UNAIR NEWS – Generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan sehat dan bebas rokok. Hal ini menjadi topik utama dalam kegiatan Youth Forum pada Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Sriwijaya Hall, Lt 6 ASEEC Tower, Kampus B Dharmawangsa-B, Universitas Airlangga (UNAIR).
Kegiatan tersebut menghadirkan sesi TC Talks berupa sharing session bersama pembicara inspiratif. Mereka adalah dr Kevin Almas Maromi, Ni Luh Rara, dan Manik Marganamahendra. Pada sesi ini membahas tren rokok dan vape di kalangan anak muda serta upaya untuk menghindari hal tersebut demi menjaga kesehatan diri.
Tren Generasi Muda
Kevin menjelaskan bahwa tren olahraga semakin berkembang di Indonesia, hal ini menjadi langkah awal hidup sehat. “Sekarang tren tentang lari dan sepeda di Indonesia meningkat. Harapannya, tren ini bisa mengubah gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat dan perlahan meninggalkan kebiasaan merokok,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa rokok maupun vape sama-sama memiliki dampak buruk bagi kesehatan meskipun memiliki tampilan yang berbeda. “Rokok dan vape sama-sama buruk. Isinya sebenarnya mirip, hanya kemasan dan tampilannya saja yang berbeda. Karena dikemas lebih modern, banyak anak muda yang menganggap vape lebih aman,” jelasnya.
Rara menyoroti penggunaan vape kini bukan sekedar alternatif rokok, namun juga bagian dari gaya hidup akibat pengaruh lingkungan dan media sosial. “Banyak remaja menggunakan vape karena ingin diterima di pergaulan dan menjaga eksistensi diri. Akhirnya perilaku itu dianggap normal, padahal tetap berbahaya bagi kesehatan,” ungkapnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk mulai menerapkan gaya hidup sehat dari diri sendiri. “Cara menciptakan lingkungan sehat dimulai dari diri sendiri, seperti berani menolak merokok, menerapkan pola hidup sehat, dan ikut kegiatan yang meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan,” ucapnya.
Strategi Promosi Industri Rokok
Sementara itu, Manik mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang memperbolehkan iklan, promosi, dan sponsorship rokok. Ia mengatakan strategi promosi tersebut diterapkan melalui kegiatan olahraga maupun bantuan pendidikan.
“Perusahaan rokok sering menggunakan strategi pemasaran yang menargetkan anak muda, salah satunya melalui dukungan beasiswa pendidikan. Langkah tersebut menjadi upaya untuk membangun citra baik sekaligus menarik pasar generasi muda secara berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah sebenarnya telah membuat regulasi, seperti larangan iklan rokok di sekitar sekolah dan larangan promosi rokok di media sosial. Namun, implementasi aturan tersebut dinilai masih belum maksimal.
Di akhir sesi, para pembicara menekankan tantangan terbesar bagi generasi muda untuk menjauhi rokok berasal dari lingkungan yang masih menganggap merokok sebagai hal yang wajar. Oleh sebab itu, generasi muda perlu mengikuti kegiatan positif untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan.
Penulis : Maulya Afifah Zahra
Editor : Khefti Al Mawalia





