Universitas Airlangga Official Website

Merkuri Klorida Menyebabkan Kerusakan Ginjal Mencit

Pencemaran air oleh logam berat pada air laut dan sungai akan menyebabkan kontaminasi pada binatang-binatang air seperti ikan, udang, cumi-cumi, kerang, kupang, dll.  Logam yang terserap ke dalam tubuh ikan terdistribusi ke dalam semua otot tubuh hewan, seperti misalnya metil merkuri, garam merkuri, dsb.            Sumber pencemaran terbesar adalah limbah logam buangan industri.  Merkuri banyak dihasilkan dari industri-industri seperti industri baterai, termometer, dan barometer.  Merkuri dapat juga ditemukan dalam fungisida yang dipakai dalam industri pertanian.  Sebelum tahun 1990, merkuri banyak digunakan sebagai antijamur pada industri cat.  Dalam bidang kesehatan, merkuri juga digunakan sebagai bahan pengawet vaksin. Kandungan zat-zat dalam berbagai organisme berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor, yaitu jenis organisme, umur, ketersediaan bahan-bahan nutrisi dan kondisi lingkungan tempat hidupnya

Kupang adalah sejenis kerang kecil kupang beras (Corbula faba) yang merupakan hewan laut golongan molusca yang hidup secara bergerombol.  Kupang sangat digemari masyarakat Jawa Timur Indonesia, khususnya daerah Pantai Utara.  Kupang diolah menjadi pepes, petis, lontong kupang, dsb. Perairan sungai Surabaya telah mengandung logam-logam berat diatas ambang normal, maka patut diduga kupang yang hidup didaerah tersebut kemungkinan berbahaya untuk dikonsumsi masyarakat. Penelitian pencemaran merkuri pada kupang beras (Corbula faba) asal Pantai Kenjeran Surabaya, yang dilakukan oleh Handajani dan Budiono (2000), menunjukkan kandungan merkuri (Hg) dalam kupang sebesar 0.6418 ppm.  Angka tersebut melebihi batas minimum kadar merkuri (Hg) dalam makanan yang ditetapkan WHO/ FAO yaitu sebesar 0.5 ppm.

Pencemaran air, terutama pencemaran merkuri (Hg) mengakibatkan akumulasi merkuri (Hg) pada biota laut melalui rantai makanan.  Bila ikan yang telah terpapar merkuri dikonsumsi masyarakat, maka akan sangat membahayakan bagi kesehatan.  Mekanisme detoksifikasi dapat mengakibatkan penyimpanan logam pada tempat yang tidak aktif didalam tubuh makhluk hidup untuk sementara atau lebih permanen.Kejadian keracunan merkuri (Hg) pernah terjadi pada tahun 1972, sebanyak 6500 anak di Iraq mengalami gangguan perkembangan syaraf dan 459 orang meninggal dunia, akibat keracunan metil merkuri.  Kemudian di Minamata, Jepang, sebanyak 121 orang meninggal dunia, 9000 orang mengalami paralisis dan kerusakan otak, dan 50.000 orang mengalami gangguan kesehatan ringan, setelah mengkonsumsi seafood yang tercemar metil merkuri.  Di Amerika, pada tahun 1996, keracunan merkuri terjadi yang disebabkan oleh produk kosmetika pemutih.

Merkuri anorganik dapat menyebabkan toksisitas akut, yaitu warna mulut keabu-abuan pada hewan coba mencit disertai nyeri hebat, muntah, stomatitis, dan iritasi ginggiva.  Merkuri diabsorbsi dari sistem pencernaan atau kulit dan terdistribusi ke semua jaringan tubuh dan sebagian besar di hati, ginjal, kandung empedu, otak dan tulang. Penting untuk mengetahui akibat dari mengkonsumsi makanan yang mengandung merkuri (Hg) yang menyebabkan kerusakan organ tubuh secara permanen.  Keracunan merkuri kadang tidak bersifat akut, namun dapat terakumulasi dalam tubuh dan menimbulkan kerusakan organ secara perlahan-lahan meski tidak menunjukkan tanda-tanda klinis yang jelas. Bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh merkuri (Hg) yang terkandung dalam makanan, maka usaha penelitian tentang pengaruh merkuri tersebut pada hewan coba merupakan usaha yang akan bermanfaat untuk memberikan informasi kepada masyarakat, dengan memberikan merkuri dosis yang terkandung dalam kupang beras (Corbula faba) asal Pantai Kenjeran Surabaya Indonesia dengan interval pemberian yang berbeda pada mencit (Mus musculus).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian merkuri klorida (HgCl2) dengan dosis yang terkandung dalam kupang beras (Corbula faba) asal pantai Kenjeran Surabaya Indonesia dengan interval pemberian yang berbeda terhadap kerusakan ginjal mencit. Dalam penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit jantan strain CBR berumur tiga bulan yang dibagi acak menjadi empat kelompok masing-masing terdiri dari enam ulangan.  Kontrol P0 (tanpa diberi merkuri), kelompok P1 (pemberian merkuri satu hari sekali), kelompok P2 (pemberian merkuri dua hari sekali), kelompok P3 (pemberian merkuri tiga hari sekali).  Pemberian merkuri dilakuan secara per oral selama 52 hari.  Analisis data menggunakan uji statistika non parametrik Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Z dengan taraf signifikan 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kerusakan ginjal (p<0.05). Pemberian merkuri klorida (HgCl2) dengan dosis 0.6418 ppm dengan interval pemberian yang berbeda memberikan kerusakan ginjal berupa perdarahan interstitial, degenerasi tubulus kontortus proksimal, degenerasi tubulus kontortus distal serta glomerulonephritis. Pemberian merkuri tiga kali/hari (P3) memberikan kerusakan ginjal tertinggi yang tidak berbeda nyata dengan kelompok merkuri dua kali/hari (P2), sedang pemberian merkuri satu/hari (P1) tidak berbeda nyata dengan control (P0).

Penulis: Epy Muhammad Luqman

Publikasi di jurnal: The effects of mercury chloride (HgCl2) administration with different intervals on kidney damage in mice (Mus Musculus)