Smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, bagaimana jika ketergantungan terhadap perangkat ini berkembang menjadi ketakutan ekstrem saat terpisah darinya? Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Airlangga dan kolaborator internasional mengungkap fenomena ini—yang dikenal sebagai nomophobia—kian mengkhawatirkan, khususnya di kalangan mahasiswa Indonesia. Nomophobia atau “no mobile phone phobia” adalah istilah yang menggambarkan kecemasan atau ketakutan berlebihan saat tidak bisa mengakses ponsel pintar. Kondisi ini kini diakui sebagai salah satu bentuk gangguan psikologis akibat perkembangan teknologi digital yang pesat. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa—terutama yang berusia antara 18–24 tahun—menjadi kelompok paling rentan.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Acta Psychologica edisi Juni 2025, para peneliti menguji validitas dan reliabilitas Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) versi Bahasa Indonesia. Kuesioner ini digunakan untuk menilai tingkat kecemasan akibat kehilangan akses terhadap smartphone. Dengan melibatkan 868 mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Airlangga, hasil penelitian menyimpulkan bahwa skala ini secara konsisten dan akurat mampu mengukur nomophobia. Skala ini juga terbukti setara (invariant) untuk laki-laki dan perempuan, serta dapat digunakan baik untuk pengguna ponsel yang intens maupun biasa. “NMP-Q versi Indonesia menunjukkan struktur empat faktor yang stabil dan dapat digunakan untuk menilai risiko nomophobia di kalangan mahasiswa,” ujar Dr. Muthmainnah, peneliti utama dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR. Beberapa temuan penting dari studi ini antara lain:
- Rata-rata skor nomophobia mahasiswa adalah 93,78 dari maksimal 140, mengindikasikan tingkat kecemasan sedang hingga tinggi.
- Lebih dari 50% responden menggunakan media sosial lebih dari 5 jam per hari.
- Terdapat hubungan yang kuat antara nomophobia dan kecanduan smartphone, dibandingkan hubungannya dengan stigma berat badan atau tekanan psikologis.
- Nomophobia paling tinggi pada aspek kehilangan kemampuan berkomunikasi dan kehilangan kenyamanan.
Nomophobia bukan hanya sekadar gangguan ringan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi ini bisa berkaitan dengan stres, kecemasan, bahkan depresi. Dalam jangka panjang, nomophobia bisa memengaruhi hubungan sosial, prestasi akademik, hingga kesehatan mental mahasiswa. “Kondisi ini dapat mengarah pada pola hidup tidak sehat seperti stres berkepanjangan, gangguan tidur, hingga penurunan produktivitas belajar,” jelas Prof. Chung-Ying Lin, salah satu peneliti kolaborator dari Taiwan.
Indonesia memiliki lebih dari 354 juta perangkat smartphone aktif, melebihi jumlah penduduknya sendiri. Dengan penetrasi internet dan media sosial yang tinggi, mahasiswa menjadi kelompok yang sangat aktif menggunakan ponsel, sekaligus kelompok yang paling berisiko mengalami nomophobia. Penelitian ini menjadi yang pertama mengevaluasi skala nomophobia secara menyeluruh dalam konteks budaya Indonesia dan merekomendasikan penggunaannya untuk skrining di tingkat kampus dan klinis.
Penulis: Prof. Ira Nurmala, S.KM., MPH, Ph.D.
Link Artikel : https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0001691825004330?via%3Dihub





