UNAIR NEWS – Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga (UNAIR) akan kembali berlangsung. Lebih dari dua ribu mahasiswa akan terjun ke masyarakat pada 8 Januari–3 Februari 2024 mendatang. Untuk itu, LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UNAIR menggelar pembekalan mahasiswa pada Minggu (17/12/2023) di Auditorium Ternate, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR.
Bersinergi dengan Pemerintah
Pada BBK yang ketiga ini, salah satu wilayah penempatan mahasiswa adalah Kota Surabaya. Ketua LPPM UNAIR, Dr Gadis Meinar Sari dr MKes mengatakan, mahasiswa BBK nantinya akan membantu Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani permasalahan di lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, dr Gadis mengimbau mahasiswa untuk menyesuaikan program kerja sesuai bidang ilmu masing-masing.
Tidak hanya itu, dr Gadis juga mengingatkan agar mahasiswa BBK dapat bersinergi dengan Pemerintah Kota Surabaya dalam menjalankan program kerja. “Program kerja harus berdasarkan masalah di wahana BBK dan bersinergi dengan pemerintah. Tentunya dalam menjalankan program kerja ini juga harus sesuai disiplin ilmu masing-masing, tidak memaksakan,” ucap dr Gadis.

Atasi Masalah di Surabaya
Febrina Kusumawati dari Bappeko (Badan Perencanaan Pembangunan Kota) Surabaya menuturkan, meskipun Surabaya merupakan kota metropolitan, tetapi kota ini masih menyimpan berbagai permasalahan. Salah satunya adalah masalah di sektor ekonomi, yaitu kemiskinan. “Saat ini kemiskinan di Surabaya berada pada angka 4,5 persen. Kami harap angkanya bisa turun menjadi 2 persen di tahun depan. Sekarang masih 23 ribu, dan kita harap di tahun depan 0,” ujarnya.
Selain kemiskinan, angka kematian ibu dan anak serta tingkat bayi stunting di Surabaya juga masih terbilang tinggi. Sebelumnya, Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan langkah-langkah penanganan. Akan tetapi, masalah tersebut masih belum dapat terselesaikan secara maksimal. “Kita juga ingin angka kematian ibu dan bayi stunting ini sudah tidak ada. Sebenarnya kita juga sudah menjalankan beberapa pendekatan ya, seperti mendampingi calon pengantin, mengecek kondisi kesehatan sehingga bisa mengantisipasi kondisi yang tidak sehat,” jelasnya.
Di bidang pendidikan, Kota Surabaya juga tidak luput dari kekurangan. Tingkat penduduk yang bersekolah hingga 12 tahun masih berada pada angka yang rendah. Rata-rata masa sekolah penduduk adalah 10 tahun. “Rata-rata anak sekolah di Surabaya masih 10 tahun padahal amanat dari pusat ini 12 tahun,” katanya.
Febrina mengungkap, permasalahan berbagai sektor di Kota Surabaya dapat terselesaikan melalui kolaborasi termasuk dengan UNAIR. Hal itu telah terbukti sebab sejak lama Pemerintah Kota Surabaya menggandeng UNAIR untuk bekerja sama di bidang kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi. Untuk itu, ia berharap agar mahasiswa BBK UNAIR dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat sesuai dengan bidang masing-masing untuk perbaikan Kota Surabaya. “Jadi teman-teman BBK semua nanti bisa mengimplementasikan sesuai fakultas masing-masing,” tegasnya.
Penulis: Yulia Rohmawati
Editor: Feri Fenoria





