Universitas Airlangga Official Website

Pelatihan Konseling Sebaya untuk Cegah Perundungan di Kalangan Remaja

Suasana pelaksanaan kegiatan Konseling Sebaya (Foto: Isitmewa)
Suasana pelaksanaan kegiatan Konseling Sebaya (Foto: Isitmewa)

UNAIR NEWS – Perundungan di kalangan remaja masih menjadi permasalahan serius yang membutuhkan perhatian berbagai pihak. Menanggapi isu ini, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan Pelatihan Konseling Sebaya yang berlangsung dari 25 Januari hingga 30 Juli 2025. Kegiatan ini menyasar dua sekolah di Gresik, yakni SMP Negeri 16 Gresik dan SMA Negeri 1 Gresik, dengan jumlah peserta sebanyak 50 siswa terpilih.

Valina Khiarin Nisa, dosen Fakultas Psikologi UNAIR memprakarsai kegiatan ini. Ia menilai pentingnya pemberdayaan remaja untuk saling mendukung dan mencegah perundungan sejak dini. “Remaja cenderung lebih nyaman berbicara kepada teman sebaya. Melalui pelatihan ini, mereka belajar menjadi pendengar yang empatik, mengenali tanda-tanda perundungan, serta mampu memberikan dukungan awal berupa pertolongan pertama psikologis,” jelas Valina.

Konseling Sebaya merupakan pendekatan yang menekankan peran aktif remaja dalam menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan aman. Dalam pelatihan ini, para peserta mendapatkan pembekalan pengetahuan dasar mengenai kesehatan mental serta keterampilan praktis. Seperti teknik mendengarkan aktif, membangun empati, dan strategi merespons kasus perundungan secara tepat.

Valina Khiarin Nisa bersama siswa SMPN 16 Gresik sebagai lokasi terpilih untuk pelaksanaan Konseling Sebaya (Foto: Istimewa)

Salah satu materi utama dalam pelatihan ini adalah pengenalan tiga prinsip dasar Psychological First Aid (PFA), yaitu Look, Listen, dan Link. Prinsip ini dirancang agar dapat diterapkan oleh siapa saja—baik teman sebaya, anggota keluarga, maupun masyarakat umum. Look berarti memperhatikan tanda-tanda bahaya dan kebutuhan psikologis seseorang. Listen menekankan pentingnya menjadi pendengar yang hadir secara penuh dan empatik. Sementara Link mendorong individu untuk menghubungkan orang yang membutuhkan dengan bantuan lebih lanjut, seperti guru BK, konselor, atau layanan profesional.

Pelatihan ini juga menghadirkan narasumber dari Dinas Sosial Kabupaten Gresik, Ibu Fitriyatun Ni’mah SPsi yang membagikan pengalamannya menangani berbagai kasus perundungan di lapangan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan para remaja. “Pencegahan perundungan bukan hanya tanggung jawab guru atau orang tua, tapi perlu dimulai dari remaja sebagai agen perubahan,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan fasilitator muda, yakni Nabila Fadhia Ulhaq (alumni Psikologi UNAIR) dan Thalitha Shahiza (mahasiswa Psikologi UNAIR angkatan 2023), yang turut mendampingi peserta selama pelatihan berlangsung.

Respons positif datang dari para peserta dan pihak sekolah. Salah satu siswa menyampaikan, “Saya jadi lebih peka terhadap perasaan teman-teman saya. Sekarang saya tahu harus bagaimana saat ada teman yang sedang mengalami masalah.”

Melalui pelatihan ini, para siswa harapannya dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan budaya sekolah yang aman, peduli, dan bebas dari perundungan. Fakultas Psikologi UNAIR berharap program ini bisa menjadi model pelatihan yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain di Jawa Timur dan sekitarnya.

Dengan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif remaja, pencegahan perundungan bukan lagi sekadar wacana, tetapi menjadi gerakan nyata yang dimulai dari lingkungan sekolah.

Penulis: Valina Khiarin Nisa

Editor: Yulia Rohmawati