Sastra Indonesia kontemporer saat ini mirip dengan banyak tempat di dunia. Sastra remaja tersebar luas dengan kecepatan penuh. Cerita berlatar perkotaan sangat diminati. Novel-novel pop urban ini, meskipun sering dikritik karena menceritakan kembali isu-isu abadi tentang kisah cinta, hubungan laki-laki-perempuan untuk mencari cinta dan impian, tidak hanya tentang cinta dan hubungan. Sangat menarik untuk mengetahui bahwa kisah-kisah ini juga terkait dengan pencarian akan Tuhan. Banyak cerita yang ditulis oleh penulis Muslim Indonesia mencerminkan upaya tersebut. Kisah-kisah ini saya kategorikan sebagai novel populer urban Islam kontemporer Indonesia.
Salah satu penulis wanita Muslim yang menceritakan novel-novel Islam populer adalah Asma Nadia, lahir pada tahun 1972. Dia adalah seorang penulis produktif yang karya-karyanya menjadi pusat novel-novel populer Islam. Di antara karya-karyanya yang terkenal adalah novel berjudul Jilbab Traveler (2012), Assalamualikum, Beijing! (2013), Jilbab Traveler: Percikan Cinta di Korea (2015). Nadia terkenal dengan tulisannya tentang gadis-gadis muda Muslim Indonesia yang harus menyeimbangkan gaya hidup urban yang keren dan menjadi Muslim yang baik: dua hal yang tampaknya bertolak belakang. Nadia tidak sendiri. Beberapa mengikuti jejaknya. Mengejar Cinta Halal (2018) oleh Prima Mutiara dan Kekasih Impian (2019) oleh Wardah Maulina, menceritakan kisah serupa dengan tema Nadia tentang negosiasi antara ketakwaan dan keinginan duniawi: menjadi religius dan menjalani gaya hidup.
Artikel ini bertujuan untuk membahas fiksi urban pop Islam Indonesia yang ditulis oleh penulis wanita Muslim, untuk melihat bagaimana karakter wanita menemukan cara untuk bernegosiasi dan menyeimbangkan konflik antara kesalehan dan profanitas. Novel-novel pop urban Islam seolah-olah merepresentasikan budaya baru kaum muda Islam Indonesia yang lebih terbuka terhadap modernitas, globalisasi, dan budaya pop. Mereka juga berfungsi sebagai imajinasi budaya anak muda Muslim yang keren yang pada kenyataannya dapat dengan mudah terlihat di sebagian besar wilayah perkotaan di Indonesia.
Abad 21 membawa angin segar bagi dunia sastra Indonesia. Banyak penulis baru, terutama penulis perempuan yang muncul dan mereka membawa imajinasi sastra tentang apa yang dirasakan perempuan dan anak perempuan di milenium baru. Meskipun sastra Islam telah terbentuk dalam tradisi sastra Indonesia, novel populer Islami adalah hal baru dan menghadirkan cara baru tentang apa artinya menjadi seorang gadis Muslim di perkotaan kontemporer Indonesia. Menjadi seorang gadis muslim tidak harus berarti terbelakang, buta huruf, dan penurut seperti yang diyakini banyak orang. Sebaliknya di mata penulis seperti Asma Nadia, Prima Mutiara, dan lain-lain, perempuan muda Muslim Indonesia adalah pemberani, urban, modern, terpelajar, dan traveler global. Dan yang terpenting mereka mandiri tanpa liberal karena kemandirian mereka tetap dalam parameter ajaran Islam. Mereka masih tunduk tetapi penyerahan mereka hanya untuk Allah (Tuhan). Para penulis fiksi populer Islami ini menciptakan dan berbagi narasi mereka tentang gadis-gadis Muslim yang mencampurkan dunia duniawi dan kesalehan: keinginan materialistis dan ketundukan agama.
Hijrah adalah simbol penting bagi seorang gadis Muslim karena ia mampu bergerak, dari orang jahat menjadi pribadi yang lebih baik, dari seorang Muslim yang kurang taat menjadi seorang yang saleh. Kemampuan untuk berubah, berhijrah, menunjukkan bahwa kini gadis-gadis Muslim urban di Indonesia ini adaptif dan bergabung dengan saudara-saudara Muslim mereka di tempat lain sebagai anggota ummah yang meyakini bahwa Islam memang rahmatan lil alamin (Islam membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi umat manusia). Seluruh alam semesta termasuk hewan dan lingkungan) yang membawa keadilan dan kebebasan gender terutama bagi perempuan dan anak perempuan yang bebas memutuskan sendiri.
Penulis fiksi pop Islami mengingatkan kita bahwa pemuda terutama perempuan Muslim Indonesia saat ini mengambil jalan yang sama sekali berbeda dari generasi sebelumnya. Dalam tulisan-tulisan mereka, mereka bergema dengan kisah-kisah gadis Muslim yang berada dalam tahap negosiasi yang konstan antara dua dunia yang berlawanan: agama dan duniawi. Mereka menyajikan kepada pembacanya bahwa kohabitasi antara dua dunia itu mungkin dan banyak gadis dalam kehidupan nyata telah melakukan itu. Menjadi Muslim itu menyenangkan karena seseorang dapat menunjukkan identitas agamanya tanpa harus melepaskan gaya hidup populernya yang modern dan mewah. Seorang gadis bisa menjadi gadis yang keren dan bangga menjadi seorang muslim.
Penulis: Diah Ariani Arimbi





