Penggunaan kortikosteroid adalah pengobatan utama untuk mengatasi reaksi kusta, terutama pada kasus reaksi tipe 1 yang dapat menyebabkan peradangan hebat pada kulit dan saraf. Namun, penggunaan jangka panjang kortikosteroid dapat menimbulkan efek samping serius, salah satunya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hipertensi akibat kortikosteroid dapat terjadi karena obat ini mempengaruhi keseimbangan cairan dan garam dalam tubuh, serta meningkatkan tekanan pada pembuluh darah. Risiko hipertensi semakin tinggi pada pasien yang mendapat dosis tinggi atau terapi jangka panjang.
Penelitian retrospektif dilakukan dengan menelaah rekam medis pasien kusta yang mendapatkan pengobatan kortikosteroid selama periode tahun 2015–2024, didapatkan 127 pasien reaksi kusta yang mendapatkan pengobatan kortikosteroid.
Hasil penelitian ini menunjukan sebanyak 70,1% pasien reaksi kusta datang lebih dari 8 minggu setelah gejala muncul, dengan keluhan pada saraf yang berat atau adanya kelainan bentuk, sehingga memerlukan pengobatan kortiksoteroid dosis tinggi dalam jangka panjang (rata-rata 52,3±8,1 mg/hari selama 18,3±4,1 minggu). Sebanyak 78,6% pasien reaksi kusta yang datang terlambat mengalami hipertensi terkait pengobatan kortikosteroid, dibandingkan 10,5% pasien reaksi kusta yang datang lebih awal (p<0,001). Pengobatan kortikosteroid yang terlambat pada pasien reaksi kusta berkorelasi dengan risiko kecacatan permanen 4,1 kali lebih tinggi (95% CI: 2,3–7,4) dan peningkatan 3,2 kali gangguan pengobatan akibat komplikasi hipertensi (95% CI: 1,8–5,7).
Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya penatalaksanaan terintegrasi termasuk pelatihan layanan primer untuk deteksi dini reaksi kusta, pemantauan rutin tekanan darah selama pengobatan kortikosteroid, dan edukasi masyarakat untuk menurunkan morbiditas akibat reaksi kusta dan hipertensi yang dapat dicegah.
Penulis: Yuri Widia,dr.Sp.DVE,Subsp.DA
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Corticosteroid-Induced hypertension in delayed leprosy reactions: the icebergphenomenon at Dr. Soetomo Hospital (2015–2024)
Dyfe Alisya Putri, Yuri Widia, Medhi Denisa Alinda, Pradana Zaky Romadhon





