Kanker kandung kemih menjadi salah satu penyakit yang terus mendapat perhatian seiring meningkatnya angka kasus dan kematian akibat kanker secara global. Kondisi tersebut mendorong pentingnya pemanfaatan metode statistika untuk memberikan gambaran mengenai peluang kelangsungan hidup pasien, salah satunya melalui analisis survival dengan memperhitungkan data tersensor. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan distribusi eksponensial dengan Type II censoring dapat digunakan untuk mengestimasi harapan hidup pasien kanker kandung kemih, dengan hasil estimasi rata-rata waktu hidup sebesar 38,02 bulan
Penelitian ini berangkat dari tingginya angka kejadian dan kematian akibat kanker, termasuk kanker kandung kemih. Data global menunjukkan terdapat sekitar 614 ribu kasus baru kanker kandung kemih dan lebih dari 220 ribu kematian pada tahun 2022. Di Indonesia, kanker juga menjadi salah satu penyebab utama kematian, sehingga informasi mengenai kondisi dan peluang kelangsungan hidup pasien menjadi penting untuk mendukung upaya penanganan penyakit tidak menular.
Melalui penelitian ini, tim peneliti menggunakan data 80 pasien kanker kandung kemih yang diperoleh dari basis data cBioPortal. Sebagian pasien diketahui mengalami kejadian kematian selama masa pengamatan, sementara sebagian lainnya masih bertahan hingga pengamatan dihentikan. Kondisi seperti ini umum ditemukan dalam penelitian mengenai kelangsungan hidup karena tidak semua pasien dapat diamati sampai mengalami kejadian yang menjadi fokus penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa data waktu kelangsungan hidup pasien dapat digambarkan dengan baik menggunakan pendekatan distribusi eksponensial. Dari analisis yang dilakukan, diperoleh perkiraan rata-rata waktu kelangsungan hidup sebesar 38,02 bulan atau sekitar tiga tahun dua bulan. Penelitian juga memperkirakan bahwa risiko kematian dalam model berada pada angka sekitar 0,026 per bulan.
Temuan tersebut memberikan gambaran awal mengenai pola kelangsungan hidup pasien kanker kandung kemih berdasarkan data yang dianalisis. Namun, angka 38,02 bulan tidak dapat diartikan sebagai batas pasti seseorang dapat bertahan hidup. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda, sementara penelitian ini belum mempertimbangkan sejumlah faktor klinis seperti stadium kanker, jenis pengobatan, dan usia pasien.
Peneliti juga menemukan bahwa perkiraan rata-rata waktu kelangsungan hidup tersebut memiliki rentang ketidakpastian yang cukup lebar, yaitu sekitar 29,35 hingga 51,56 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian perlu dipahami secara hati-hati dan lebih tepat digunakan sebagai gambaran umum pada kelompok pasien yang diteliti, bukan sebagai prediksi kondisi setiap individu.
Penelitian ini sekaligus menunjukkan bagaimana statistika dapat digunakan untuk membantu memahami persoalan kesehatan masyarakat. Dengan pengembangan penelitian lebih lanjut, termasuk penggunaan jumlah data yang lebih besar dan mempertimbangkan karakteristik klinis pasien, analisis serupa berpotensi memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai kelangsungan hidup pasien kanker kandung kemih.
Penelitian ini menunjukkan bahwa statistika dapat berperan dalam memberikan gambaran mengenai kelangsungan hidup pasien kanker kandung kemih. Perkiraan rata-rata waktu kelangsungan hidup sebesar 38,02 bulan menjadi informasi awal yang dapat membantu memahami kondisi pasien secara lebih luas, meskipun hasil tersebut belum dapat digunakan untuk memprediksi kondisi setiap pasien secara individual. Ke depan, penelitian dengan data yang lebih besar serta mempertimbangkan stadium kanker, usia, dan jenis pengobatan diperlukan agar informasi mengenai harapan hidup pasien dapat menjadi lebih spesifik dan mendukung pengambilan keputusan kesehatan yang lebih tepat.
Penulis: Idrus Syahzaqi, Ardi Kurniawan, Nazwa Salsabila, Dinar Rahma Fauzia, dan Diah Ayu Nofitasari
Link: https://pcijournal.org/index.php/jmscowa/article/view/1600/1122







