Universitas Airlangga Official Website

Menumbuhkan Toleransi, Memupuk Lingkungan Inklusif

Ilustrasi by BeritaSatu

Manusia lahir dengan beragam latar belakang: kondisi fisik, suku, agama, budaya, bahkan sudut pandang yang berbeda. Keberagaman ini seharusnya menjadi kekayaan dunia yang tak ternilai. Namun, ironisnya, justru perbedaan itu sering kali menjadi pemicu perpecahan. Kita sering menyaksikan konflik karena agama, diskriminasi terhadap ras tertentu, bahkan perpecahan antar golongan yang berawal dari ketidakmampuan untuk menerima perbedaan. Padahal, jika saja setiap orang menanamkan sikap toleran, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman.

Setiap tanggal 16 November, dunia memperingati Hari Toleransi Internasional. Peringatan ini ditetapkan oleh UNESCO sejak 1996 sebagai bentuk komitmen global untuk melawan intoleransi dan diskriminasi. Tapi, peringatan ini bukan sekadar kampanye menggaung-gaungkan toleransi di media sosial. Momen ini seharusnya menjadi waktu untuk refleksi diri. Apakah kita hanya menuntut orang lain untuk menghargai, sementara kita sendiri masih menghakimi mereka yang berbeda? Apakah kita sungguh mengasihi mereka yang berbeda dengan sepenuh hati?

Sejatinya, toleransi adalah kesediaan hati untuk menyediakan ruang bagi perbedaan agar bisa hidup berdampingan. Ia tumbuh dari prinsip bahwa semua orang berhak dihargai dan mendapat kesempatan yang setara. Ketika seseorang memiliki sikap toleran, artinya ia mendukung lingkungan yang inklusi dan menghormati hak asasi setiap manusia. Dunia yang toleran bukan dunia yang seragam, tetapi dunia yang saling menerima dan menghargai.

Namun, tak bisa dipungkiri, intoleransi masih menjadi ancaman besar di berbagai belahan dunia. Sejarah mencatat betapa banyak tragedi kemanusiaan terjadi karena sikap tidak mampu menghargai perbedaan. Diskriminasi ras, konflik agama, bahkan genosida. Banyak konflik global yang berakar dari sikap intoleransi. Ketika manusia berhenti melihat sesamanya sebagai manusia, yang tersisa hanyalah kebencian dan kehancuran. Karena itulah, satu-satunya jalan untuk melawan intoleransi bukan dengan menolak perbedaan, melainkan dengan belajar hidup di dalamnya.

Hidup di lingkungan yang heterogen adalah kesempatan emas untuk menjadi manusia toleran. Dalam keberagaman, kita diajak memahami cara berpikir yang berbeda. Kita belajar melihat suatu persoalan dari banyak sudut pandang, memperluas empati, dan melatih kemampuan menahan ego. Keberagaman mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa diseragamkan, tapi perbedaan justru bisa saling melengkapi. Dunia menjadi lebih kaya karena banyaknya warna, bukan karena satu warna yang mendominasi.

Sayangnya, toleransi tidak bisa tumbuh hanya dari teori semata. Ia harus dilatih lewat kebiasaan sehari-hari. Mulai dari hal-hal kecil seperti menahan komentar yang merendahkan, mendengarkan pendapat orang lain, atau menghormati ruang ibadah dan keyakinan yang berbeda. Setiap tindakan sederhana itu adalah pupuk bagi tumbuhnya rasa saling menghargai. Semakin sering dilakukan, semakin subur pula nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Dalam skala global, pentingnya toleransi bahkan diakui dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-10 tentang pengurangan ketimpangan. Dunia sepakat bahwa tanpa toleransi, perdamaian dan keadilan sosial hanyalah mimpi semata. Tapi tanggung jawab ini tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pihak-pihak tertentu. Perubahan besar harus dimulai dari kesadaran individu, dari ruang-ruang kecil di sekitar kita. Satu langkah kecil sangat berarti bagi perubahan dunia ini.

Menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Airlangga adalah bentuk pengimplementasian toleransi, sekaligus penciptaan lingkungan yang inklusif. Belajar, berdiskusi, dan berjuang bersama untuk mengharumkan almamater. Tidak hanya pintar secara akademik, tapi juga dapat mengenal keheterogenan di masyarakat. Melalui Unair, toleransi bukan sekadar teori, melainkan aksi sehari-hari. 

Momen Hari Toleransi Internasional seharusnya tidak berlalu begitu saja. Ini adalah panggilan bagi setiap orang untuk menyalakan kembali semangat kemanusiaan. Jadilah orang yang menyebarkan kedamaian, bukan kebencian. Jangan lelah untuk menyuarakan ketidakadilan, jangan jenuh untuk membela mereka yang haknya dirampas.

Kita sama-sama manusia. Toleransi adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Ia menunjukkan bahwa kita mampu menahan ego dan memberi tempat bagi orang lain untuk tumbuh. Maka, di Hari Toleransi Internasional ini, marilah berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perdebatan dan mulai membuka hati. Karena dunia tidak butuh banyak orang yang ahli mendebat, tapi lebih banyak orang yang mau memahami.

Penulis: William Suryo Goey (Mahasiswa Program Studi Statistika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga)