UNAIR NEWS – Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar International Graduate Student Conference on Pharmaceutical Sciences (IGSCPS) pada Sabtu (18/9/2026). Acara yang berlangsung di lingkungan Fakultas Farmasi UNAIR ini menghadirkan pakar internasional, Assoc Prof Baharuddin Ibrahim PhD dari Universiti Malaya, Malaysia.
Dalam pemaparannya yang berjudul “Artificial Intelligence–Enabled Clinical Decision Support to Optimize Medication Therapy: Bridging Evidence and Practice”, Baharuddin membagikan hasil riset terbaru timnya terkait integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi data digital dalam pelayanan farmasi klinik.
Menjembatani Celah Adopsi Sistem CPOE
Baharuddin menjelaskan bahwa fokus utama penelitian timnya adalah mengoptimalkan Computerized Physician Order Entry (CPOE). Yakni sistem peresepan elektronik yang terintegrasi dengan Clinical Decision Support System (CDSS).
“Proyek pertama yang kami lakukan adalah menjembatani celah adopsi dan keberhasilan dalam sistem CPOE. Ini adalah sistem peresepan elektronik sekaligus sistem pendukung keputusan klinis untuk membantu pengambilan keputusan dokter,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rumah sakit di Malaysia sejatinya telah mengimplementasikan CDSS, namun pemanfaatannya belum optimal. Oleh karena itu, pihaknya berupaya menambah fitur dan memperkaya basis data guna membantu dokter mengambil keputusan klinis yang lebih tepat.
Pentingnya Memahami Perspektif Pengguna
Dalam merancang sistem berbasis AI, Baharuddin menekankan pentingnya melibatkan para tenaga kesehatan sejak tahap awal. Risetnya melibatkan Focus Group Discussion (FGD) bersama 14 dokter, 6 apoteker, dan 8 perawat di rumah sakit pendidikan Universiti Malaya menggunakan model analisis tematik Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) dan Information System Success Model.
“Sebelum kita mengembangkan sistem AI, kita perlu memahami pemangku kepentingan (stakeholders) terlebih dahulu. Temuan positifnya, semua nakes (tenaga kesehatan, red) menyukai sistem ini karena dirasa memberi manfaat nyata bagi pasien dan terintegrasi langsung dalam praktik kerja harian mereka,” jelasnya. Melalui sistem ini, dokter dapat mendiagnosis sekaligus memberikan resep yang secara otomatis didukung oleh rekomendasi CDSS.
Tantangan Alur Kerja dan Alert Fatigue
Meskipun memberikan manfaat besar, penerapan CDSS di lapangan tak lepas dari kendala operasional. Baharuddin menyoroti dua persoalan utama, yaitu gangguan alur kerja (workflow interruption) dan munculnya notifikasi peringatan berlebih (alerts/notifications).
“Ketika dokter meresepkan obat, terjadi beberapa gangguan akibat CDSS. Panduan klinis terus diperbarui setiap tahun, sementara basis data sistem memerlukan waktu untuk sinkronisasi. Akibatnya, saat dokter menggunakan panduan terbaru atau panduan khusus, sistem justru terus memberikan peringatan,” terangnya.
Pada akhir, Baharuddin mengingatkan para peneliti dan praktisi farmasi yang hadir di Fakultas Farmasi UNAIR untuk selalu menempatkan sudut pandang pengguna sebagai prioritas utama dalam pengembangan sistem kesehatan digital.
“Poin utama yang ingin saya sampaikan hari ini adalah, ketika kita mengembangkan suatu sistem, terutama sistem berbasis AI, kita harus benar-benar memahami perspektif penggunanya,” pungkasnya.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Yulia Rohmawati





