Universitas Airlangga Official Website

Pendekatan Baru untuk Ketahanan Ekosistem Usus

ASI mengandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan oleh bayi baru lahir karena mengandung vitamin (A, B1, B12, D, dan K), yodium, zat besi [1], dan mikrobiota yang beragam [2] seperti bakteri probiotik [3]. ASI merupakan sumber bakteri probiotik yang sangat penting untuk menjaga mikroflora saluran pencernaan pada bayi, karena probiotik dalam ASI dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memberikan perlindungan terhadap bakteri patogen pada sistem pencernaan [4], oleh karena itu isolat bakteri probiotik yang berasal dari habitat manusia diantisipasi untuk dapat beradaptasi dengan mudah di dalam sistem pencernaan apabila diaplikasikan pada produk pangan siap saji [2].

Untuk mendapatkan isolat murni bakteri probiotik indigenous dengan spesies yang terdefinisi dengan baik dan karakteristik fisik, kimia, dan biokimia yang komprehensif, penentuan bakteri probiotik harus dilanjutkan dengan mengevaluasi kemampuannya dalam menghasilkan senyawa bioaktif bakteriosin, melalui uji biokimia dan molekuler.

Penyebab infeksi saluran pencernaan yang sering terjadi [3] adalah makanan dan minuman yang mengandung mikroba patogen. Antibiotik sering digunakan untuk membasmi mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Resistensi antibiotik dapat disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau berlebihan, yang saat ini menjadi masalah kesehatan global [4]. Agen antibakteri alami yang dihasilkan oleh bakteri probiotik adalah cara terbaik untuk menjaga kondisi usus yang sehat, memungkinkan sistem saraf dan hormon berfungsi dengan baik dan merangsang perkembangan sistem kekebalan tubuh, yang salah satu fungsinya adalah melindungi dari virus COVID-19.

Telah dibuktikan secara klinis bahwa Lactiplantibacillus plantarum 299v tidak menimbulkan resistensi antibiotik, membantu penyerapan zat besi, dan dapat digunakan untuk mengobati sindrom iritasi usus besar (IBS) dan infeksi sistem pencernaan lainnya [5]. Bakteri berbahaya Escherichia coli ATCC 30105, Bacillus subtilis ATCC 6633, dan Micrococcus luteus ATCC 4698 tidak dapat berkembang karena Lactiplantibacillus plantarum, yang ditemukan pada kotoran babi Bamei, mampu menghasilkan antibiotik dari asam organik [6]. L. plantarum telah dianalisis dari berbagai jenis makanan di beberapa daerah.

Saat ini, L. plantarum telah diisolasi dari yoghurt Bulgaria [6], kimchi air lobak Korea [7], feses babi Bamei di Cina [6], dan makanan fermentasi Fufu Nigeria [7]. Strain asli Indonesia yang ditemukan dalam penelitian ini yang diisolasi dari ASI memiliki kemungkinan besar untuk mengkolonisasi usus manusia. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan, terutama mengenai atribut yang mencirikan kemampuan probiotik.

Berdasarkan hasil penelitian kami, Lactiplantacillus plantarum-12INH asli Indonesia memiliki karakteristik sebagai berikut: Berbentuk batang, katalase negatif, berukuran 1,26-2,34 m, mampu bertahan hidup pada pH rendah (2, 3, dan 4), garam empedu 3%, dan suhu 30, 37, dan 45 °C, Selain itu, Bakteri ini juga dapat menghasilkan metabolit sekunder bakteriosin dengan berat molekul 13,59 kDa yang memiliki kemampuan sebagai anti mikroba terhadap pertumbuhan bakteri E. coli pada kondisi pH 2, 4, 6, 8, dan 10 serta suhu 40°C, 60, 80, 100, dan 120°C yang mirip dengan antibiotik amoksisilin dan tetrasiklin; memiliki potensi untuk digunakan sebagai makanan fungsional dan sebagai alternatif agen antibakteri alami standar untuk membantu pencernaan sambil mempertahankan mikrobioma usus yang sehat.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono

Link tulisan lengkap : https://www.mdpi.com/2076-3417/13/13/7378

Hanidah, I. I., Kamal, G. R., Nurhadi, B., Lani, M. N., Andriyono, S., Moody, S. D., & Harlina, P. W. (2023). A Novel Approach for Gut Ecosystem Resilience: Evaluating Lacti-plantibacillus plantarum-12INH as a Promising Natural Antibacterial Agent. Applied Sciences13(13), 7378.