Universitas Airlangga Official Website

Navigating post-harvest challenges: Fish loss and safety risks in East Java’s small-scale fisheries

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Sektor perikanan skala kecil memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian daerah pesisir sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional. Di Provinsi Jawa Timur, ribuan rumah tangga nelayan menggantungkan penghidupan pada hasil tangkapan harian yang bersifat mudah rusak dan sangat bergantung pada penanganan pascapanen. Meskipun produksi ikan relatif melimpah, tantangan utama yang masih dihadapi adalah kehilangan ikan pascapanen (post-harvest fish loss/PHFL) dan risiko keamanan pangan ikan (fish safety risk/FSR).

Ikan merupakan komoditas pangan bernilai gizi tinggi, namun sangat rentan terhadap penurunan mutu akibat suhu lingkungan, sanitasi yang buruk, serta keterbatasan fasilitas penyimpanan. Penanganan pascapanen yang tidak memadai dapat mempercepat pembusukan, menurunkan kualitas, dan meningkatkan risiko kontaminasi mikroba, sehingga ikan menjadi tidak layak konsumsi atau harus dijual dengan harga lebih rendah. Kondisi ini tidak hanya merugikan nelayan secara ekonomi, tetapi juga berpotensi mengganggu ketersediaan dan keamanan pangan masyarakat pesisir.

Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian Balqis dkk. (2026) berupaya mengkaji keterkaitan antara risiko keamanan ikan dan kehilangan pascapanen, serta menelaah peran faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam memengaruhi kedua permasalahan tersebut pada perikanan skala kecil di Jawa Timur. Kajian ini menjadi penting karena sebagian besar penelitian sebelumnya masih memisahkan analisis kehilangan ikan dan risiko keamanan pangan, padahal keduanya saling berkaitan erat dalam praktik sehari-hari nelayan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data primer yang dikumpulkan melalui survei terhadap nelayan skala kecil di Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Lamongan. Responden merupakan nelayan satu hari (one-day fishers) dengan kapasitas kapal maksimal 10 GT, yang merepresentasikan karakteristik perikanan skala kecil di wilayah pesisir Jawa Timur

Untuk menangkap hubungan timbal balik antara kehilangan ikan pascapanen dan risiko keamanan ikan, penelitian ini menerapkan model persamaan simultan menggunakan metode Three-Stage Least Squares (3SLS). Metode ini dipilih karena mampu mengestimasi hubungan dua arah secara bersamaan dan mengurangi potensi bias estimasi.

Model pertama menjelaskan risiko keamanan ikan (FSR) sebagai fungsi dari variabel sosial dan ekonomi, seperti jam kerja melaut, usia nelayan, bantuan pemerintah, akses internet, keanggotaan kelompok nelayan, serta lokasi wilayah. Sementara itu, model kedua menjelaskan kehilangan ikan pascapanen (PHFL) sebagai fungsi dari risiko keamanan ikan, kondisi lingkungan, pengalaman melaut, tingkat pendidikan, dan suhu lingkungan.

Hasil estimasi menunjukkan bahwa risiko keamanan ikan memiliki pengaruh signifikan dalam menekan kehilangan ikan pascapanen. Semakin baik kondisi keamanan ikan—yang tercermin dari mutu organoleptik—semakin rendah tingkat kehilangan hasil tangkapan. Selain itu, kondisi lingkungan yang lebih higienis dan pengalaman melaut yang lebih lama juga berkontribusi dalam menurunkan PHFL. Sebaliknya, suhu lingkungan yang lebih tinggi terbukti meningkatkan kehilangan ikan pascapanen.

Pada sisi lain, risiko keamanan ikan dipengaruhi secara signifikan oleh faktor sosial dan ekonomi. Jam kerja yang lebih panjang, usia nelayan, keanggotaan kelompok nelayan, serta bantuan pemerintah dan akses internet menunjukkan hubungan positif dengan indeks FSR. Temuan ini mengindikasikan bahwa dinamika sosial nelayan dan lingkungan kerja memiliki peran penting dalam menentukan mutu dan keamanan ikan yang dihasilkan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kehilangan ikan pascapanen dan risiko keamanan ikan merupakan dua permasalahan yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam konteks perikanan skala kecil di Jawa Timur. Risiko keamanan ikan terbukti menjadi faktor kunci yang memengaruhi besarnya kehilangan hasil tangkapan, sehingga upaya peningkatan mutu dan keamanan ikan sejak tahap pascapanen memiliki dampak ekonomi yang nyata bagi nelayan.

Implikasinya, kebijakan perikanan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi perlu diarahkan pada perbaikan kualitas penanganan pascapanen, penguatan sanitasi lingkungan, serta peningkatan kapasitas nelayan melalui edukasi dan dukungan infrastruktur sederhana. Dengan demikian, upaya tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan nelayan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan keamanan konsumsi ikan bagi masyarakat pesisir.

Penulis: Prof. Dyah Wulan Sari, Dra.Ec. M.Ec.Dev., Ph.D

Link artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/navigating-post-harvest-challenges-fish-loss-and-safety-risks-in-/fingerprints/