Universitas Airlangga Official Website

Pemberdayaan Perempuan Lanjut Usia di Pedesaan Indonesia

Pemberdayaan Perempuan Lanjut Usia di Pedesaan Indonesia
Photo by pngtree

Seiring dengan peningkatan proporsi populasi lanjut usia di Indonesia yang diproyeksikan mencapai lebih dari 70 juta jiwa dalam beberapa tahun mendatang, isu kesejahteraan dan inklusi sosial kelompok rentan ini menjadi semakin krusial untuk ditangani. Namun, terlepas dari kemajuan pembangunan dan kesetaraan gender secara umum, perempuan lanjut usia di pedesaan terpencil seringkali masih mengalami marginalisasi yang bersifat multidimensional akibat interseksi antara gender, usia, kemiskinan, keterpencilan geografis, serta norma budaya yang membatasi otonomi mereka.

Studi fenomenologis yang dilakukan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini mengungkap realitas yang dihadapi perempuan lanjut usia di desa-desa terpencil, di mana keterbatasan akses terhadap layanan publik esensial seperti fasilitas kesehatan, transportasi, dan dukungan sosial sangat kontras dibandingkan dengan situasi kelompok demografis serupa di wilayah perkotaan. Ketiadaan transportasi umum yang memadai dan buruknya infrastruktur jalan semakin memperdalam isolasi dan ketergantungan mereka. Terlepas dari peran vital mereka sebagai penyedia perawatan dalam keluarga dan penjaga kearifan lokal, perempuan lanjut usia ini justru seringkali terabaikan dari program-program pemberdayaan dan jaminan kesejahteraan yang umumnya lebih berfokus pada kelompok usia produktif di area urban.

Namun, di tengah berbagai keterbatasan yang ada, para perempuan lanjut usia ini menunjukkan ketangguhan yang luar biasa dalam mengatasi kesulitan hidup. Meskipun terbelenggu oleh peran gender tradisional dan minimnya akses terhadap peluang ekonomi yang stabil, mereka secara gigih berupaya menemukan makna, martabat, dan komunitas dengan cara mereka sendiri. Ikatan persaudaraan yang erat di antara sesama perempuan lanjut usia menjadi sumber kekuatan dan pemberdayaan diri yang signifikan. Melalui berbagi cerita, canda tawa, dan dukungan emosional, mereka mampu saling menguatkan dan menemukan tujuan hidup di masa senja.

Ketangguhan mereka juga tercermin dalam praktik gotong royong dan kemandirian dalam menghadapi permasalahan kesehatan. Dengan saling berbagi pengetahuan tentang pengobatan tradisional dan perawatan preventif, mereka mampu mengurangi ketergantungan pada sistem layanan kesehatan yang tidak memadai di desa-desa terpencil. Kebersamaan dalam melakukan aktivitas produktif skala kecil, seperti kerajinan tangan, tidak hanya memberikan pendapatan tambahan, tetapi juga memupuk rasa keberhasilan dan kepuasan yang mendalam.

Pengalaman hidup mereka mengungkapkan bahwa pemberdayaan sejati tidak hanya berpusat pada pencapaian prestasi besar, tetapi justru berakar pada perjuangan sehari-hari dalam mengklaim otonomi, martabat, dan solidaritas di tengah berbagai keterbatasan yang ada. Meskipun norma sosial dan kekurangan sistem seringkali meminggirkan eksistensi dan suara mereka, perempuan lanjut usia di pedesaan mampu menemukan kekuatan dari dalam diri dan sesama untuk bertahan, berkembang, serta menjadi agen perubahan dalam skala kecil namun bermakna.

Temuan ini menekankan perlunya pendekatan layanan publik yang lebih partisipatif dan inklusif, alih-alih kebijakan pembangunan top-down yang seringkali mengabaikan perspektif kelompok marginal. Dengan secara aktif melibatkan perempuan lanjut usia sebagai mitra dalam perencanaan dan implementasi program-program yang menyasar kesejahteraan mereka, intervensi yang dihasilkan akan lebih responsif dan kontekstual. Kearifan dan ketangguhan yang telah mereka asah dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup merupakan modal berharga untuk memandu arah pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur dan indikator ekonomi semata, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu merangkul dan memberdayakan mereka yang paling rentan dan terpinggirkan. Dengan mendengarkan suara dan mengakui kontribusi perempuan lanjut usia di pedesaan, kita tidak hanya menghormati martabat dan kebijaksanaan mereka, tetapi juga memperkaya pemahaman kita tentang resiliensi dan solidaritas manusia dalam menghadapi tantangan hidup. Kisah ketangguhan mereka menginspirasi kita untuk terus berjuang menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, di mana setiap individu, terlepas dari usia dan latar belakangnya, berkesempatan untuk berkembang, berbagi, dan bermakna hingga akhir hayatnya.

Penulis: Dr. Erna Setijaningrum, S.IP., M.Si.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/thriving-through-time-resilience-and-empowerment-for-aging-women-/fingerprints/

Baca juga: Perilaku Konsumtif Perempuan untuk Produk Perawatan Kulit