Mentaripun merasa adil membagi 24 putaran jam demi rembulan dan bintang-bintang
Mereka tak berebut menang di altar langit, justru penuh serasi
Lihatlah tatkala mentari menyinari dan bukan membakar seisi bumi
Dia juga berganti, menumbuhkan malam, dan rembulan setia memantulkan remang cahayanya
Bintang-bintang yang menggantungpun berpedaran bagai bulu domba yang kerlip-kemerlip
Sementara di bumi yang sama, di belahan yang berbeda siang berdedang dengan kerumun keramaian, di situ pula malam sunyi tersaji menyenyakkan
Inilah sandiwara tanpa perlu tawa, tatkala kebenaran siang di bantah dengan gulitanya malam
Begitupun mentari, ia hanya secuil cahaya dari ribuan cahaya bintang-bintang di angkasa
Maka bulanpun takdzim bertawaf mengitari bumi, dan bintang-bintang bersama mentari beredar patuh mengitari galaksi dalam dzikir bisunya
Begitulah terus mengalir pedar Cahaya-Nya memantul menerangi jagad raya, merasuk dalam jiwa-jiwa manusia untuk menghalau tabir gelapnya
Penulis: Risang Kusuma Putra
*)Pembelajar yang tinggal di risangkusumaputra@gmail.com





