Nyeri orofasial diperkirakan terjadi pada sekitar 23 % populasi umum, dimana 7 % – 11 % mengalami nyeri yang bersifat kronis.Hasil studi epidemiologi internasional mengindikasikan jika nyeri orofasial dialami oleh sekitar 10 % populasi dewasa khususnya perempuan.Nyeri yang berlangsung kronis akan menimbulkan gangguan emosional, psikologis serta gangguan sosial yang pada akhirnya akan memberi pengaruh pada kualitas hidup penderita. Nyeri neuropatik merupakan salah satu bentuk nyeri kronis yang sangat sulit ditangani. Selama ini terapi farmakologi untuk mengatasi nyeri neuropatik memiliki banyak keterbatasan pada hasil terapi, dimana obat yang diberikan umumnya hanya bersifat simtomatis. Hanya sekitar 50% pasien yang mendapatkan pengobatan nyeri neuropatik merasakan jika rasa nyeri berkurang namun tidak hilang secara total, sehingga pendekatan terapi nyeri neuropatik yang paling rasional adalah dengan meningkatkan regenerasi jaringan saraf.
Regenerasi jaringan saraf merupakan proses yang dibutuhkan untuk terapi nyeri neuropatik, dimana terjadi perbaikan jaringan saraf melalui pertumbuhan kembali atau kesembuhan jaringan saraf, sel, atau produk sel. Untuk bertahan hidup sel saraf membutuhkan faktor neurotropik. Faktor neurotropik tersebut diantaranya Nerve Growth Factor (NGF) dan S100B. Jaringan saraf mampu memproduksi faktor neurotropik tersebut, akan tetapi terkadang tidak dapat diproduksi dengan cepat atau tidak dapat diproduksi dalam jumlah yang cukup. Adanya suplai faktor neurotropik eksogen akan dapat mempertahankan lingkungan yang kondusif bagi regenerasi saraf, mencegah kerusakan sel saraf serta akan mempromosikan regenerasi saraf.
Salah satu teknik yang dapat dilakukan dalam mensuplai faktor neurotropik eksogen adalah dengan pemberian Platelet Rich Plasma (PRP). Konsentrasi platelet yang tinggi didalam PRP mengandung banyak faktor neurotropik yang sangat berperan pada regenerasi saraf perifer setelah terjadinya cedera saraf. NGF bertanggung jawab terhadap perkembangan sel saraf baru, kesehatan serta pemeliharaan sel saraf dewasa. NGF juga memberi dukungan pada pertumbuhan, pemeliharaan serta kelangsungan hidup sel saraf serta akson yang merupakan bagian penting neuron yang berfungsi untuk menghantarkan segnal elektrik. NGF juga berfungsi untuk membantu perbaikan selubung mielin yang mengelilingi akson. NGF memiliki konsentrasi yang rendah pada saraf yang sehat, ekspresinya akan mengalamai peningkatan secara signifikan setelah saraf mengalami cedera. Penambahan NGF pada daerah cedera akan mempromosikan perbaikan jaringan saraf serta pemulihan fungsi saraf, yang terlihat pada kelompok perlakuan hari ke 14 dan 21.
Protein S100B merupakan bagian dari keluarga protein S100 telah diidentifikasi sebagai faktor yang sangat berkontribusi pada perkembangan dan diferensiasi sel – sel saraf. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa protein S100B memegang peranan penting pada proses mielinisasi sel Schwann. Reaktivitas protein S100B telah digunakan sebagai marker sel Schwann baik secara in vivo maupun secara in vitro. Sel Schwann pada jaringan saraf perifer membentuk selubung mielin pada kondisi fisiologis, sementara pada kondisi patologis sel Schwann akan merangsang regenerasi saraf dengan mensekresi faktor – faktor neurotrophic serta menyediakan microenvironment pada jaringan saraf yang mengalami cedera. Penambahan PRP pada awalnya menunjukkan peningkatan ekspresi pada hari ke-14 untuk selanjutnya mengalami penurunan ekspresi S100B secara signifikan pada hari ke-21,dari penelitian ini terlihat jika penambahan PRP berpotensi mempercepat proses infamasi akut yang merupakan bagian dari proses degenerasi jaringan saraf sehingga proses regenerasi saraf dapat segera dimulai.
Penulis: Saka Winias, drg.,M.Kes., Sp.PM (K)
Link lengkap: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2212426822000835





