Universitas Airlangga Official Website

Pemanfaatan Layanan Kesehatan Tradisional di Daerah Terpencil Indonesia

Pemanfaatan Layanan Kesehatan Tradisional di Daerah Terpencil Indonesia

Di tengah tantangan besar dalam penyediaan layanan kesehatan di Indonesia, terutama di daerah-daerah terbelakang, layanan kesehatan tradisional muncul sebagai alternatif yang signifikan. Layanan kesehatan tradisional merujuk pada perawatan medis atau pengobatan yang menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan digunakan sesuai dengan standar sosial yang berlaku. Laporan Survei Kesehatan Dasar Indonesia menunjukkan bahwa minat publik untuk menggunakan layanan kesehatan tradisional cenderung meningkat pada tahun 2018 (31,4%) dibandingkan dengan tahun 2013 (30,1%). Berdasarkan penelitian sebelumnya, pengobatan tradisional banyak dipilih oleh masyarakat di daerah pedesaan dan tidak berkembang, yang kekurangan layanan kesehatan, memiliki status sosial ekonomi rendah, berpendidikan rendah.

Di daerah-daerah yang kurang berkembang, sering terjadi ketidaksetaraan dalam distribusi pembangunan, termasuk dalam sektor kesehatan. Namun, pemanfaatan hasil alam terutama tanaman untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masih sangat tinggi. Dalam praktiknya, pengobatan tradisional diterapkan secara luas di daerah terpencil dengan fasilitas yang minim. Sebaliknya, di kota besar seperti Jakarta, dengan fasilitas yang memadai, upaya pengobatan tradisional dilaporkan sangat rendah. Studi sebelumnya menyebutkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengobatan mandiri tradisional adalah pengetahuan, kepercayaan, dan jarak dari fasilitas kesehatan. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang terkait dengan pemanfaatan THS di daerah tertinggal di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data dari Survei Kesehatan Dasar Indonesia 2018, dengan melibatkan 16.346 responden berusia 15 tahun ke atas dari daerah tertinggal di Indonesia. Penentuan daerah tertinggal ini didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020 yang meliputi 62 kabupaten di 11 provinsi di Indonesia.

Hasil studi kami mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 pemanfaatan LKT di daerah terbelakang Indonesia mencapai 17,6%. Terdapat empat faktor yang berkaitan dengan pemanfaatan layanan kesehatan tradisional di daerah tertinggal yaitu usia, status perkawinan, jenis pekerjaan, dan status kekayaan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang lebih tua lebih cenderung menggunakan layanan kesehatan tradisional. Situasi ini dapat dipahami karena dengan bertambahnya usia, kemungkinan menderita berbagai penyakit kronis meningkat, ditambah dengan risiko kematian yang lebih besar.

Di sisi lain, menurut status perkawinannya, orang yang sudah menikah lebih mungkin menggunakan layanan kesehatan tradisional dibandingkan dengan yang belum menikah. Hal ini dapat dijelaskan bahwa orang yang sudah menikah mendapatkan dukungan moral dan finansial dari pasangan mereka, sehingga memudahkan mereka untuk mencari layanan kesehatan ketika sakit. Sementara itu, bagi mereka yang belum menikah, dukungan tersebut belum tentu didapatkan.

Berdasarkan jenis pekerjaannya, selain petani, nelayan, buruh, dan lainnya, semua jenis pekerjaan, terutama kelompok wirausaha, lebih mungkin menggunakan layanan kesehatan tradisional dibandingkan dengan mereka yang tidak bekerja. Meskipun layanan pengobatan tradisional relatif murah, sering kali masih memerlukan pembayaran, terutama untuk pengobatan tradisional yang melibatkan praktisi terlatih. Kondisi ini tentu menjadi kendala bagi mereka yang tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan.

Analisis pada status kekayaannya, tampak bahwa semakin tinggi tingkat kekayaan, semakin kecil kemungkinan untuk menggunakan layanan kesehatan tradisional. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, yang menyatakan bahwa masyarakat kalangan ekonomi bawah lebih mungkin menjadi pengguna layanan kesehatan tradisional. Penelitian di India juga menunjukkan bahwa pemanfaatan pengobatan tradisional lebih tinggi di kalangan masyarakat finansial rendah. Pendapatan yang kecil pada kelompok ini menyebabkan ketidakmampuan untuk membayar perawatan konvensional. Selain itu, ada kendala lain seperti kesulitan akses ke fasilitas kesehatan, keterbatasan transportasi, dan biaya keluarga saat menunggu pasien.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan pemanfaatan layanan kesehatan tradisional di daerah tertinggal di Indonesia adalah usia, status perkawinan, pekerjaan, dan kekayaan. Pemanfaatan layanan kesehatan tradisional di daerah tertinggal Indonesia menunjukkan potensi yang besar dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Penelitian ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih holistik dalam memahami dan mengembangkan layanan kesehatan di wilayah-wilayah yang kurang terlayani. Diperlukan penelitian kualitatif lebih lanjut tentang alasan mengapa masyarakat lebih memilih layanan kesehatan tradisional dibandingkan layanan kesehatan modern. Studi lanjutan ini penting bagi pembuat kebijakan untuk mengembangkan layanan kesehatan tradisional sesuai dengan kebutuhan konsumen mereka.

Penulis: Prof. Ratna Dwi Wulandari, SKM., M.Kes.

Link: https://doi.org/10.18517/ijaseit.14.1.18581

Baca juga: Pelayanan Kesehatan Balita dan Kejadian Pneumonia Balita