Studi ini menguji preferensi risiko perusahaan terhadap pengungkapan eksposur covid-19, yang diwakili oleh karakteristik dewan. Penelitian ini menggunakan emiten non-keuangan pada tahun 2019-2020 sebagai tahun transisi antara pra dan selama pandemi Covid-19. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi baik individu perempuan dan usia di dewan cenderung membentuk preferensi risiko perusahaan menjadi penghindaran risiko dan mengungkapkan paparan covid-19. Hasilnya kuat karena mereka menggunakan tes endogenitas untuk meminimalkan bias. Selanjutnya, penelitian ini menggunakan tes analisis tambahan untuk meningkatkan pemahaman preferensi risiko perusahaan dengan pengungkapan paparan covid-19.
Mohammad Nasih, Damara Ardelia Kusuma Wardani, Iman Harymawan, Fajar Kristanto Gautama Putra, dan Adel Sarea melalui penelitiannya ingin mengumpulkan bukti tentang preferensi risiko perusahaan terhadap pengungkapan eksposur covid-19 pada tahun sebelum dan selama covid-19 menyebar di Indonesia. Sampel penelititian yang Penelitian ini menggunakan seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia kecuali perusahaan di bidang keuangan pada tahun 2019-2020. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi baik individu perempuan dan usia di dewan cenderung membentuk preferensi risiko perusahaan menjadi penghindaran risiko dan mengungkapkan paparan covid-19.
Hasil penelitian ini memberikan beberapa kontribusi baik secara teoritis maupun praktis. Pertama, penelitian ini memberikan tambahan literatur tentang topik covid-19, khususnya di Indonesia dengan mengambil perspektif yang berbeda tentang bagaimana karakteristik biologis dewan perusahaan terkait dengan respons mereka menghadapi covid-19. Studi menegaskan meskipun covid-19 adalah peristiwa yang mengganggu, tidak setiap perusahaan bereaksi sama karena karakteristik dewan yang berbeda. Kedua, penelitian ini juga menyediakan literatur tambahan tentang preferensi risiko manajemen karena studi sebelumnya didominasi oleh preferensi risiko CEO dan CFO saja. Studi ini setuju bahwa CEO dan CFO memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan perusahaan, termasuk laporan tahunan dan narasi, sebagaimana dikonfirmasi dalam penelitian lain. Namun demikian, selama tingkat ketidakpastian yang tinggi, proses pengambilan keputusan yang normal mungkin tidak berjalan seperti biasa. Oleh karena itu, diyakini dan dikonfirmasi semua preferensi risiko individu di dewan perusahaan sangat penting dalam menentukan konten laporan perusahaan, terutama paparan covid-19. Ketiga, penelitian ini memberikan pertimbangan tambahan bagi berbagai pelaku ekonomi penting dalam menanggapi pengungkapan paparan covid-19, karena pengungkapan perusahaan merupakan salah satu instrumen kuat yang dapat mempengaruhi persepsi pemangku kepentingan. Kekhawatiran yang diungkapkan perusahaan tentang covid-19 terkait erat dengan karakteristik dewan perusahaan sangat penting. Misalnya, panic selling dari investor dapat diminimalkan jika mereka sepenuhnya sadar bahwa pengungkapan paparan covid-19 tidak semata-mata karena signifikansi covid-19 yang merugikan perusahaan tetapi juga mencerminkan karakteristik dewan perusahaan. Contoh lain, berbagai analis ekonomi dapat menganggap temuan ini tidak melebih-lebihkan pengungkapan paparan covid-19. Memang, covid-19 adalah peristiwa yang mengganggu, tetapi tidak dapat sepenuhnya menghilangkan faktor karakteristik dewan karena dapat memberikan menyesatkan besar-besaran dalam opini publik.
Penulis: Iman Harymawan, S.E., MBA., Ph.D
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/JFRA-12-2021-0430/full/pdf?title=covid-19-exposure-a-risk-averse-firms-response





