Universitas Airlangga Official Website

Mengelola Pasien Paruh Baya dengan Keratokonus Terabaikan Bilateral

Foto by iStock

Keratokonus adalah suatu kelainan non inflamasi pada kornea yang ditandai oleh penipisan kornea progresif yang mengakibatkan steepening dan penonjolan kornea. Pasien dengan keratoconus, biasanya mulai pada usia remaja atau dua puluhan hingga seterusnya. Pasien dengan keratoconus, umumnya mengeluhkan penglihatan yang semakin terdistorsi dan kabur karena miopia dan astigmatisme tinggi. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, terdapat beberapa instrumen yang dapat mendeteksi dan mendiagnosis keratoconus sejak dini, yaitu dengan menggunakan topografi kornea seperti The Orbscan, Pentacam, dan Scheimpflug. Dari adanya teknik diagnosis tersebut, tingkat keparahan Keratakonus dapat diklasifikasikan. Menurut klasifikasi tingkat keparahan Kertakonus oleh Amsler-Krumeich dibagi menjadi 4 tahap yaitu, Keratoconus Standar : Stadium I muncul sebagai eksentrik curam, miopia/astigmatisme < 5.00 D, Mean sentral K< 48.0 D. Stadium II sebagai miopia/astigmatisme 5.00- 8.00D, Mean sentral K< 53.0 D, tidak ada jaringan parut, ketebalan kornea apikal minimal > 400 μm. Stadium III sebagai myopia/astigmatism 8.00 – 10.00 D, Mean sentral K > 53.0 D, tidak ada jaringan parut, ketebalan kornea apikal minimal 300-400 μm.  Stadium IV sebagai tidak terukurnya refraksi, Mean sentral  K > 55.0 D, jaringan parut kornea sentral, apikal minimal ketebalan kornea > 200μm. Namun, sayangnya manajemen dan perawatan keratoconus tertunda di beberapa wilayah negara berkembang karena kurangnya sumber daya dan pemeriksa yang berkualitas. Tulisan ini bertujuan menunjukkan perlunya untuk melakukan diagnosis dini pada pasien dengan gejala keratoconus, sehingga dapat diberikan perawatan yang tepat dan segera sesuai dengan kondisinya.

Topografi kornea memiliki berbagai fitur yang memberikan informasi skrining dan diagnosis penting untuk keratoconus, seperti The Orbscan, Pentacam, dan Scheimpflug. Penipisan dan ketebalan kornea sentral, pembacaan K rata-rata, dan elevasi kornea anterior dan posterior semuanya direpresentasikan secara numerik. Instrumen dapat memberikan banyak indeks permukaan kornea anterior, memberikan gambaran lengkap dari seluruh kornea dari pembacaan paling datar hingga paling curam. Dilakukan uji pemeriksaan topografi kornea pada wanita berusia 34 tahun yang selalu menggosok mata terus-menerus, mata lelah, dan distorsi penglihatan, selama 10 tahun terakhir, pasien telah mengganti kacamata, tetapi penglihatannya tidak membaik. Hasilnya ketajaman visual awal masing-masing mata adalah 5/20 dan 5/15. Keduanya sulit untuk diperbaiki. Pemeriksaan retinoskopi beruntun mengungkapkan bahwa mata kanan dengan S+7.75 C-6.00 Axis 1500 menjadi 5/15, dan sedangkan mata kiri dengan S+7.25 C-6.00 Axis 800 menjadi 5/15.  Tes Schirmer pada kedua mata di bawah 10 mm menunjukkan mata kering. Dari temuan klinis kedua mata, batas kelopak bawah berbentuk V terlihat ketika pasien melihat ke bawah: tanda Munson. Pada pemeriksaan slit-lamp mengungkapkan tanda Rizzuti dan striae Vogt. Bekas luka kornea kecil (makula) terlihat pada sumbu visual kedua mata. Disk Placido menampilkan garis cincin terdistorsi tidak beraturan yang lebih dekat ke tengah kerucut. Pemeriksaan fotografi fundus menunjukkan gambaran fundus tigroid pada kedua mata. Refraktokeratometer otomatis RK-700 dilakukan dua kali. Namun, pembacaan K tidak terdeteksi di kedua mata. Sehingga, refrakto-keratometer manual (Inami Ophthalometer) dilakukan. Mata kanan menunjukkan K1 terbaca 53 Diopter dan base curve 6.6mm dan K2 terbaca 52 Diopter dan base curve 6.5mm. Mata kiri menunjukkan pembacaan K1 52 Diopter dan base curve 6,5 mm, sedangkan pembacaan K2 adalah 52 Diopter dan base curve 6,5 mm. Pada Biometri indentasi yaitu mengukur panjang aksial bola mata untuk kedua mata, masing-masing didapatkan 26,96 mm, dan 27,05 mm untuk kanan dan kiri. Dengan diagnosis tersebut, pasien bisa mendapatkan perawatan sesuai stadium kondisinya. Best Corrected Visual Acuity (BCVA) akhir menggunakan pemilihan terapi lensa kontak scleral meningkat secara signifikan saat dilakukan fitting lensa coba. Mata kanan ditambah C-2.50 Axis 90ÌŠ0  menjadi 5/12, dan mata kiri ditambah S+1.75 C-5.00 Axis 800 menjadi 5/6.5. Pasien mencapai kinerja dan kenyamanan visual yang lebih baik.

Sebagai kesimpulan, metode diagnostik yang paling efektif untuk keratoconus adalah pemeriksaan topografi kornea. Deteksi keratoconus menggunakan topografi kornea dan lensa kontak scleral meningkatkan ketajaman visual dari pasien. Pasien membutuhkan praktisi yang berpengetahuan luas di bidang Kesehatan mata dan akses yang mudah ke sumber daya sehingga tidak terlambat dalam mendiagnosa penyakitnya serta penatalaksanaan yang tepat untuk mengoptimalkan penglihatannya serta meningkatkan kesejahteraan pasien. Oleh karena itu, sangat penting juga untuk mengetahui diagnosis dini, memiliki akses ke peralatan diagnostik Kesehatan yang lengkap, dan memiliki pemahaman menyeluruh tentang cara mengelola keratoconus untuk menghindari kasus-kasus kondisi yang terabaikan.

Penulis: dr. Christina Aritonang, Sp.M(K) Link Jurnal: https://sciencescholar.us/journal/index.php/ijhs/article/view/11629/7295