, dan seluruh tim yang terlibat.
Penggunaan cardiopulmonary bypass (CPB), pemberian cardioplegia untuk perlindungan miokard, hingga penggunaan arteri mammaria sebagai graft pada CABG menjadi beberapa aspek yang memberikan gambaran nyata mengenai kompleksitas bedah jantung.

Mengenal Bedah Saraf dan Teknologi Neurointervensi
Pengalaman berlanjut di Departemen Neurosurgery. Berbagai kasus, mulai dari tumor otak, penyakit serebrovaskular, aneurisma intrakranial, hingga kasus yang membutuhkan tindakan neurointervensi, menjadi bagian dari pembelajaran.
Salah satu prosedur yang paling berkesan adalah STA–MCA bypass, yaitu prosedur revaskularisasi yang menghubungkan superficial temporal artery dengan middle cerebral artery untuk meningkatkan aliran darah ke jaringan otak.
Selain operasi terbuka, mahasiswa juga berkesempatan mengamati prosedur neurointervensi menggunakan teknologi seperti Woven EndoBridge (WEB), stent, dan flow diverter untuk menangani aneurisma intrakranial. Pengalaman tersebut memberikan perspektif mengenai bagaimana perkembangan teknologi memungkinkan dokter memilih pendekatan yang semakin spesifik sesuai kondisi pasien.
Belajar Lebih dari Sekadar Teknik Operasi
Menurutnya, pengalaman clinical elective di Kobe University Hospital tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai prosedur medis. Lingkungan klinis tersebut juga memperlihatkan pentingnya ketelitian, komunikasi, kerja sama multidisiplin, dan keselamatan pasien dalam setiap tahap pelayanan.
“Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa menjadi dokter tidak hanya tentang mengetahui bagaimana suatu prosedur dilakukan, tetapi juga memahami alasan di balik setiap keputusan klinis dan bagaimana seluruh tim bekerja bersama untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasien,” ujarnya.
Kesempatan belajar di Jepang juga menjadi ruang untuk melihat perbedaan sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan secara langsung. Interaksi dengan dokter dan tenaga kesehatan memberikan perspektif baru mengenai bagaimana ilmu kedokteran dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran, penelitian, dan kolaborasi internasional.
Bagi mahasiswa FK UNAIR tersebut, pengalaman di Kobe menjadi lebih dari sekadar perjalanan akademik. Clinical elective ini menjadi kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan kedokteran dengan praktik klinis nyata sekaligus memperkuat motivasi untuk terus belajar dan berkembang sebagai calon dokter.
