Universitas Airlangga Official Website

Mengetahui Kondisi Stress Ikan Kerapu Cantang dari Lendir  pada Kulitnya

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Perubahan salinitas bukan sekadar persoalan air menjadi lebih asin atau lebih tawar. Bagi ikan, perubahan mendadak dapat menjadi tekanan fisiologis yang serius. Kini, pengamatan lendir kulit menawarkan cara yang lebih sederhana dan minim cedera untuk mendeteksi stres pada kerapu cantang. Di balik pertumbuhan cepat dan nilai ekonominya yang tinggi, kerapu cantang menyimpan satu persoalan penting dalam kegiatan budidaya: stres akibat perubahan lingkungan.

Kerapu cantang merupakan ikan hibrida hasil persilangan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) betina dan kerapu kertang (Epinephelus lanceolatus) jantan. Ikan ini menjadi salah satu komoditas penting dalam budidaya kerapu di Indonesia karena memiliki pertumbuhan yang cepat dan nilai jual yang tinggi. Namun, keunggulan tersebut tidak membuatnya sepenuhnya bebas dari tekanan lingkungan, terutama ketika terjadi perubahan salinitas secara tiba-tiba.

Ketika air berubah, tubuh ikan ikut bereaksi

Salinitas adalah salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan kehidupan ikan. Perubahan kadar garam air akan memengaruhi kemampuan ikan mempertahankan keseimbangan air dan ion di dalam tubuh atau yang dikenal sebagai osmoregulasi. Dalam kondisi budidaya, perubahan salinitas dapat terjadi karena berbagai sebab. Misalnya ketika ikan dipindahkan dari satu sistem pemeliharaan ke sistem lainnya, saat pergantian air, selama transportasi, atau setelah hujan deras yang menyebabkan air menjadi lebih tawar.

Masalahnya bukan hanya pada angka salinitas, tetapi juga seberapa cepat perubahan itu terjadi.

Kerapu cantang memang memiliki kemampuan adaptasi terhadap rentang salinitas yang relatif luas. Namun, perubahan yang berlangsung secara mendadak tetap dapat memicu respons stres fisiologis. Kondisi salinitas sekitar 32–33 ppt dilaporkan sebagai kondisi yang mendukung pertumbuhan dan pemanfaatan pakan secara optimal. Karena itu, dalam penelitian ini 32 ppt digunakan sebagai kondisi kontrol, sementara 28 ppt mewakili kondisi lebih rendah dan 36 ppt kondisi lebih tinggi.

Bagaimana mengetahui ikan sedang stres?

Ikan tentu tidak dapat mengatakan kepada pembudidaya bahwa dirinya sedang mengalami tekanan. Karena itu, para peneliti membutuhkan “bahasa tubuh” yang dapat diukur secara ilmiah. Salah satu indikator penting adalah kortisol, hormon yang meningkat ketika ikan menghadapi stres. Selama ini, pengukuran kortisol pada ikan banyak dilakukan melalui darah. Metode ini memang efektif, tetapi pengambilan darah bersifat invasif. Prosesnya membutuhkan penanganan ikan dan bahkan dapat menimbulkan stres tambahan. Selain itu, pengambilan darah tidak selalu praktis dilakukan dalam kegiatan budidaya sehari-hari.

Di sinilah para peneliti melihat sesuatu yang menarik: lendir atau mucus yang menyelimuti kulit ikan. Lendir ikan bukan sekadar lapisan licin yang membuat ikan sulit ditangkap. Ia merupakan bagian penting dari sistem pertahanan tubuh terhadap lingkungan. Menariknya, lendir tersebut juga mengandung kortisol yang dapat dimanfaatkan sebagai indikator kondisi fisiologis ikan. Pengambilannya dapat dilakukan dengan cara yang jauh lebih sederhana dan minim cedera dibandingkan pengambilan darah.

252 ekor kerapu cantang menjadi bagian dari penelitian

Untuk menguji gagasan tersebut, penelitian dilakukan terhadap 252 ekor kerapu cantang berukuran sekitar 7–9 cm dengan bobot sekitar 20 gram.

Ikan dibagi ke dalam tiga kondisi salinitas:

28 ppt – salinitas rendah,

32 ppt – kondisi kontrol,

36 ppt – salinitas tinggi.

Ikan kemudian diamati selama 24 jam. Pengukuran dilakukan pada 0; 0,5; 1; 2; 4; 8; dan 24 jam. Para peneliti tidak hanya mengukur kortisol dalam lendir dan darah, tetapi juga mengukur glukosa darah serta frekuensi gerakan operkulum, yaitu gerakan tutup insang yang dapat menggambarkan perubahan kebutuhan respirasi ikan. Hasilnya cukup jelas: semakin tidak sesuai kondisi salinitas, semakin kuat tanda-tanda stres yang muncul pada ikan. 36 ppt ternyata menjadi kondisi paling menekan

Dari ketiga perlakuan, salinitas 36 ppt menghasilkan respons stres paling kuat.

Pada awal pengamatan, kadar kortisol dalam lendir ikan pada 36 ppt sudah mencapai sekitar 5,17 ng/mL. Setelah 24 jam, angkanya meningkat menjadi 21,44 ng/mL. Pola serupa terjadi pada kortisol darah. Pada 24 jam, kadar kortisol darah pada ikan yang dipelihara pada 36 ppt mencapai sekitar 210,14 ng/mL, jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi kontrol 32 ppt.

Ini menunjukkan bahwa lingkungan dengan salinitas terlalu tinggi memberikan beban fisiologis yang besar bagi kerapu cantang. Dalam kondisi hipersalin, ikan harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan ion dan cairan tubuh. Energi yang seharusnya dapat digunakan untuk pertumbuhan dan fungsi tubuh lainnya akhirnya dialihkan untuk menghadapi tekanan lingkungan.

Sebaliknya, kondisi 28 ppt menghasilkan respons yang relatif lebih moderat. Peningkatan kortisol memang terjadi, tetapi responsnya tidak sekuat pada 36 ppt. Temuan ini mengindikasikan bahwa kerapu cantang memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menghadapi penurunan salinitas secara moderat.

Ikan yang stres juga mengalami perubahan metabolisme

Cerita stres pada kerapu cantang ternyata tidak berhenti pada kortisol. Glukosa darah juga meningkat ketika ikan menghadapi perubahan salinitas. Pada 24 jam, kadar glukosa mencapai sekitar 124,50 mg/dL pada 28 ppt dan 140,67 mg/dL pada 36 ppt, sedangkan pada kondisi kontrol 32 ppt hanya sekitar 58,50 mg/dL. Mengapa glukosa meningkat? Ketika mengalami stres, tubuh ikan membutuhkan energi tambahan untuk menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan. Kortisol berperan dalam mendorong penyediaan energi tersebut, salah satunya melalui peningkatan glukosa darah. Menariknya, hubungan antara kortisol darah dan glukosa juga sangat kuat. Pada perlakuan 36 ppt, misalnya, nilai korelasinya mencapai R = 0,959 (p < 0,001). Artinya, ketika respons stres meningkat, perubahan metabolisme ikan juga ikut terlihat.

Napas ikan menjadi lebih cepat

Ada indikator lain yang dapat dilihat bahkan tanpa alat laboratorium rumit: gerakan operkulum atau tutup insang. Ikan pada kondisi kontrol 32 ppt mempertahankan gerakan operkulum yang relatif stabil dan lebih rendah. Sebaliknya, ikan pada 28 dan 36 ppt menunjukkan peningkatan gerakan operkulum selama periode pengamatan. Pada 24 jam, frekuensi gerakan operkulum mencapai sekitar 3.370 kali per jam pada 28 ppt dan 3.555 kali per jam pada 36 ppt, sementara kelompok kontrol hanya sekitar 2.075 kali per jam. Gerakan insang yang semakin cepat menunjukkan bahwa ikan menghadapi peningkatan kebutuhan fisiologis, termasuk kebutuhan oksigen dan energi untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.

Dengan demikian, tiga “bahasa tubuh” ikan—kortisol, glukosa darah, dan gerakan operkulum—memberikan pesan yang sama: perubahan salinitas mendadak dapat membuat kerapu cantang mengalami stres.

Temuan paling menarik justru datang dari lender. Lalu, apakah lendir kulit benar-benar dapat menggantikan darah? Hasil penelitian memberikan jawaban yang menjanjikan. Kadar kortisol dalam lendir memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kortisol dalam darah. Pada salinitas 28 ppt, korelasinya mencapai R = 0,868; pada 32 ppt R = 0,851; dan pada 36 ppt mencapai R = 0,997 dengan nilai p < 0,001. Nilai R = 0,997 pada salinitas 36 ppt menunjukkan hubungan yang hampir sempurna antara kortisol lendir dan kortisol darah.

Memang, kadar kortisol dalam lendir jauh lebih rendah dibandingkan darah—sekitar sepuluh kali lebih rendah. Namun, yang penting bukan sekadar tinggi-rendahnya angka, melainkan pola perubahan yang mengikuti respons stres ikan. Dengan kata lain, lendir dapat berfungsi seperti “jendela” untuk mengintip kondisi fisiologis ikan tanpa harus mengambil darahnya.

Dari laboratorium menuju kolam budidaya

Temuan ini memiliki arti penting bagi dunia akuakultur.Bayangkan seorang pembudidaya ingin mengetahui apakah ikan mengalami stres setelah transportasi atau setelah terjadi perubahan kualitas air. Selama ini, pemeriksaan darah membutuhkan keterampilan teknis, alat, dan tentu saja penanganan ikan.Penggunaan kortisol dalam lendir berpotensi memberikan alternatif yang lebih sederhana. Lendir dapat dikumpulkan dengan cara yang relatif minim cedera sehingga memungkinkan pemantauan stres dengan dampak yang lebih kecil terhadap kesejahteraan ikan.

Teknologi ini juga membuka peluang untuk melakukan pemantauan stres secara berkala. Bagi pembudidaya, informasi tersebut dapat menjadi peringatan dini sebelum stres berkembang menjadi gangguan kesehatan, pertumbuhan yang buruk, atau bahkan kematian. Namun, hasil penelitian ini tidak berarti bahwa setiap perubahan salinitas harus dianggap berbahaya. Kerapu cantang menunjukkan kemampuan adaptasi yang cukup baik terhadap penurunan salinitas moderat. Yang perlu menjadi perhatian utama adalah perubahan yang ekstrem dan mendadak, khususnya menuju kondisi hipersalin seperti 36 ppt.

Menjaga ikan berarti menjaga lingkungannya

Penelitian ini memberikan satu pesan sederhana: ikan yang terlihat baik-baik saja belum tentu benar-benar bebas dari stres. Perubahan hormon dan metabolisme dapat terjadi sebelum tanda-tanda gangguan yang lebih jelas terlihat. Karena itu, kemampuan mendeteksi stres secara lebih awal sangat penting dalam budidaya ikan. Pengukuran kortisol dari lendir menawarkan pendekatan yang menarik karena dapat mengurangi kebutuhan terhadap pengambilan darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kortisol lendir memiliki hubungan yang kuat dengan kortisol darah dan mampu mencerminkan respons stres kerapu cantang terhadap perubahan salinitas.

Pada akhirnya, keberhasilan budidaya bukan hanya tentang seberapa cepat ikan tumbuh atau berapa banyak ikan yang dapat dipanen. Kesejahteraan ikan dan kemampuan menjaga lingkungan pemeliharaan tetap sesuai dengan kebutuhan fisiologisnya juga menjadi bagian penting dari budidaya berkelanjutan. Dan mungkin, di masa depan, untuk mengetahui apakah ikan sedang stres, kita tidak lagi harus “melukainya” terlebih dahulu. Cukup melihat apa yang diceritakan oleh lendir di kulitnya.

Oleh: Oleh. Dr. Laksmi Sulmartiwi, S.Pi., M.P.

Sumber:

Sulmartiwi, L., Mahasri, G., Triastuti, R.J., Larasati, A.D., Lutfiyah, L., Budi, D.S., 2026. Non-invasive stress assessment in cantang hybrid grouper (Epinephelus fuscoguttatus f × E. lanceolatus m) exposed to salinity variations using blood and mucus cortisol. J. Fish Biol. 1–10. https://doi.org/10.1111/jfb.70512