UNAIR NEWS – Media instagram Fakultas Kedokteran (FK) melakukan live bersama dr Abdul Jabbar Al Hayyan SpKFR pada Selasa (20/6/2023). Menjadi salah satu rangkaian dari Medic Air Run 2023, kegiatan tersebut membahas terkait mitos dan fakta seputar olahraga.
Acara itu dipandu oleh Wulanda Izmi selaku moderator sekaligus Duta Fakultas Kedokteran UNAIR. Ia menuturkan, kegiatan virtual ini bertujuan untuk memberikan informasi serta edukasi terkait mitos dan fakta yang sering beredar di masyarakat.
Mitos dan fakta saat berolahraga
Saat berolahraga, tubuh akan menghasilkan keringat. Banyak asumsi di masyarakat yang menganggap bahwa semakin banyak berkeringat maka olahraga akan semakin efektif. Ada pula yang menganggap bahwa semakin banyak berkeringat menentukan semakin banyaknya berat badan yang dapat turun.
Menanggapi hal tersebut, dr Abdul menyebutkan bahwa penurunan BB terjadi melalui pembakaran lemak. Keringat yang keluar tidak menggambarkan banyaknya lemak yang terbakar oleh tubuh.
“Ini merupakan sebuah mitos. Secara fisiologis, saat berolahraga memang tubuh akan menghasilkan keringat. Hal ini berakibat pada kebutuhan metabolik dengan suhu tubuh yang semakin meningkat saat berolahraga. Tidak selamanya banyak keringat menandakan banyak lemak yang terbakar.” paparnya
Secara normal suhu tubuh manusia harus tetap terjaga secara optimal. Dengan demikian, segala komponen di dalam tubuh akan dapat bekerja dengan baik. Jika suhu tubuh telah optimal, maka akan terjadi pengeluaran keringat.
“Jika terlalu memaksakan diri agar suhu tubuh makin naik, ini akan membuat tubuh tidak teregulasi dengan baik. Hal ini bisa menyebabkan stroke, kehilangan kesadaran, kejang, bahkan meninggal,” ungkapnya.
Intensitas berolahraga
Mitos selanjutnya adalah terkait lamanya waktu berolahraga. Tak sedikit yang menganggap bahwa semakin lama berolahraga maka semakin baik olahraga untuk kesehatan. Menurut dr Abdul, Jika tujuan berolahraga adalah untuk membakar lemak, maka ini dapat dibenarkan.
Ia menyebutkan bahwa saat berolahraga, tubuh melewati tiga jalur metabolisme energi. Pertama phosphocreatine, kedua metabolisme aerobik, dan ketiga anaerobik.
“Jika fokus untuk membakar lemak, maka benar lamanya berolahraga akan menentukan jalur mana yang akan tubuh pakai dalam metabolisme. Namun lebih baik olahraga dilakukan dalam intensitas yang ringan hingga sedang saja, yaitu dalam durasi 40-45 menit,” ucapnya.
Anjuran yang disampaikan The American College of Sports Medicine bahwa durasi olahraga yang dibutuhkan oleh manusia dalam satu minggu adalah 150 menit untuk intensitas berat. Sementara 75 menit untuk intensitas sedang. “Tidak perlu terlalu berlama-lama. Memilih untuk intensitas sedang atau tinggi tergantung menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Jika baru berolahraga lebih baik tidak langsung menggunakan intensitas berat.” tambahnya.
Memilih olahraga yang disukai
Ia selanjutnya menyampaikan bahwa bentuk program latihan olahraga yang satu akan berbeda dengan program latihan olahraga yang lain. Oleh karena itu, pilih olahraga paling cocok dan yang paling menimbulkan kesenangan untuk orang yang akan berolahraga.
“Yang penting pertama kali harus merasa senang dulu dengan olahraganya. Tidak apa-apa jika dicoba dulu. Dengan mencoba dan merasa senang akan membuat kita tetap di olahraga tersebut,” pungkasnya.
Penulis: Tia Restutika
Editor: Nuri Hermawan





