Universitas Airlangga Official Website

Menilik Perkembangan Hukum Olahraga di Indonesia

Ilustrasi PSSI. (Foto: PSSI Jawa Timur)
lex sportiva

UNAIR NEWS – Sepak bola adalah cabang olahraga paling termasyhur di Indonesia. Namun, olahraga sendiri sebenarnya dilingkupi sebuah aturan hukum yang pasti. Bahkan, hukum olahraga (lex sportiva) pun merupakan bahasan yang menarik, namun jarang diminati.

Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR) turut membantu memelopori pembahasan hukum olahraga. Utamanya dalam olahraga sepak bola, melalui topik tugas akhir para mahasiswanya.  Salah satunya, yaitu Danial Akta Futaki, alumni Magister Kenotariatan FH UNAIR.

Selain menulis skripsi tentang hukum olahraga, ia pun menulis tesis mengenai topik hukum perusahaan yang dikombinasikan dengan hukum olahraga. Bahasan utamanya tentang pencegahan kepemilikan saham silang oleh klub sepak bola.

Tidak Ada Integrasi Hukum Nasional dengan Aturan Internal Klub

Danial menuturkan di Indonesia belum ada integrasi pengaturan hukum nasional dan internal PSSI yang utuh mengenai pencegahan yang tegas terkait kepemilikan saham silang di antara klub dalam satu kompetisi yang sama. Tetapi, FIFA sebagai federasi sepak bola dunia melarang adanya kepemilikan saham silang.

“Misalnya, satu klub dalam satu liga yang sama dimiliki oleh beberapa orang/badan hukum yang sama, maka tidak mengindahkan asas sportivitas dan asas fair play yang seharusnya ada dalam hukum olahraga. Ada kekosongan hukum di sini, karena aturan internal dalam PSSI sebagai federasi tertinggi tidak mengatur dan tidak diintegrasi dengan hukum nasional secara penuh dan tegas oleh PSSI sebagai induk perkumpulan yang membawahi klub sebagai anggota,” ujar Danial.

Tesisnya yang berjudul “Pencegahan Kepemilikan Saham Silang pada Klub Sepak Bola Berbentuk Perseroan Terbatas oleh PSSI” itu membahas mengenai kepemilikan saham silang sebagai hasil terburuk akibat tidak menerapkan asas sportivitas dan asas fair play.

“Meskipun di Indonesia belum pernah terjadi kasus kepemilikan saham silang yang secara langsung maupun tidak langsung dalam kompetisi sepak bola, tetap harus ada integrasi antara aturan hukum nasional dan hukum olahraga untuk mencegah dan melarangnya karena melanggar asas sportstmanship dan fair play dalam football family,” jelas Danial.

Danial menerangkan praktik kepemilikan saham silang sendiri dilarang dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas (PT) dan klub sepak bola statusnya adalah PT, tetapi antara Undang-Undang PT dan aturan internal PSSI tetap tidak terintegrasi satu sama lain.

“Ada yang kurang kalau tidak ada legal basis-nya karena pembahasan ini berada di luar lapangan hijau (aspek manajerial), jadi tidak bisa disamakan persis dengan larangan kepemilikan saham seperti PT pada umumnya,” ucapnya.

Menilik Perkembangan Hukum Olahraga di Indonesia

Harapan bagi Perkembangan Hukum Olahraga

Tidak hadirnya integrasi dalam aturan internal (Statuta, Keputusan, Regulasi, Instruksi maupun Edaran) PSSI dengan hukum nasional yang mengatur mengenai pencegahan berupa larangan kepemilikan saham silang antara klub sepak bola merupakan tanda bahwa hukum olahraga belum begitu tersentuh oleh masyarakat.

Tesis Danial merupakan babak baru bagi perkembangan lex sportiva di Indonesia, khususnya di FH UNAIR. Kendati pembahasannya masih seputar hukum sepak bola dan belum membahas cabang olahraga lain, tetapi tesisnya dapat menjadi stimulus bagi sivitas akademika FH UNAIR untuk melanjutkan penelitian tentang lex sportiva.

“Saya berharap tesis ini dapat menjadi pintu pembuka pembahasan di FH UNAIR dan menawarkan perspektif baru tentang lex sportiva di UNAIR,” tukasnya. (*)

Penulis : Dewi Yugi Arti

Editor  : Feri Fenoria