Universitas Airlangga Official Website

Pemeriksaan Biomarker Jaringan Pada Kanker Kolorektal

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kanker kolorektal merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Pada tahun 2022, hampir 1,9 juta kasus baru kanker kolorektal didiagnosis secara global, menjadikannya kanker ketiga tersering dan penyebab kematian akibat kanker terbesar kedua di dunia. Angka ini menunjukkan bahwa kanker kolorektal bukan hanya masalah klinis, tetapi juga tantangan kesehatan masyarakat. Pemeriksaan molekuler menunjukkan bahwa kanker kolorektal bukanlah penyakit yang seragam. Setiap tumor dapat memiliki karakter biologis yang berbeda, sehingga respons terhadap pengobatan dan prognosis pasien pun bervariasi. Di sinilah pemeriksaan biomarker jaringan diperlukan untuk setiap pasien penderita kanker kolorektal.

Biomarker jaringan adalah molekul atau karakteristik biologis yang dapat diperiksa langsung dari jaringan tumor, seperti protein atau mutasi gen tertentu. Biomarker ini dapat memberikan informasi penting mengenai: asal tumor, tingkat keganasan tumor, prediksi respons terhadap terapi serta prognosis pasien. Dengan kata lain, pemeriksaan biomarker jaringan memungkinkan dokter menerapkan konsep pengobatan yang dipersonalisasi (personalized medicine)—terapi yang disesuaikan dengan karakter molekuler tumor masing-masing pasien.

1) Peran biomarker jaringan dalam menentukan asal tumor

Pada kanker kolorektal, salah satu tantangan utama adalah memastikan bahwa suatu tumor benar-benar berasal dari usus besar, terutama bila ditemukan sebagai metastasis di organ lain seperti hati atau paru. Pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi CK7 dan CK20 menjadi langkah awal yang penting. Pola khas kanker kolorektal adalah: CK7 negatif disertai CK20 positif. Jika ditemukan pola ini, menunjukkan bahwa tumor kemungkinan besar berasal dari kolon. Untuk meningkatkan ketepatan diagnosis, marker jaringan tambahan diperlukan: CDX2 (positif pada sekitar 95% kanker kolorektal) dan SATB2 (marker dengan spesifisitas sangat tinggi untuk jaringan kolorektal, bahkan tetap positif pada kasus dengan diferensiasi buruk). Kombinasi CK7–/CK20+/CDX2+/SATB2+ saat ini dianggap sebagai “sidik jari” imunohistokimia yang sangat andal untuk memastikan diagnosis kanker kolorektal.

2) Peran biomarker jaringan untuk menentukan prognosis (masa depan suatu penyakit).

Selain diagnosis, biomarker juga membantu memprediksi perjalanan penyakit. Salah satu biomarker penting adalah sistem perbaikan DNA yang dikenal sebagai Mismatch Repair (MMR), yang melibatkan protein MLH1, MSH2, MSH6, dan PMS2. Jika sistem ini terganggu (disebut defisiensi MMR atau MSI-H), tumor akan memiliki banyak mutasi. Menariknya, kanker kolorektal dengan MSI-H memiliki sifat: cenderung memiliki prognosis lebih baik pada stadium awal, memiliki risiko metastasis yang lebih rendah dan sangat responsif terhadap imunoterapi. Sebaliknya, kanker kolorektal dengan MMR normal (MSS/pMMR) umumnya kurang responsif terhadap imunoterapi.

3) Peran biomarker jaringan dalam menentukan terapi target.

Tidak semua pasien kanker kolorektal akan mendapatkan manfaat dari terapi target tertentu. Pemeriksaan mutasi gen KRAS menjadi krusial sebelum pemberian terapi anti-EGFR seperti cetuximab atau panitumumab. Yang perlu diperhatikan adalah: tumor dengan mutasi KRAS tidak akan merespons terapi anti-EGFR. Tumor dengan KRAS tipe wild-type berpotensi mendapatkan manfaat dari terapi tersebut. Sementara itu, mutasi BRAF V600E menandakan tumor dengan sifat biologis yang lebih agresif dan respons yang buruk terhadap kemoterapi standar. Mutasi ini juga membantu membedakan kanker kolorektal sporadik dari kanker herediter (Lynch syndrome). Pasien dengan mutasi BRAF V600E kini dapat memperoleh terapi kombinasi khusus yang menargetkan jalur molekuler tersebut, menandai kemajuan penting dalam pengobatan kanker kolorektal.

Meskipun manfaat biomarker sudah jelas, implementasinya dalam praktik sehari-hari masih belum optimal. Banyak pasien menerima terapi tanpa pemeriksaan biomarker lengkap, yang berisiko menyebabkan: pengobatan kurang efektif, efek samping yang tidak perlu serta pemborosan biaya. Padahal, pemeriksaan biomarker sebelum terapi justru meningkatkan efisiensi dan hasil klinis jangka panjang. Dapat disimpulan bahwa biomarker jaringan telah mengubah cara kita memahami dan menangani kanker kolorektal. Dari penegakan diagnosis hingga pemilihan terapi dan penentuan prognosis, biomarker memungkinkan pendekatan yang lebih akurat, rasional, dan personal. Pada masa yang akan datang, integrasi pemeriksaan biomarker jaringan dalam praktik klinis rutin bukan lagi pilihan, melainkan merupakan suatu kebutuhan. Dengan pemeriksaan biomarker jaringan yang tepat, pengobatan kanker kolorektal dapat menjadi lebih efektif dan memberikan harapan hidup yang lebih baik bagi pasien.

Artikel Ilmiah Populer diambil dari artikel Jurnal dengan judul:

Tissue Biomarker in Colorectal Carcinoma, dengan penulis: Putu Indira Pradnyani dan Willy Sandhika, yang telah terbit pada: GSC Biological and Pharmaceutical Sciences, volume 33 nomer 03 tanggal 2 Januari 2026.

Link jurnal: https://gsconlinepress.com/journals/gscbps/content/tissue-biomarker-colorectal-carcinoma