Peradangan/inflamasi kronis telah dipahami menjadi salah satu faktor terbentuknya sel kanker. Mekanismenya melibatkan pelepasan mediator inflamasi seperti sitokin dan kemokin, serta molekul radikal bebas oleh sel-sel inflamasi. Protein dan molekul ini mampu merusak DNA dan mengubah jalur persinyalan NF-κB dan STAT3, yang secara keseluruhan memengaruhi pertumbuhan dan penyebaran tumor.
Rosmari (Rosmarinus officinalis) adalah tanaman yang berasal dari kawasan Mediterania yang umum digunakan sebagai bumbu masak dan obat herbal. Daunnya kaya akan flavonoid, senyawa polifenol, minyak atsiri, dan terpenoid. Dari berbagai jenis senyawa di dalamnya, asam karsonat dan asam rosmarinat yang masih tergolong senyawa polifenol telah banyak dipelajari karena khasiatnya dalam menetralkan radikal bebas dan menyembuhkan stres oksidatif. Stres oksidatif adalah kondisi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh yang menjadi pendorong terjadinya kanker dan penyakit degeneratif saraf.
Aktivitas antiinflamasi rosmari telah banyak diteliti. Senyawa seperti karnosol dan asam rosmarinat menekan produksi sitokin dan enzim yang mendukung proses inflamasi. Hal ini menjadikan senyawa tersebut mampu mencegah kerusakan jaringan yang disebabkan oleh kondisi inflamasi kronis. Sementara itu, ekstrak dan minyak atsiri yang didapatkan dari rosmari menunjukkan khasiat antikanker terhadap sel kanker prostat, usus besar, dan payudara. Selain karena aktivitasnya, penemuan ini signifikan karena tingkat toksisitas ekstrak dan minyak atsiri rosmari terhadap sel sehat sangat rendah, yang mendukung aplikasinya sebagai terapi pendukung dalam perawatan kanker.
Untuk mempelajari aktivitas antiinflamasi dan antikanker rosmari lebih lanjut, Assaggaf et al. (2025) melakukan studi komputasi (in silico) dan penelitian pada sel (in vitro) terhadap minyak atsiri dari seluruh bagian tanaman rosmari kecuali akar. Sebelum itu, peneliti ini juga melakukan karakterisasi senyawa dalam minyak atsiri dengan analisis kromatografi gas tandem spektroskopi massa (GC-MS).
Analisis GC-MS menunjukkan bahwa minyak atsiri rosmari didominasi oleh senyawa monoterpen, seperti 1,8-cineole (37%), α-pinene (18%), dan kamfor (13%). Seskuiterpen juga ditemui dalam jumlah yang lebih kecil, seperti β-caryophyllene (7%). Profil senyawa kimia ini hampir mirip dengan minyak atsiri dari rosmari yang didapat dari Maroko, Afrika Utara. Komposisi kandungan di atas dikenal luas akan khasiat antiinflamasi dan antikankernya. Rosmari dari wilayah Mesir dan Eropa memiliki profil senyawa berbeda yang menunjukkan bagaimana geografi, iklim, dan kondisi tanah memengaruhi proses biosintesis dan jumlah senyawa yang dihasilkan.
Penelitian ini mengonfirmasi temuan komputasi yang bersifat prediktif menggunakan pengujian terhadap sel. Hasil uji MTT menunjukkan toksisitas minyak atsiri rosmari terhadap sel kanker payudara dengan konsentrasi hambatan (IC50) yang jauh lebih rendah daripada cisplatin. Hal ini menunjukkan efektivitas minyak atsiri yang lebih tinggi daripada obat kemoterapi standar. Ditambah, minyak atsiri rosmari memiliki selektivitas yang tinggi, menunjukkan bahwa minyak tersebut menargetkan sel kanker daripada sel normal. Selektivitas ini jarang ditemukan pada obat kemoterapi dan kemungkinan besar terkait dengan kandungan monoterpen yang dominan. Selain efek antikanker, minyak ini menunjukkan khasiat antiinflamasi yang jelas. Dalam kultur sel imun makrofag yang diinduksi dengan komponen bakteri, minyak atsiri terbukti menurunkan konsentrasi radikal bebas dan sitokin inflamasi. Kedua molekul ini merupakan mediator utama dalam inflamasi dan penghambatan keduanya menunjukkan potensi antiinflamasi yang signifikan.
Penelitian oleh Assaggaf et al. (2025) menunjukkan bahwa minyak atsiri rosmari yang memiliki kandungan utama 1,8-cineole, α-pinene, dan kamper menyimpan potensi menjanjikan terkait aktivitasnya dalam penghambatan pertumbuhan kanker dan mengurangi mediator inflamasi. Melalui riset ini, minyak atsiri rosmari tidak hanya menjadi kandidat terapi bagi kanker namun juga bagi penyakit dengan latar belakang atau diperburuk dengan respon inflamasi kronis tubuh. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memetakan jalur seluler yang terlibat dan menentukan profil keamanan dan absorpsi minyak atsiri rosmari pada model hewan coba.
Ditulis oleh Chrismawan Ardianto, Ph.D.
Berdasarkan publikasi Assaggaf et al. (2025) pada Discover Oncology volume 16 isi 1 halaman 1219.





