UNAIR NEWS – Pusat Komunikasi dan Informasi Publik (PKIP) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar workshop News and Content Training (NCT) Batch 3. Sebagai agenda rutin, NCT kali ini mengangkat bahasan mengenai teknik kepenulisan jurnalistik online oleh Wakil Pemimpin Redaksi Harian Disway Doan Widhiandono SSos MIKom.
Berlangsung pada Kamis (29/02/2024), workshop itu menghadrikan banyak mahasiswa. Mereka memenuhi ruang Aula Kahuripan 300, Lantai 3, Kampus MERR-C. Total ada lebih dari 100 mahasiswa yang berasal dari seluruh fakultas di UNAIR.
Materi berjudul “Human’s Media” disampaikan Doan dalam kesempatan tersebut. Era teknologi seperti saat ini memunculkan beragam tantangan dalam dunia jurnalistik. Kini banyak muncul jurnalistik yang menabrak aturan pakem kode etik jurnalistik karena mengejar traffic. Karena itu, Doan menyebut esensi kunci membuat karya jurnalistik, termasuk online, adalah penekanan pada nilai manusia-nya.
Syarat Penulisan Berita Online
Pergerakan media dan informasi yang begitu masif kini seolah memainkan aspek-aspek penting dalam kepenulisan jurnalistik. Pergeseran informasi yang dulu diperuntukkan bagi keperluan massa, kini berubah menjadi keperluan masing-masing individu. Hingga pada era ini, kerap ditemukan tulisan jurnalistik yang tidak mengindahkan kebutuhan khalayak.
“Jadi, kalau dulu saya diajarkan untuk menulis berdasar piramida terbalik 5W + 1 H, kini semua terbalik. Dan, tiba di era personal media. Orang-orang mencari berita hanya berdasar apa yang diinginkan saja,” ujarnya.
Dalam paparannya, Doan menyampaikan tiga syarat dalam penulisan berita online agar dapat menarik pembaca. Pertama, aspek aktual, menarik, dan bermanfaat. Tiga aspek tersebut dapat dilakukan dengan memantau peristiwa-peristiwa di berbagai media, seperti google trend, hingga trending search microsoft. Kedua, pergeseran aspek 5W (What, Where, Who, When, Why) dan 1H (How) menjadi subjek, tempat, peristiwa, dan penggunaan kata kunci yang relevan.
Kemudian, dalam penyajian informasi, seorang jurnalis harus mampu menceritakan bagaimana kumpulan fakta yang didapat, disusun dengan cermat dan dideskripsikan dengan terampil. Sehingga, seorang jurnalis dapat menjawab topik yang sedang dibutuhkan oleh pembaca.

Bersaing dengan AI
Tidak dapat dimungkiri, bahwa pekerjaan seorang jurnalis disebut-sebut terancam dengan keberadaan Artificia Intelligence (AI). Namun, Doan memaparkan ada banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh AI. Salah satunya, rasa humanis di dalam tulisan.
Setidaknya, AI tidak mampu melakukan seleksi fakta terbaru dan aktual selayaknya seorang jurnalis. Doan menyampaikan bahwa kewajiban pertama seorang jurnalis ialah kebenaran. Oleh karenanya, perlu adanya seleksi fakta, yakni (1) observasi langsung, (2) wawancara, dan (3) referensi.
“Wartawan harus mengamati sendiri peristiwa yang akan ditulis, melakukan wawancara dengan sumber-sumber terpercaya, dan mencari informasi dari sumber ketiga dari dari peristiwa yang akan ditulisnya,” ungkap Doan.
Penulis: Syifa Rahmadina
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:
Pentingnya Optimalisasi Media Sosial Sebagai Branding Organisasi





