Universitas Airlangga Official Website

Rasio red blood cell distribution width (RDW)-Albumin sebagai Indikator Baru untuk Memperkirakan Risiko Kematian pada Penyakit Jantung

PRISMA flowchart dari artikel peneliti (Sumber: Jurnal sumber)

Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia, dan memprediksi siapa yang berisiko tinggi sangat penting untuk memberikan perawatan yang lebih tepat. Sebuah penelitian terbaru menemukan indikator baru yang bisa membantu dokter memprediksi risiko kematian dengan lebih akurat, yaitu perbandingan antara variasi ukuran sel darah merah dan kadar albumin dalam darah, yang disebut Rasio red blood cell distribution width (RDW)-Albumin (RAR).

RDW adalah ukuran seberapa beragam ukuran sel darah merah seseorang, sementara albumin adalah protein penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dan melawan peradangan. Penelitian yang melibatkan lebih dari 30 ribu pasien penyakit jantung dari berbagai negara ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai RAR, semakin besar risiko kematian pasien.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah meta-analisis, yaitu teknik penelitian yang mengumpulkan dan menggabungkan hasil dari banyak studi sebelumnya untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat dan valid. Penelitian ini mengikuti panduan standar internasional yang disebut PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) 2020, yang memastikan proses pengumpulan, seleksi, dan analisis data dilakukan secara sistematis dan transparan. Semua tahapan penelitian ini juga terdaftar resmi dalam database PROSPERO untuk mempertanggungjawabkan prosesnya.

Dalam penelitian ini, peneliti mencari studi yang memenuhi kriteria tertentu, seperti melibatkan pasien dewasa dengan berbagai jenis penyakit jantung dan pembuluh darah, mengukur nilai rasio RDW-Albumin (RAR), serta melaporkan angka kematian. Studi yang didapat berasal dari beberapa basis data besar seperti PubMed, Web of Science, Scopus, dan ProQuest, kemudian dilakukan penyaringan untuk menghapus data yang duplikat atau kurang relevan. Data dari tiap studi kemudian dikumpulkan secara rinci, termasuk karakteristik pasien dan hasil akhir kematian, serta kualitas studi tersebut dinilai menggunakan skala tertentu untuk memastikan validitas data.

Analisis statistik dikerjakan dengan metode hazard ratio (HR) untuk membandingkan risiko kematian antara kelompok dengan nilai RAR tinggi dan rendah. Karena variasi data antar studi, digunakan model statistik yang bisa menangani perbedaan tersebut (random-effects model). Nilai p kurang dari 0,05 dianggap menandakan hasil yang signifikan secara statistik, artinya ada hubungan yang nyata dan bukan kebetulan antara RAR dan risiko kematian.

Hasilnya menunjukkan bahwa pasien dengan nilai RAR tertinggi memiliki risiko kematian 1,88 kali lebih tinggi. Tren ini tetap konsisten setelah dilakukan analisis subgrup pada setiap diagnosis utama penyakit-penyakit kardiovaskular. Selain itu, pasien dengan RAR tinggi juga cenderung memiliki waktu perawatan lebih lama di rumah sakit dan CCU.

Studi ini juga menemukan bahwa peningkatan RAR sebanyak 1 satuan akan meningkatkan risiko kematian hingga 27%. Artinya, RAR dapat menjadi alat sederhana dan murah yang membantu dokter menilai kondisi pasien dengan lebih baik, terutama pasien yang dirawat di rumah sakit atau ICU. Berdasarkan studi terdahulu, penggunaan RAR mungkin memiliki nilai prediksi yang lebih baik dibandingkan dengan penanda inflamasi lain seperti skor SOFA atau neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR).

Penulis: Prof. Dr. Yudi Her Oktaviono, dr.,Sp.JP(K)FIHA.FICA.FAsCC.FSCAI.
Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/a-systematic-review-and-dose-response-meta-analysis-of-red-blood-/