Penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dijumpai di berbagai negara. Di balik penyakit tersebut, terdapat berbagai mikroorganisme penyebab infeksi, salah satunya adalah Cryptosporidium parvum, parasit mikroskopis yang dapat menginfeksi manusia maupun hewan. Meski ukurannya hanya sekitar 4–6 mikrometer, parasit ini mampu menyebabkan kerusakan saluran pencernaan, terutama pada bayi, individu dengan sistem imun lemah, serta hewan ternak yang baru lahir. Bagi para peneliti, tantangan terbesar bukan hanya mendeteksi keberadaan parasit tersebut, tetapi juga menghitung jumlahnya secara akurat. Jumlah ookista (stadium infektif yang dikeluarkan bersama feses) menjadi indikator penting untuk mengetahui tingkat keparahan infeksi sekaligus mengevaluasi efektivitas suatu pengobatan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Aditya Yudhana, dosen Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam, Universitas Airlangga (UNAIR), yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Osaka Metropolitan University, Jepang, bersama tim peneliti internasional berhasil mengembangkan metode baru bernama Quantitative Sugar-flotation in a Cover-slide System (QUSIC). Metode tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Experimental Parasitology dan menawarkan pendekatan yang lebih sederhana, sensitif, serta ekonomis untuk menghitung jumlah ookista Cryptosporidium parvum pada sampel feses.
“Selama ini, metode yang tersedia umumnya hanya mampu menunjukkan ada atau tidaknya parasit. Padahal, dalam penelitian maupun evaluasi terapi, kita juga perlu mengetahui berapa banyak ookista yang dikeluarkan. Informasi tersebut sangat penting untuk menilai tingkat keparahan infeksi maupun keberhasilan pengobatan,” jelas Aditya. Metode kuantitatif yang selama ini digunakan masih memiliki berbagai keterbatasan. Pemeriksaan umum dengan menggunakan metode McMaster tidak bisa dietrapkan untuk deteksi ookista Cryptosporidium, sedangkan metode molekuler seperti quantitative PCR (qPCR) membutuhkan peralatan laboratorium yang mahal, tenaga terlatih, dan keseluruhan prosedur yang terbilang kompleks. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi laboratorium dengan fasilitas yang terbatas.
Melalui penelitian tersebut, tim mengoptimalkan berbagai parameter yang memengaruhi keberhasilan proses pengapungan (flotasi) ookista, mulai dari konsentrasi larutan gula, waktu inkubasi, hingga strategi penghitungan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan sukrosa dengan specific gravity (SG) 1,234 dan waktu inkubasi selama 60 menit mampu menghasilkan tingkat flotasi ookista hingga sekitar 97,5 %, sehingga memberikan hasil kuantifikasi yang sangat akurat.
Menariknya, penelitian ini juga mengungkap bahwa penggunaan larutan gula yang terlalu pekat justru dapat merusak struktur ookista. Sebaliknya, larutan yang terlalu encer menyebabkan banyak ookista gagal mengapung ke permukaan sehingga tidak dapat dihitung secara optimal. Waktu inkubasi juga menjadi faktor penting. Inkubasi yang terlalu singkat membuat sebagian ookista belum mencapai permukaan, sedangkan inkubasi yang terlalu lama menyebabkan sebagian ookista mengalami kerusakan akibat tekanan osmotik larutan gula.
“Yang menarik dari penelitian ini adalah kami menemukan kondisi yang benar-benar optimal. Tidak selalu semakin pekat larutannya semakin baik, atau semakin lama inkubasinya semakin akurat. Justru ada titik optimum yang menghasilkan jumlah ookista paling tinggi dan paling representatif,” kata Aditya.
Selain mengoptimalkan proses flotasi, tim juga mengembangkan strategi penghitungan yang berbeda sesuai banyaknya ookista pada sampel feses. Strategi tersebut memungkinkan proses analisis berlangsung lebih cepat tanpa mengurangi tingkat ketelitian hasil. Pada berbagai konsentrasi ookista, metode QUSIC mampu mempertahankan sensitivitas antara 83,3 hingga 98,2 %, menunjukkan kestabilan jika digunakan untuk evaluasi pada kondisi infeksi ringan maupun berat. Keunggulan lain dari metode ini adalah kemudahannya untuk diterapkan di laboratorium. QUSIC tidak memerlukan ruang hitung khusus maupun instrumen molekuler yang mahal. Seluruh prosedur dapat dilakukan menggunakan peralatan mikroskopi yang umum tersedia dengan waktu pemeriksaan sekitar satu hingga dua jam.
Menurut Aditya, kondisi tersebut membuka peluang bagi laboratorium diagnostik veteriner, laboratorium pendidikan, maupun pusat penelitian di berbagai negara berkembang untuk melakukan analisis kuantitatif Cryptosporidium dengan biaya yang lebih terjangkau. “Harapan kami, metode ini tidak hanya bermanfaat bagi penelitian dasar, tetapi juga dapat membantu dokter hewan dan peneliti dalam memantau perkembangan infeksi maupun mengevaluasi efektivitas obat antiparasit yang sedang dikembangkan,” ujarnya.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi antara Osaka Metropolitan University, Universitas Airlangga, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ke depan, tim peneliti berencana menguji penerapan metode QUSIC pada berbagai jenis sampel dari hewan ternak, hewan peliharaan, hewan liar, maupun manusia sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dalam bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat.
Melalui inovasi tersebut, peneliti UNAIR kembali menunjukkan kontribusinya dalam menghasilkan solusi ilmiah yang tidak hanya memiliki nilai akademik tinggi, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat nyata bagi dunia kesehatan dalam skala global.
“Research must go on….”
Referensi:
Aditya Yudhana, Isao Teramoto, Dyah Haryuningtyas Sawitri, April Hari Wardhana, Sei Iwasaki, Asako Haraguchi, Yasutoshi Kido, Akira Kaneko, Makoto Matsubayashi. 2026. Quantitative sugar-flotation in a cover-slide system for quantifying Cryptosporidium parvum oocysts in feces: optimizing specific gravity, floating time, and counting strategies. Experimental Parasitology, 286, 109152. https://doi.org/10.1016/j.exppara.2026.109152.





