Udang vannamei merupakan hewan heteroseksual sehingga dapat dibedakan antara jantan dan betina. Akan tetapi, pada saat umur sama udang betina akan tumbuh lebih cepat sehingga ukurannya lebih besar dibandingkan udang jantan. Udang vannamei juga merupakan hewan nocturnal oleh karena itu ia lebih aktif pada malam hari daripada pada siang hari yang biasanya bersembunyi di dalam substrata tau lumpur. Pertumbuhan udang dipengaruhi oleh dua factor utama diantaranya frekuensi molting dan laju pertumbuhan disetiap kali mengalami proses molting.
Udang vannamei mempunyai sifat kanibalisme. Untuk mencari makanan ia menggunakan organ sensor dan termasuk pemakan yang lambat. Dalam siklus hidupnya terdapat 5 fase naupli, 3 fase zoea, 3 stadia mysis sebelum berkembang menjadi post larva. Kemudian stadia post larva tumbuh menjadi juvenil dan selanjutnya tahap akhir menjadi dewasa. Stadia post larva udang vaname memiliki tingkah laku yaitu bermigrasi menuju perairan estuaria untuk tumbuh dan kemudian akan kembali lagi ke perairan asal ketika sedang matang gonad.
Molting adalah suatu proses pergantian karapras ketika udang dalam proses pertumbuhan dan bersifat periodik. Pada fase tersebut ukuran tubuh akan membesar namun karpras luar tidak ikut membesar, sehingga guna penyesuaian tubuhnya udang akan melepaskan karprasnya yang lama dan membentuk karapras yang baru dengan bantuan kalsium. Karapras yang baru tebentuk memiliki tekstur yang lunak namun seiring berjalannya waktu karapras tersebut akan mengeras dan menyesuaikan dengan tubuh udang yang telah tumbuh.
Monitoring:
Suhu air berpengaruh terhadap kondisi metabolisme organisme. Suhu air selalu mengalami naik maupun turun pada siang hari bergantung pada suhu udara ataupun suhu sinar matahari. Suhu optimal bagi pertumbuhan udang vannamei berada antara 26-32℃. Apabila suhu melebihi nilai optimum akan berakibat pada kecepatan metabolisme sehingga kebutuhan oksigen akan mengalami kenaikan.          Â
Oksigen adalah salah satu parameter kualitas air yang berperan secara langsung pada proses metabolisme organisme air khususnya udang. Tersedianya oksigen terlarut dalam air menjadikan faktor pendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup udang. Kadar oksigen yang baik bagi pertumbuhan udang antara 4-6 ppm.
Derajat keasaman atau pH merupakan logaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen yang memiliki skala antara 0 hingga 14. pH adalah salah satu parameter kualitas air yang dinamis dan berfluktuasi sepanjang hari. Perairan yang tak terpengaruh oleh tingginya aktivitas biologis nilai pH umumnya dibawah 8, namun pada tambak ikan atau udang nilai pH dapat mencapai 9 ataupun lebih. Hal tersebut bisa terjadi akibat adanya proses fotosintesis yang memanfaatkan CO2. Sehingga CO2 akan bereaksi membentuk asam. pH air memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi proses dan laju reaksi kimia dalam air atau reaksi biokimia dalam air. Agar hidup dan berkembang dengan baik organisme akuatik (udang dan ikan) membutuhkan medium dengan kisaran pH 6.8-8.5 .
Salinitas merupakan parameter penting yang berkaitan dengan tekanan osmotik dan air terionisasi sebagai lingkungan internal dan eksternal. Salinitas juga berhubungan dengan tingkat kontrol osmoregulasi pada udang. Ketika salinitas berada di luar kisaran optimal, gangguan metabolisme memperlambat pertumbuhan udang karena lebih banyak energi yang digunakan dalam proses pengaturan tekanan osmotik. Kisaran salinitas optimal untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname adalah 33-40 ppt.
Plankton adalah organisme yang hanyut, atau mengapung, secara pasif, dengan arus dan di dalam kolom air, meskipun beberapa kelompok plankton agak bergerak terutama plankton golongan Arthropoda, moluska, atau cnidaria dapat berenang, tetapi gerakan seperti itu biasanya terbatas pada migrasi vertikal. Plankton merupakan organisme yang hidupnya melayang di perairan dengan rendahnya kemampuan geraknya. Organisme ini juga menjadi salah satu parameter biologi yang dapat memberikan informasi tentang kondisi kualitas serta tingkat kesuburan perairan. Plankton di perairan memiliki peran yang penting terhadap biota air yang lain karena menjadi sumber pakan alami. Sehingga jika ketersediaan plankton tidak tercukupi maka mengakibatkan terganggunya hubungan tingkat tropik selanjutnya.
Plankton adalah biota yang beranekaragam dan padat di perairan. Sebagian besar biota air memiliki fase daur hidup lebih dari satu, pada saat larva ataupun juvenil hidupnya sebagai plankton. Plankton memiliki sifat autotrof yakni mengubah zat hara anorganik menjadi bahan organik serta penghasil oksigen bagi kehidupan makhluk hidup lainnya dengan cara proses fotosintesis.
Fitoplankton biasa disebut plankton nabati yakni tumbuhan yang hidupnya mengapung dan melayang-layang di perairan. Fitoplankton secara umum berupa individu bersel satu, namun juga ada yang berbentuk rantai. Ukurannya kecil berkisar 2-200µm dan tak nampak dilihat dengan mata telanjang sehingga membutuhkan alat bantu mikroskop. Meskipun memiliki ukuran yang sangat kecil, fitoplankton bisa berkembang dengan cepat dan padat sehingga menyebabkan warna air berubah. Fitoplankton memiliki kemampuan dalam berfotosintesis, sehingga disebut produsen primer. Bahan organik yang dihasilkan dari proses fotosintesis nantinya dimanfaatkan sumber energi bagi biota lainnya melalui rantai makanan. Hampir keseluruhan biota air secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada fitoplankton melalui rantai makanan.
Zooplankton dikenal sebagai plankton hewani yang hidupnya melayang di perairan. Zooplankton juga memiliki kemampuan bergerak yang terbatas sehingga pergerakannya juga bergantung pada arus perairan. Kelompok plankton ini bersifat heterotrof yang berarti tidak dapat menghasilkan bahan organik sendiri sehingga bergantung pada fitoplankton untuk dijadikan makanannya. Peranan zooplankton diperairan sebagai konsumen pertama dalam rantai makanan.
Mayoritas zooplankton makroskopis berbentuk uniseluler atau multiseluler dengan ukuran mulai 0,2-2mm. Keberadaan zooplankton dijadikan sebagai penilaian transfer pada tingkat trofik sekunder. Hal tersebut karena zooplankton memakan fitoplankton dan menyediakan fasilitas bahan tumbuhan menjadi jaringan hewan. Selanjutnya zooplankton menjadi makanan dasar bagi hewan tingkat tinggi yakni ikan khususnya larva.
Penulis: LUTHFIANA APRILIANITA SARI
Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga, Surabaya 60115, Indonesia





