Universitas Airlangga Official Website

Penentu Perbedaan Biaya pada Pasien Rawat Inap dengan Gagal Jantung Dekompensasi Akut

Estimator Spline dalam Model Regresi Logistik Ordinal Nonparametrik untuk Memprediksi Risiko Serangan Jantung

Gagal jantung dekompensasi akut adalah masalah kesehatan masyarakat yang kritis dan penyebab utama rawat inap. Dua faktor yang diyakini menyebabkan peningkatan kejadian asalah tersebut, termasuk populasi yang menua dan meningkatnya prevalensi penyakit jantung. Frekuensi yang dilaporkan bervariasi dari 1,5% hingga 40%, dengan perkiraan tingkat kematian antara 4% dan 7%. Salah satu masalah terkait secara klinis dan finansial yang paling penting adalah perbedaan antara anggaran rumah sakit atau fasilitas perawatan kesehatan dan pengeluaran aktual untuk perawatan pasien. Masalah perbedaan ini, terutama di negara berkembang di mana sumber daya mungkin sedikit, sangat penting.

Tingkat keparahan Gagal jantung dekompensasi, jenis perawatan yang diterima, dan komorbiditas tambahan pasien adalah semua faktor penting yang dapat mempengaruhi biaya terapi. Sementara itu, informasi mengenai berbagai elemen yang mempengaruhi biaya pengobatan untuk pasien Gagal jantung dekompensasi di Indonesia belum dapat diakses secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan biaya pada pasien Gagal jantung dekompensasi yang dirawat di rumah sakit.

Penelitian retrospektif ini dilakukan di Rumah Sakit Universitas Brawijaya dari bulan Juli hingga Agustus 2024. Data dikumpulkan dari 86 pasien Gagal jantung dekompensasi yang dirawat di rumah sakit antara Januari 2021 dan Desember 2023. Informasi mengenai kondisi klinis pasien, komorbiditas, dan prosedur medis diambil dari riwayat kasus mereka. Analisis statistik termasuk tes-t dan tes Mann-Whitney. Dalam penelitian ini terhadap 86 individu dengan ADHF, 58,1% berusia di atas 65 tahun, 31,4% berusia antara 45 dan 64 tahun, dan 10,5% berusia antara 18 dan 44 tahun. Berdasarkan klasifikasi perawatan, 58,1% diterima untuk perawatan Kelas 1, 30,2% untuk Kelas 2, dan 11,6% untuk Kelas 3.

Temuan kami menunjukkan bahwa biaya perawatan untuk pasien dengan penyakit sedang dan berat lebih tinggi dibandingkan dengan pasien dengan tingkat keparahan ringan. Pasien yang memiliki masa tinggal lebih dari 7 hari memiliki biaya yang lebih tinggi daripada mereka yang masa tinggalnya 1 hingga 3 hari. Selain itu, perawatan Kelas 2 dikaitkan dengan biaya yang lebih tinggi daripada perawatan Kelas 3. Analisis juga mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah komorbiditas dan prosedur medis sesuai dengan biaya perawatan yang lebih tinggi.

Penulis: Jeffri Arisandi, Amelia Lorensia, Abdul Rahem