Ketika membahas kesehatan reproduksi remaja, perhatian masyarakat sering kali tertuju pada pendidikan seks, penggunaan kontrasepsi, atau pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan. Padahal, ada satu keterampilan penting yang sering luput dari pembahasan, yaitu kemampuan remaja untuk mengatakan “tidak” terhadap aktivitas seksual yang tidak mereka inginkan.
Kemampuan tersebut dikenal sebagai sexual assertiveness atau asertivitas seksual. Sederhananya, asertivitas seksual adalah kemampuan seseorang untuk menyampaikan batasan, menolak tekanan pasangan, dan mempertahankan keputusan mengenai aktivitas seksual tanpa merasa bersalah atau takut kehilangan hubungan.
Di tengah meningkatnya penggunaan media sosial, kemudahan berkomunikasi, dan semakin intensnya hubungan pacaran di kalangan remaja, kemampuan ini menjadi salah satu bentuk perlindungan diri yang sangat penting.
Remaja menghadapi tekanan yang tidak selalu terlihat
Masa remaja merupakan periode ketika seseorang sedang mencari jati diri. Pada saat yang sama, mereka mulai membangun hubungan romantis dan berusaha diterima oleh lingkungan pergaulannya. Tidak sedikit remaja yang menghadapi tekanan untuk membuktikan rasa cinta kepada pasangan melalui kedekatan fisik atau aktivitas seksual.
Tekanan tersebut sering kali tidak datang dalam bentuk paksaan yang nyata. Sebaliknya, tekanan dapat muncul melalui rayuan, rasa tidak enak untuk menolak, kekhawatiran ditinggalkan pasangan, hingga anggapan bahwa aktivitas seksual merupakan hal yang “normal” dalam sebuah hubungan.
Bagi sebagian remaja putri, kondisi ini dapat membuat mereka sulit mempertahankan batasan yang sebenarnya ingin mereka pegang.
Padahal, keputusan untuk melakukan aktivitas seksual tanpa kesiapan fisik maupun mental dapat membawa berbagai konsekuensi, mulai dari kehamilan yang tidak direncanakan, infeksi menular seksual, hingga dampak psikologis seperti stres, kecemasan, penyesalan, bahkan menurunnya kepercayaan diri.
Apa yang ditemukan penelitian?
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2024 melibatkan 92 mahasiswi yang sedang menjalin hubungan pacaran di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pengumpulan data melalui wawancara dan kuesioner mengenai perilaku seksual serta tingkat asertivitas seksual.
Hasil analisis menunjukkan bahwa asertivitas seksual berpengaruh signifikan terhadap perilaku seks pranikah (p < 0,001). Dengan kata lain, responden yang memiliki kemampuan lebih baik dalam mengungkapkan batasan diri, menolak ajakan pasangan, serta mempertahankan keputusan pribadi cenderung memiliki perilaku seksual yang lebih aman.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kemampuan berkata “tidak” bukan sekadar persoalan keberanian, tetapi merupakan keterampilan yang dapat melindungi remaja dari perilaku berisiko.
Pendidikan seks tidak cukup hanya memberikan informasi
Selama ini pendidikan kesehatan reproduksi masih banyak berfokus pada penyampaian informasi mengenai organ reproduksi, pubertas, atau risiko penyakit. Pengetahuan memang penting, tetapi belum tentu membuat remaja mampu mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi tekanan dalam hubungan.
Remaja juga memerlukan keterampilan praktis, seperti:
- berkomunikasi secara tegas tanpa bersikap agresif;
- mengenali tekanan dari pasangan atau teman sebaya;
- mengambil keputusan secara mandiri;
- menghargai batasan tubuh sendiri (body autonomy);
- membangun hubungan yang sehat dan saling menghormati.
Keterampilan inilah yang menjadi inti dari asertivitas seksual.
Peran keluarga tetap tidak tergantikan
Meskipun remaja memperoleh banyak informasi dari internet, keluarga tetap menjadi lingkungan pertama yang membentuk cara mereka memandang hubungan dan menghargai diri sendiri.
Sayangnya, pembicaraan mengenai seksualitas masih dianggap tabu di banyak keluarga Indonesia. Akibatnya, remaja lebih sering mencari informasi dari media sosial atau teman sebaya yang belum tentu memberikan informasi yang benar.
Orang tua tidak harus memberikan ceramah panjang. Sebaliknya, mereka perlu membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak merasa aman untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pengalaman yang mereka hadapi.
Komunikasi yang hangat dan tidak menghakimi akan membantu remaja lebih percaya diri dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai yang mereka yakini.
Sekolah dan kampus dapat menjadi ruang belajar yang aman
Sekolah dan perguruan tinggi juga memiliki peluang besar untuk mengembangkan program kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif. Pendidikan kesehatan tidak lagi cukup berupa ceramah satu arah, tetapi perlu dikemas melalui diskusi kelompok, simulasi menghadapi tekanan teman sebaya, pelatihan komunikasi asertif, hingga konseling bagi remaja yang membutuhkan.
Pendekatan semacam ini akan membantu remaja mempraktikkan keterampilan yang benar-benar mereka perlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Investasi untuk masa depan remaja
Kemampuan berkata “tidak” sering kali dipandang sebagai hal yang sederhana. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan tersebut merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan reproduksi sekaligus kesehatan mental remaja.
Meningkatkan asertivitas seksual bukan berarti membatasi kebebasan remaja dalam menjalin hubungan. Sebaliknya, hal ini membantu mereka membangun hubungan yang sehat, saling menghormati, dan bebas dari tekanan maupun paksaan.
Oleh karena itu, program promosi kesehatan reproduksi di Indonesia perlu memberikan perhatian lebih besar pada pengembangan keterampilan hidup (life skills), khususnya asertivitas seksual. Dengan dukungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan tenaga kesehatan, remaja akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk membuat keputusan yang aman, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai yang mereka yakini.
Link artikel: https://www.pagepressjournals.org/hls/article/view/13886
Penulis: Lutfi Agus Salim





