Rehabilitasi fungsi stomatognatik akibat edentulisme dapat dilakukan dengan modalitas implan gigi. Implan gigi dapat meningkatkan estetika maksilofasial dan fungsi stomatognatik. Sehingga dapat menurunkan faktor risiko penyakit sistemik dan penyakit mulut akibat edentulisme. Namun, terapi implan gigi jangka pendek dan jangka panjang cukup menantang. Ada upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan implan gigi melalui peningkatan osseointegrasi. Pemasangan implan gigi trabekula yang berpori dapat meningkatkan osseointegrasi. Hal ini disebabkan semakin luasnya kontak bahan dan jaringan tulang, yang dapat meningkatkan kontak implan tulang yang berujung pada keberhasilan pemasangan implan gigi yang ditanamkan di tulang alveolar.
Saat ini, sebagian besar bahan yang digunakan sebagai implan gigi adalah titanium. Meskipun titanium memiliki sifat biokompatibilitas yang baik dan dianggap sebagai bahan standar emas untuk implan gigi, beberapa penulis melaporkan bahwa ada masalah klinis seperti reaksi hipersensitif logam, kurangnya perekrutan sel tulang dan kendala estetika karena warna metalik di sekitar leher titanium. implan yang menimbulkan warna keabu-abuan terutama pada mukosa yang tipis. Selain itu, harga implan gigi titanium yang relatif mahal tidak dapat dijangkau oleh semua orang. Eksplorasi dan pemanfaatan Polymethyl Methacrylate (PMMA) dan Hydroxyapatite (HA) dapat menjanjikan sebagai calon biomaterial sebagai perlengkapan implan gigi dalam upaya untuk meningkatkan osseointegrasi. Di sisi lain, sumber daya alam PMMA dan HA yang melimpah di Indonesia dapat digunakan untuk calon bahan baku perlengkapan implan gigi trabekular berpori. Oleh karena itu, tujuan dari artikel naratif ini adalah untuk mendeskripsikan potensi komposit PMMA dan HA sebagai kandidat biomaterial untuk pengembangan perlengkapan implan gigi trabekular berpori.
Polimetil metakrilat (PMMA) dan Hidroksiapatit (HA) telah banyak digunakan dalam bidang kedokteran gigi, salah satunya keterlibatannya dalam bahan implan gigi. PMMA merupakan salah satu bentuk polimer yang dapat dikembangkan menjadi kandidat biomaterial implan gigi. Penggunaan PMMA sebagai biomaterial implan gigi telah banyak dipelajari. PMMA dapat digunakan sebagai biomaterial implan gigi karena material ini memiliki sifat sebagai isolator terhadap panas dan listrik serta tahan terhadap biodegradasi Selain itu, beberapa penelitian terhadap biomaterial tersebut menunjukkan bahwa PMMA memiliki sifat biokompatibel dan menunjukkan karakteristik dalam mendukung pelekatan sel punca mesenkim dan osteoblas. Namun, PMMA memiliki karakteristik yang kurang baik dalam mendukung bahan ini sebagai perlengkapan implan gigi, yaitu kekuatan mekanik yang lebih rendah dan modulus elastisitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan paduan dan keramik sehingga dapat mempengaruhi bahan ini dalam menerima beban pengunyahan.
Partikel HA memiliki kuat tekan yang relatif tinggi dengan kekuatan tarik yang sama dengan tulang manusia. Selain itu, HA sebagai keramik juga memiliki sifat insulasi terhadap panas dan listrik serta tidak korosif. Berdasarkan beberapa penelitian, HA tunggal jarang digunakan sebagai bahan implan gigi karena bahan ini dapat diserap dan didegradasi oleh inangnya sehingga bahan ini lebih sering digunakan sebagai bahan cangkok.
Dalam studi biomaterial implan gigi, PMMA dan HA sebagai material tunggal jarang digunakan sebagai material implan gigi. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada harapan yang menjanjikan dengan menggabungkan kedua bahan ini sebagai perlengkapan implan. Komposit yang menggabungkan PMMA dan HA memiliki karakteristik fisik yang cukup baik dengan nilai kuat tekan 178-381 MPa yang menunjukkan nilai yang mirip dengan tulang. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa komposit PMMA/HA memiliki sifat bio affinity yang baik dan bersifat biokompatibel dengan sel tulang. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa komposit PMMA/HA dapat meningkatkan kekuatan geser antarmuka pada tulang kelinci dan dapat meningkatkan ketahanan kimia dan sifat mekanik. Namun salah satu kendalanya adalah ditemukannya gap antara biomaterial dengan tulang sekitarnya karena PMMA tidak memiliki sifat bioaktivitas sehingga dapat mempengaruhi osseointegrasi dalam penggunaan material ini.
Pemasangan perlengkapan implan gigi trabekula yang berpori dapat meningkatkan osseointegrasi. Hal ini disebabkan semakin luasnya kontak bahan dan jaringan tulang, yang dapat meningkatkan kontak implan tulang yang berujung pada keberhasilan pemasangan implan gigi yang ditanamkan di tulang alveolar.8 Bahan seperti HA sering digunakan sebagai bahan pelapis untuk meningkatkan keberhasilan implan gigi yang ditanamkan ke tulang. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pelapisan menggunakan HA pada bahan implan yang berasal dari logam dapat meningkatkan ketahanan korosi dari bahan asli dan meningkatkan osseointegrasi karena HA memiliki sifat bioaktivitas yang baik terhadap sel tulang sehingga dapat meningkatkan adhesi sel osteoblas. Berdasarkan tinjauan kami, kami menyarankan bahwa komposit Polimetil Metakrilat dan Hidroksiapatit berpotensi sebagai kandidat biomaterial untuk implan gigi trabekular berpori. Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menyelidiki biomaterial komposit ini secara in vitro dan in vivo.
Penulis: Prof. Dr. Chiquita Prahasanti, drg., Sp.Perio(K)
Link lengkap: https://rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2022-15-4-78





