Kemajuan teknologi informasi (IT) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan tenaga kesehatan. Di Indonesia, penggunaan teknologi untuk meningkatkan pembelajaran di bidang kesehatan semakin relevan, terutama setelah pandemi COVID-19 yang mempercepat adopsi pembelajaran digital. Artikel ini membahas bagaimana IT dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan kesehatan melalui studi kasus implementasi technology-enhanced healthcare education di Indonesia, dengan fokus pada pengalaman Universitas Airlangga dalam mengembangkan pendekatan inovatif berbasis teknologi.
Pendidikan tenaga kesehatan menuntut keseimbangan antara teori dan praktik klinis. Selama ini, tantangan utama di Indonesia adalah keterbatasan fasilitas pembelajaran, jumlah tenaga pengajar, dan akses ke sumber belajar berkualitas, terutama di wilayah dengan infrastruktur terbatas. Pemanfaatan IT membuka peluang untuk mengatasi kendala tersebut dengan menyediakan sarana pembelajaran yang fleksibel, interaktif, dan mudah diakses. Dalam konteks ini, teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi menjadi bagian integral dari strategi pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi dan keselamatan pasien.
Kasus yang dibahas dalam artikel ini berfokus pada inisiatif Universitas Airlangga melalui Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT) Center of Excellence for Patient Safety and Quality. Lembaga ini memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kapasitas pendidikan dan pelatihan di bidang keselamatan pasien serta mutu pelayanan kesehatan. Pendekatan yang digunakan melibatkan integrasi antara pembelajaran daring, simulasi digital, dan kolaborasi lintas institusi. Program yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada mahasiswa, tetapi juga tenaga kesehatan profesional yang membutuhkan peningkatan kompetensi berkelanjutan (continuing professional development).
Dalam pelaksanaannya, platform digital digunakan untuk mendukung berbagai bentuk pembelajaran, seperti kursus daring interaktif, modul e-learning, dan pelatihan berbasis kasus. Teknologi simulasi digunakan untuk menggantikan sebagian pengalaman praktik yang sulit dilakukan secara langsung, misalnya melalui virtual patient, video demonstrasi prosedur, dan interactive scenario training. Pendekatan ini memungkinkan peserta belajar dalam lingkungan yang aman, fleksibel, dan terukur. Selain itu, kolaborasi antaruniversitas dan institusi kesehatan memperluas jangkauan pelatihan serta memperkuat pertukaran pengetahuan.
Salah satu komponen penting keberhasilan implementasi teknologi dalam pendidikan kesehatan adalah kesiapan institusi dan pengajar. Di Universitas Airlangga, proses transformasi digital di bidang pendidikan dilakukan secara bertahap. Dosen dan instruktur mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan platform digital, pembuatan konten interaktif, serta metode evaluasi pembelajaran daring. Strategi ini memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap berorientasi pada tujuan pedagogis, bukan hanya aspek teknis. Dukungan kelembagaan juga menjadi faktor penting. Pihak universitas menyediakan infrastruktur teknologi yang memadai, dukungan teknis, serta kebijakan yang mendorong inovasi pembelajaran digital.
Namun, artikel ini juga menyoroti beberapa tantangan utama dalam penerapan technology-enhanced education di Indonesia. Kesenjangan digital masih menjadi hambatan signifikan, terutama bagi mahasiswa di daerah dengan koneksi internet terbatas. Tidak semua pengajar memiliki kemampuan teknologi yang memadai, dan sebagian masih beradaptasi dengan pendekatan baru. Selain itu, integrasi pembelajaran daring dengan kurikulum praktik lapangan memerlukan perencanaan matang agar kompetensi klinis tidak berkurang. Isu lain yang diidentifikasi adalah keberlanjutan program digital baik dari sisi pendanaan, pembaruan konten, maupun pemeliharaan sistem.
Meskipun demikian, hasil implementasi menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan pengalaman belajar dan hasil akademik mahasiswa. Mahasiswa melaporkan bahwa penggunaan simulasi digital dan platform daring membantu mereka memahami konsep kompleks dan mempraktikkan pengambilan keputusan klinis dalam situasi yang realistis. Bagi tenaga kesehatan profesional, sistem ini memperluas akses pelatihan tanpa mengganggu jadwal kerja. Penerapan IT juga memperkuat kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam membangun ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan di bidang kesehatan.
Studi kasus ini menegaskan bahwa pemanfaatan IT dalam pendidikan kesehatan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis untuk memastikan kualitas tenaga kesehatan di era digital. Keberhasilan program di Universitas Airlangga menunjukkan bahwa dengan dukungan kelembagaan, kebijakan yang jelas, serta pelatihan bagi tenaga pendidik, teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses pendidikan, dan memperkuat budaya keselamatan pasien.
Artikel ini menyimpulkan bahwa transformasi pendidikan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia memiliki potensi besar jika dijalankan secara sistematis dan kolaboratif. Diperlukan sinergi antara universitas, pemerintah, dan lembaga profesi untuk memperkuat infrastruktur digital, meningkatkan kapasitas pengajar, serta memastikan kesetaraan akses bagi semua peserta didik. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, integrasi IT dapat menjadi kunci untuk menciptakan tenaga kesehatan yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia.
Penulis: Inge Dhamanti, Salsabila
Informasi detail artikel: https://doi.org/10.1016/B978-0-443-30168-1.00013-X





