Universitas Airlangga Official Website

Menyeimbangkan pembaruan strategi perusahaan Indonesia melalui eksplorasi-eksploitasi: Apakah kekuatan CEO dan keragaman TMT penting?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Turbulensi teknologi mendorong perusahaan untuk terlibat dalam pembaruan strategis—kalibrasi ulang yang berkelanjutan antara eksplorasi (investasi yang disengaja dalam pengetahuan, teknologi, dan pasar baru) dan eksploitasi (penyempurnaan kapabilitas yang ada secara disiplin untuk efisiensi langsung). Upaya Fujifilm dalam pencitraan digital dan kimia film secara gamblang menggambarkan bahwa kedua logika pembelajaran tersebut tidak selalu bersifat zero-sum, melainkan saling mendukung jika diorkestrasi dengan baik. Dalam hal ini, literatur tentang ambidextrous memang bermanfaat, tetapi agak bercabang. Artinya, satu aliran menekankan mekanisme struktural dan paradoks—seperti menyeimbangkan berbagai moda organisasi, menavigasi pola penguatan dalam lingkungan dinamis, atau menghadapi paradoks dalam pembelajaran antarorganisasi—sementara aliran kedua menanamkan ketegangan eksplorasi-eksploitasi dalam rantai pasok dan rutinitas inovasi. Namun, kedua aliran tersebut menawarkan wawasan terbatas tentang bagaimana fondasi mikro para pengambil keputusan tingkat atas membentuk dinamika dan hasil kinerja pembaruan strategis, terutama di negara berkembang yang sebagian besar buktinya berasal dari konteks pasar maju.

Kelalaian tersebut krusial karena sebagian besar studi fundamental bertumpu pada asumsi negara maju tentang stabilitas kelembagaan, kelimpahan sumber daya, dan sistem inovasi yang matang. Namun, di negara-negara dengan keterbatasan sumber daya seperti Indonesia, dengan infrastruktur inovasi yang lebih lemah, ketidakstabilan regulasi, dan keterbatasan modal, perusahaan harus mengganti dukungan formal dengan dukungan informal seperti kolaborasi antar-perusahaan, modal sosial, dan kapasitas penyerapan. Kekosongan kelembagaan ini secara fundamental mengubah kalkulus eksplorasi-eksploitasi, namun tetap kurang terwakili secara analitis, sehingga meninggalkan kesenjangan teori-konteks yang membatasi validitas eksternal penelitian ambideksteritas.

Menyeimbangkan eksplorasi dan eksploitasi memiliki aspek kognitif dan perilaku, bergantung pada bagaimana para pemimpin senior memperhatikan, menafsirkan, dan bertindak berdasarkan isyarat lingkungan utama. Oleh karena itu, pembaruan strategis mengharuskan para pemimpin untuk membingkai ulang asumsi dan mengalokasikan kembali sumber daya. Nilai-nilai, pengalaman, dan kekuasaan CEO membentuk bagaimana isyarat lingkungan ditafsirkan, sementara kognisi kolektif tim manajemen puncak (TMT) semakin menyempurnakan interpretasi ini. Namun, banyak studi masih mengutamakan perbaikan struktural sementara cenderung mengabaikan dua faktor pendorong kepemimpinan yang berbeda—kekuasaan CEO dan keragaman TMT dalam gender, fungsi, masa jabatan, dan pendidikan—yang secara independen membentuk ambidextrousitas perusahaan di tengah volatilitas. Isu keragaman masih terasa, dengan perempuan menduduki 27% posisi manajerial di seluruh dunia, sehingga mempersempit ruang kognitif yang dibutuhkan untuk pilihan-pilihan yang paradoks. Demikian pula, kekuasaan CEO yang tidak terkendali dapat mempercepat atau mendistorsi pembaruan, tergantung pada ketersediaan sudut pandang alternatif dan pengendalian terhadap kesombongan CEO.

Studi ini bertujuan untuk memeriksa keseimbangan antara eksploitasi dan pembaruan eksplorasi memengaruhi kinerja perusahaan dalam ekonomi ekonomi berkembang di sektor manufaktur Indonesia, dan bagaimana kekuatan CEO dan keragaman TMT memoderasi hubungan ini. Untuk mencapai hal ini, analisis ini menggunakan panel seimbang dari 127 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun-tahun sebelum pandemi COVID, dari 2014-2019, mengintegrasikan indikator keuangan tingkat perusahaan dari laporan tahunan yang diaudit dengan ukuran orientasi strategis yang diperoleh melalui Computer-Aided Text Analysis (CATA) dari surat pemegang saham CEO dan bagian Diskusi dan Analisis Manajemen. Ukuran yang dihasilkan kemudian dianalisis menggunakan estimator System Generalized Method of Moments (GMM) dua langkah, yang memungkinkan studi untuk memperhitungkan potensi endogenitas, efek kinerja dinamis, dan heterogenitas perusahaan yang tidak teramati. Kombinasi data arsip longitudinal, metrik strategis berbasis teks, dan teknik ekonometrika yang kuat ini memungkinkan evaluasi komprehensif terhadap hubungan yang diselidiki dengan cara yang kaya kontekstual dan ketat secara metodologis.

Studi ini memberikan tiga kontribusi inti bagi literatur pembaruan strategis. Pertama, studi ini mengemukakan fondasi mikro kepemimpinan dengan menguraikan bagaimana kekuasaan CEO dan keragaman TMT masing-masing membentuk, dan terkadang menyeimbangkan, kapasitas perusahaan untuk menyelaraskan eksplorasi dan eksploitasi. Kedua, dengan mengintegrasikan perspektif eselon atas, pembelajaran organisasi, dan paradoks, kami membingkai ulang eksplorasi dan eksploitasi sebagai logika pembelajaran yang saling bergantung yang kombinasi optimalnya dibatasi oleh kognisi eksekutif dan kendala sumber daya, sehingga memajukan teori melampaui kerangka struktural. Ketiga, kami menyediakan bukti sampel besar dari sektor manufaktur Indonesia, memperluas wawasan pembaruan strategis melampaui konteks negara maju dan menawarkan panduan yang dapat ditindaklanjuti bagi para pemimpin yang beroperasi dalam kondisi pasar berkembang yang serupa.

Penulis: Prof. Badri Munir Sukoco, S.E., MBA., Ph.D.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/balancing-exploration-exploitation-renewal-and-indonesian-firm-pe/

Silahkan diakses paper ini pada: https://www.nature.com/articles/s41599-025-06139-2

Maharani, I.A.K., Sukoco, B.M., Usman, I. et al. Balancing exploration-exploitation renewal and Indonesian firm performance: do CEO power and TMT diversity matter?. Humanit Soc Sci Commun 12, 1872 (2025). https://doi.org/10.1057/s41599-025-06139-2