Ketika bencana besar terjadi—seperti kecelakaan pesawat, gempa bumi, atau ledakan—tim forensik sering dihadapkan pada tugas yang menantang yaitu mengidentifikasi korban dari tubuh yang tidak lagi utuh. Bagi keluarga, kepastian identitas adalah bagian penting dari proses berduka. Sementara bagi negara, identifikasi korban merupakan bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Salah satu langkah awal dalam identifikasi forensik adalah menentukan jenis kelamin. Informasi ini membantu mempersempit pencarian identitas sehingga proses berikutnya menjadi lebih terarah. Namun, bagaimana jika bagian tubuh yang biasanya digunakan untuk menentukan jenis kelamin, seperti tulang panggul atau tengkorak, sudah rusak atau tidak ditemukan? Dalam situasi demikian, mandibula dapat menjadi alternatif yang bermanfaat.
Mandibula merupakan tulang wajah terbesar dan terkuat, yang membentuk bagian bawah wajah dan berfungsi sebagai tempat melekatnya otot-otot pengunyahan. Ketahanannya terhadap panas, trauma, dan proses pembusukan membuat mandibula lebih sering bertahan dibandingkan bagian tulang lainnya. Hal inilah yang menjadikan mandibula sebagai salah satu sumber informasi penting dalam proses identifikasi. Pendekatan sederhana yang digunakan yaitu dengan mengamati ciri-ciri bentuk atau morfologi mandibula tanpa melakukan pengukuran rumit. Pendekatan ini dikenal sebagai analisis nonmetrik.
Penelitian yang dilakukan oleh tim Universitas Airlangga bertujuan mengevaluasi karakteristik morfologi mandibula sebagai pendekatan awal dalam penentuan jenis kelamin pada populasi Indonesia. Penelitian ini menggunakan 49 mandibula kering individu dewasa yang telah diketahui jenis kelaminnya, terdiri atas 30 laki-laki dan 19 perempuan. Sebanyak delapan karakteristik mandibula diamati, yang meliputi bentuk dagu, profil dagu, bentuk dan profil ramus mandibula (bagian vertikal rahang), adanya lengkungan (flexura) pada tepi belakang ramus mandibula, arah sudut gonial, tanda perlekatan otot, serta keberadaan lekukan antegonial.
Menariknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua karakteristik menunjukkan perbedaan yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Terdapat empat karakteristik yang memiliki perbedaan bermakna antara laki-laki dan perempuan. Bentuk dagu tipe bilobus —yaitu dagu yang tampak memiliki dua tonjolan halus—hanya ditemukan pada laki-laki. Sebaliknya, perempuan lebih sering memiliki dagu yang meruncing atau berbentuk persegi. Sebagian besar mandibula laki-laki juga menunjukkan adanya flexura pada tepi posterior mandibula (83,3%) dan tanda perlekatan otott yang lebih kasar atau menonjol (83,3%). Selain itu, sudut gonial lebih sering dijumpai melebar ke arah luar (everted) pada laki – laki (76,7%), sementara pada perempuan cenderung mengarah ke dalam (inverted).
Mengapa perbedaan ini bisa terjadi?
Perbedaan tersebut merupakan bagian dari fenomena yang disebut dimorfisme seksual, yaitu variasi bentuk tubuh antara laki-laki dan perempuan. Faktor hormon, pola pertumbuhan, serta besarnya beban mekanis akibat aktivitas otot selama masa perkembangan berkontribusi membentuk karakteristik tulang yang berbeda. Otot pengunyahan yang lebih kuat pada laki-laki, misalnya, dapat merangsang pembentukan tulang yang lebih tegas pada area tertentu.
Ketika keempat ciri tersebut dianalisis secara bersamaan, hasilnya cukup menjanjikan. Metode ini mampu memprediksi jenis kelamin dengan tingkat ketepatan sekitar 83,7%. Artinya, dari setiap sepuluh mandibula yang diperiksa, sekitar delapan di antaranya dapat diklasifikasikan dengan benar.
Temuan ini memiliki arti penting bagi Indonesia. Banyak standar identifikasi forensik yang selama ini digunakan berasal dari penelitian pada populasi negara lain. Padahal, bentuk tulang manusia dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, pola makan, dan kebiasaan hidup yang berbeda pada setiap populasi. Oleh karena itu, pengembangan data spesifik populasi Indonesia sangat dibutuhkan agar proses identifikasi menjadi lebih akurat.
Meskipun demikian, analisis morfologi mandibula sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar penentuan jenis kelamin. Metode ini sebaiknya digunakan sebagai langkah awal atau alat penyaring, kemudian dikombinasikan dengan pendekatan lain seperti pengukuran tulang, pemeriksaan radiologi, maupun analisis DNA tetap diperlukan untuk meningkatkan akurasi identifikasi.
Penulis: Lucky Prasetiowati, dr., M.Biomed
Sumber: Prasetiowati, L., Sakina, S., & Dewi, R. K. (2026). Morphological analysis of dry adult mandible as an initial approach in sex determination. Reports of Morphology, 32(1), 71–78. https://doi.org/10.31393/morphology-journal-2026-32(1)-10





