Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas seperti Aceh Tenggara. Berdasarkan hal tersebut, maka pemodelan ISPA pada anak di daerah tersebut merupakan sesuatu yang penting dan bermanfaat untuk melihat perkembangan penyakit serta memperkirakan terjadinya penyakit tersebut di masa yang akan akan datang. Di dalam artikel ini dimodelkan faktor-faktor risiko ISPA pada anak dengan dua pendekatan statistik, yaitu Binary Logistic Regression dan Multivariate Adaptive Regression Splines (MARS) dan setelah itu ditentukan metode terbaik dalam mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang relevan.
Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Puskesmas Deleng Pokhkisen, Aceh Tenggara, dengan tujuh variabel prediktor yang meliputi usia ibu, pendidikan ibu, pengetahuan ibu, sikap ibu, pemberian ASI eksklusif, ventilasi rumah, dan kepadatan hunian. Penggunaan Regresi Logistik dalam pemodelan probabilitas kejadian ISPA ini memakai fungsi logit, uji Rasio Likelihood, uji Wald, dan uji Hosmer Lemeshow. Sedangkan penggunaan metode MARS diarahkan pada pembentukan fungsi basis untuk menangkap hubungan nonlinier dan interaksi antar variabel. Evaluasi performa model dilakukan menggunakan metrik klasifikasi: akurasi, presisi, recall, spesifisitas, dan F1-score.
Secara umum hasil penelitian menunjukkan, bahwa metode Regresi Logistik menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan metode MARS yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Metode Regresi logistik : besar akurasi 86,96%, presisi 85,00%, recall 91,89%, spesifisitas 81,25%, dan F1-score 88,30%.
b. Metode MARS: besar akurasi 81,16%, presisi 75,00%, recall 97,30%, spesifisitas 62,50%, dan F1-score 84,70%.
Variabel yang signifikan dalam Regresi logistik adalah:
a. Pemberian ASI eksklusif (menurunkan risiko ISPA sebesar 92,6%),
b. Ventilasi rumah standar (menurunkan risiko sebesar 90,9%),
c. Kepadatan hunian rendah (menurunkan risiko sebesar 86,3%).
Sementara itu, MARS mengidentifikasi dua interaksi penting, yaitu :
a. Kombinasi pengetahuan ibu yang baik dan hunian tidak padat berkontribusi kuat terhadap penurunan risiko ISPA, dan
b. Kombinasi tingkat pendidikan ibu yang tinggi dan pemberian ASI eksklusif juga berkontribusi, meskipun dengan dampak yang lebih kecil.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh, bahwa metode Regresi Logistik dan metode MARS keduanya berhasil mengidentifikasi faktor-faktor penting yang memengaruhi kejadian ISPA. Namun metode Regresi Logistik lebih unggul dibandingkan metode MARS, karena memiliki akurasi klasifikasi yang lebih tinggi. Sebaliknya, metode MARS lebih sensitif dalam mendeteksi kasus positif, meskipun lebih rentan terhadap kesalahan klasifikasi (false positives). Artikel selengkapnya terkait permasalahan yang disajikan dapat diakses melalui link yang diberikan di bawah. Dan semoga artikel ini dapat menjadi media pembelajaran sekaligus menambah wawasan kita terkait penyakit ISPA pada anak.
Penulis:Â Ardi Kurniawan
Artikel lengkap (open access) dapat diakses melalui laman: https://doi.org/10.18860/cauchy.v10i2.33833





