Ketika pandemi COVID-19 melanda dunia pada awal tahun 2020, satu fakta yang dihadapi oleh seluruh dunia adalah: tidak ada satu pun negara di dunia yang benar-benar siap mengalami pandemi tersebut. Negara dengan indeks keamanan kesehatan global yang tinggi juga kewalahan dalam menghadapi lonjakan kasus; ruang gawat darurat penuh sesak, sistem pengujian gagal, dan pasokan alat pelindung diri, fasilitas kesehatan ramai, demand ventilator melonjak, dan hampir seluruh sistem kesehatan di suatu negara kolaps seketika. Krisis ini menjadi pengingat bahwa ancaman kesehatan global tidak mengenal batas negara. Di balik tragedy ini, dunia kesehatan dan akademisi terus memantau fenomena yang menjadi akar dari krisis serupa, yakni emerging infectious diseases (EIDs) atau penyakit infeksi baru
Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan EIDs sebagai penyakit menular yang baru muncul dalam suatu populasi, atau penyakit yang sudah diketahui sebelumnya namun mengalami peningkatan insidensi atau terjadi peningkatan penyebaran penyakit secara geografis yang sangat cepat dan masif. Ancaman ini menghadirkan tantangan yang mendasar tidak hanya bagi sistem kesehatan masyarakat, tetapi juga stabilitas ekonomi dan sistem sosial secara global. Pertanyaannya, mengapa penyakit ini terus bermunculan dan bagaimana masyarakat, akademisi, serta pemangku kebijakan harus bersiap menghadapi pandemi selanjutnya?
| Dominasi Patogen Lintas Spesies (Zoonosis)
Sejarah telah mencatatkan bahwa mikroba baik virus, bakteri, fungi menjadi salah satu penyebab kolapsnya suatu peradaban. Pandemi flu spanyol pada tahun 1918 menelan lebih dari 25 juta korban jiwa. Baru-baru ini, wabah Ebola di Afrika Barat (2013 – 2016) merenggut nyawa lebih dari 11.000 orang. Sejak dua decade terakhir, kita juga menyaksikan adanya wabah besar akibat SARS-COV (2003), MERS-COV (2012), dan SARS COV-2 (2019) dan flu burung (Avian Influenza) telah merenggut jutaan nyawa di seluruh dunia.
Satu benang merah yang mengkhawatirkan dari penyakit tersebut adalah asal-usulnya. Diketahui bahwa sekitar 60% dari total EIDs secara global merupakan penyakit zoonosis, yang artinya penyakit ini berasal dari hewan dan ditularkan ke manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Lebih jauh lagi, sekitar 70% dari penyakit zoonosis tersebut berasal dari hewan liar. Aktivitas manusia modern menjadi precursor sehingga terjadinya kontak langsung dengan satwa liar yang membawa mikroba asing, memicu apa yang disebut oleh ahli sebagai pathogen spillover (lompatan patogen lintas spesies).
| Faktor penggerak: dari deforestrasi hingga urbanisasi
Munculnya EIDs bukan merupakan suatu kejadian yang kebetulan secara biologis, melainkan hasil konvergensi dari berbagai faktor dalam kehidupan manusia, hewan, dan lingkungan. Secara umum, ada dua motor utama yang dapat mempercepat penyebaran penyakit ini:
- Faktor lingkungan dan ekologis
Perubahan iklim telah diakui sebagai pendoring kritis yang memengaruhi distribusi geografis dan insiden penyakit infeksi, terutama yang ditularkan oleh vektor seperti nyamuk, tikus, dan kutu. Modifikasi variabel iklim, seperti adanya perubahan suhu dan curah hujan, mengubah habitat vektor alami penyakit seperti penyakit malaria dan demam berdarah. Selain iklim, alih fungus lahan memberikan dampak yang masif. Deforestasi, perluasan kawasan perkotaan, dan intensifikasi pertanian dapat mengganggu ekosistem yang ada dan memaksa satwa liar berinteraksi lebih dekat dengan manusia serta hewan ternak. Misalnya penyebaran hantavirus sering terjadi pada musim panen padi, ketika populasi tikus meningkat dan kontak dengan manusia semakin intens. Di Malaysia, adanya perubahan lanskap berupa kebakaran hutan, pembukaan Perkebunan, dan peternakan babi di dekat habitat kelelawar diduga kuat memfasilitasi penularan dari virus Nipah.
- Faktor sosial-ekonomi dan demografi
Kepadatan penduduk yang tinggi, pertumbuhan kota yang pesat, serta mobilitas global yang tinggi bertindak sebagai faktor percepatan dalam transmisi EIDs. Migrasi manusia, baik pengungsi maupun pekerja lintas batas, yang sering kali harus tinggal di lingkungan padat dan kurang higienis, memperburuk risiko transmisi penyakit. Selain mobilitas manusia, meningkatan permintaan global terhadap daging memicu intensifikasi produk ternak. Hubungan antara kepadatan unggas yang tinggi dan kasus flu burung (H5N1) pada manusia di Asia adalah bukti nyata dari dinamika transmisi penyakit ini, sama halnya dengan perluasan peternakan babi yang berpotensi pada penyebaran Japanese Encephalitis dan virus influenza.
| Asia sebagai titik panas penyakit infeksi
Sebagai kawasan yang mengalami pertumbuhan ekonomi tercepat, Asia mennjadi saksi dari perubahan sosial-ekonomi yang masif sekaligus turbulensi lingkungan hidup yang intens. Migrasi tinggi, baik manusia maupun hewan, tidak hanya meningkatkan risiko spillover zoonosis, tetapi juga mempercepat penyebaran patogen lintas wilayah. Banyak kota besar di kawasan Asia dengan kepadatan penduduk ekstrem dapat berfungsi sebagai incubator penyakit zoonosis dan epidemi baru, karena kepadatan penduduk menjadi faktor dalam penyebaran penyakit yang sangat cepat. Meskipun sudah diketahui bahwa Asia menjadi pusat penyebaran penyakit infeksi yang cukup cepat, namun kesenjangan infrastruktur kesehatan di Asia masih menjadi masalah. Di banyak negara yang berpendapatan rendah dan menengah di Asia Tenggara, program penanganan masih bersifat reaktif: mereka berfokus pada respons sesaat terhadap wabah, alih-alih membangun sistem mitigasi dan kesiapsiagaan jangka panjang. Kurangnya investasi dalam sistem deteksi dini dan surveilans menghambat identifikasi EIDs secara tepat waktu dan akurat.
| Solusi global: One health dan kolaborasi internasional
Mempertimbangkan bahwa mikroba tidak membutuhkan paspor untuk berpindah dari satu negara ke negara lain, respon terhadap penyebaran penyakit tersebut secara parsial dipastikan gagal. Solusi paling penting untuk diimplementasikan adalah dengan dihidupkannya pendekatan one health (satu kesehatan). Pendekatan ini merupakan kerangka kerja terpadu yang memandang bahwa kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan tidak terpisahkan satu sama lain. Di level kawasan, integrasi sistem surveilans sangat mendesak. Negara seperti jepang, China, Australia, dan Taiwan dapat membangu sistem peringatan dini yang menyatukan data dari rumah sakit dan komunitas secara real time. Untuk itu, perlu adanya kerja sama internasional sebagai kunci dari keberhasilan dalam penanggulangan EIDs. Selain kerja sama internasional, berbagi data secara internasional juga merupakan bagian terpenting dalam pencegahan dan penanggulangan pandemi di masa depan. Kasus penyebaran virus SARS pada tahun 2003 menunjukkan betapa cepatnya pelancong yang terinfeksi dari Hong Kong dapat membawa virus tersebut ke hampir 20 negara dalam waktu satu bulan. Platform berbagi data seperti Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) memungkinkan otoritas kesehatan di berbagai negara di dunia melacak evolusi patogen dan menentukan strategi pencegahan secara tepat. Walaupun begitu, tantangan seperti keengganan negara dalam membagikan data, privasi, dan kedaulatan nasional masih menjadi hambatan yang harus dijembatani dengan pendekatan diplomasi kesehatan yang adil.
| Kesiapsiagaan adalah kunci
Ancaman EIDs bukan lagi fiksi sains atau probabilitas semata; ia adalah realitas kontemporer yang sedang kita hadapi saat ini. Persiapan yang komprehensif tidak cukup hanya dilakukan di dalam dinding rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan. Kesiapsiagaan dapat mencakup ketersediaan fasilitas air bersih, kestabilan sistem informasi, kemampuan komunikasi public, serta keseriusan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Untuk menghindari krisis layaknya COVID-19 di masa yang akan datang, disarankan agar semua sektor baik pemerintah, komunitas, akademis, sektor swasta, dan masyarakat luas harus berkolaborasi. Langkah kecil pada level komunitas dapat dilakukan dengan mengurangi kontak illegal dengan satwa liar, hingga pembuatan kebijakan makro dengan reformasi sistem kesehatan yang lebih inklusif.
Penulis: Dr. Ratna Dwi Puji Astuti, S.K.M.
Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/emerging-infectious-disease/





