Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M.tb). Peningkatan kembali kasus TBC pada masa remaja diperkirakan berhubungan dengan hormon seks, perubahan pola kontak sosial dan perubahan perilaku yang menyebabkan perubahan imunologis. Deteksi TBC remaja di sekolah memberikan gambaran bahwa transmisi bisa terjadi di sekolah sehingga investigasi kontak pada remaja, sebaiknya mencakup orang serumah serta sekolah. Remaja dengan TBC paru bisa menjadi sumber penularan karena sebagian besar kasus merupakan bentuk TBC dewasa dan kontak sosial yang tinggi. Tantangan lain pada TBC remaja adalah faktor psikososial seperti pergaulan yang luas, ketakutan akan stigma, ketidakpatuhan minum obat, gangguan belajar dan kognitif, depresi, komorbiditas seperti HIV, dan perilaku berisiko seperti merokok, konsumsi alkohol, dan penyalahgunaan obat. Tuberkulosis milier adalah bentuk fatal dari penyakit disemininata karena penyebaran basilus tuberkel secara hematogen ke paru dan organ lainnya. Gejala umum TBC dapat ditemukan, namun seringkali tidak khas sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis. Beberapa studi di negara lain menunjukkan remaja dengan TBC mengalami mood depresi hingga kecemasan. Banyak anak dan remaja mendeskripsikan pengalaman menyerupai psikosis yang mungkin berhubungan dengan psikopatologi lainnya dan pengalaman masa lampau (seperti trauma, pengunaan obat-obatan dan percobaan bunuh diri). Skizoafektif didiagnosis berdasarkan fitur skizofrenia dan episode
mayor mood yang muncul bersamaan. Patogenesis skizofrenia dan gangguan mood adalah multifaktorial termasuk genetik, faktor sosial, trauma dan stress. Diperkirakan sekitar 1,8 juta remaja dan dewasa muda di dunia menderita TBC setiap tahun yang mencakup 20% dari kasus global. Pada tahun 2022 tercatat ada 38.720 kasus TBC pada anak dan remaja 15-19 tahun di Indonesia. Risiko TBC meningkat pada remaja putri mulai sekitar menarche hingga puncaknya pada masa remaja pertengahan. Masalah mental utama terkait TBC adalah kecemasan dan depresi. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa remaja sakit TBC lebih rentan mengalami gangguan mental dan emosional. Orang yang didiagnosis TBC melaporkan
distres psikososial, sakit, stigma, penurunan kapasitas olah raga dan kualitas hidup yang buruk setelah selesai pengobatan TBC. Pendekatan diagnosis TBC remaja hampir sama dengan kasus TBC pada umumnya dimulai dari anamnesis, pemerikaan fisik dan penunjang.
Pendekatan diagnosis TBC pada remaja juga perlu memperhatikan masalah mental karena internalisasi stigma. Pengobatan TBC remaja mengikuti panduan obat anti tuberkulosis (OAT) dewasa karena cenderung memiliki jumlah bakteri yang lebih banyak dan dengan bentuk kerusakan paru yang lebih lanjut. Intervensi psikososial bisa memperbaiki kesehatan mental dan kepatuhan pengobatan TBC.
Studi kasus longitudinal seorang remaja perempuan berusia 17 tahun dengan TBC milier dan Skizoafekttif yang ditinjau dari aspek medis dan tumbuh kembang telah dilaporkan. Anamesa, pemeriksaan fisik dan penunjang terhadap pasien sesuai dengan TBC (batuk 1 bulan, demam dan sesak), pada pemeriksaan fisik ditemukan ronkhi, pada penunjang didapatkan gambaran foto polos dada sesuai dengan gambaran milier, serta hasil TCM dahak positif rifampisin sensitif. Pasien lalu diberikan pengobatan sesuai ketentuan TBC remaja untuk TBC milier 12 bulan, dilakukan pemantauan berkala (gejala, efek samping dan penunjang), dilakukan proses inventigasi kontak, pengenalan faktor resiko serta edukasi mengenai pendidikan terkait pasien masih sebagai pelajar aktif. Berdasarkan aspek medis pasien dari awal sampai akhir pengobatan didapatkan kepatuhan pengobatan yang baik. Secara klinis pasien sudah mengalami perbaikan kondisi yang signifikan. Pasien sudah tidak ada keluhan secara klinis. Dari aspek pertumbuhan, pada saat awal pengobatan didapatkan pasien dengan status gizi kurang dari perhitungan kurva CDC. Pada akhir pengamatan, seiring dengan pemberian terapi, status gizi mengalami perbaikan menjadi gizi baik. Berdasarkan aspek psikososial pasien, pada pertengahan pengamatan, didapatkan pencetus stresor yang memicu pasien mengalami gangguan Skizoafektif. Pada akhir pengamatan, pasien sudah tidak mengalami halusinasi dengan depresi dan cemas ringan yang sudah membaik dengan pemberian medika mentosa. Secara keseluruhan pada akhir pengamatan didapatkan perbaikan pada aspek medis, tumbuh kembang, dan psikososial pasien ini. Tetap perlu dilakukan follow up lebih lanjut hingga selesai pengobatan dengan melakukan evaluasi
keluhan tiap 6 bulan. Untuk mencapai itu semua diperlukan kerja sama multidisiplin yang baik antara pasien, keluarga, lingkungan, dan pihak tenaga medis. Diagnosis dan intervensi dini, serta tata laksana yang tepat akan memberikan prognosis yang baik pada pasien remaja dengan TBC milier dan gangguan Skizoafektif.
Disarikan dari artikel dengan judul: “Comprehensive management for miliary tuberculosis associated with schizoaffective disorder in an adolescent female: A case report” yang diterbitkan di Edelweiss Applied Science and Technology. 2025;9(2): 525-534
Link: https://learning-gate.com/index.php/2576-8484/article/view/4518
Penulis:
Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Scopus ID 56705347700
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga





