Universitas Airlangga Official Website

Penerapan Sanitasi dan Higiene dalam Meningkatkan Kualitas Produk dari Kerang

Foto by Wikipedia

Persaingan yang ketat dalam penjualan produk makanan akan mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas bahan makanan, kualitas produk makanan, dan pelayanan penjualan. Kenyataan yang terlihat dilapangan bahwa sebagian pengolahan produk makanan tidak menggunakan cara dan motode yang memenuhi standar higiene dan sanitasi yang baik. Sehingga akibatnya hasil olahan produk makanan akan menjadi tidak sehat untuk dikonsumsi manusia. Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Kerang Di Desa Banjar Kemuning, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo berupaya meningkatkan kualitas produk makanan dari kerang yang akan dijual ke masyarakat dengan cara menerapkan standar sanitasi dan higiene dalam setiap proses pengolahan produk makanan dari kerang

Kerang salah satu komoditas perikanan tangkap yang mempunyai nilai ekonomis penting. Daya tarik masyarakat dalam mengkonsumsi kerang dikarenakan adanya kandungan gizi yang tinggi. Banyak jenis kerang yang dapat dikonsumsi dan sebagian telah dibudidayakan dan dilakukan pengolahan produk makanan. Jenis kerang Anadara yang paling populer di Indonesia dan juga salah satu yang disukai masyarakat karena alasannya adalah seluruh bagian tubuh yang lunak dapat dimakan, sedang cangkangnya dapat digunakan sebagai campuran makanan ternak serta bisa dijadikan pernak Pernik.

Kandungan gizi yang terdapat pada kerang tidak jauh berbeda dengan biota laut lainnya. Kerang mengandung zat-zat mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, seperti besi (Fe), fosfor (P), flour (F), iodium (I), kalsium (Ca), kalium (K), seng (Zn), dan selenium (Se). Selain itu, kerang adalah sumber protein hewani yang tergolong dalam protein yang lengkap, karena kadar asam amino esensialnya tinggi sekitar 85%-95% dan mudah dicerna oleh tubuh. Kemudian kerang juga mengandung vitamin yang larut dalam lemak serta B kompleks.

Pengolahan kerang yang sederhana otomatis memiliki kekurangan seperti belum terjaganya aspek sanitasi dan higiene pada proses pengolahannya. Aspek sanitasi dan higiene merupakan salah satu yang sangat dipertimbangkan untuk menjamin mutu suatu produk olahan pangan. Persaingan kualitas produk pangan di era globalisasi sekarang akan meningkatkan Warga Desa Banjar kemuning Sedati untuk membuat produk Home industry untuk menghasilkan produk yang telah memenuhi standart keamanan pangan dan kepuasan pembeli. Menghasilkan produk yang bersih, sehat dan aman sangat diperlukan penerapan standart sanitasi dan higiene di unit pengolahan pangan

Sanitasi merupakan kegiatan usaha kebersihan agar tercapainya kesehatan dan keamananan manusia. Sanitasi juga bisa diartikan sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit. Sedangkan higiene adalah usaha pengendalian penyakit yang dapat ditularkan melalui makanan. Dalam industri pengolahan pangan sanitasi meliputi kegiatan-kegiatan aseptis dalam persiapan.

Maka dari itu untuk penerapan standar sanitasi dan higiene dalam meningkatkan kualitas produk makanan dari kerang di Desa Banjar Kemuning, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Pendekatan terbaik agar terjamin keamanan produk makanan dari kerang ini yang utama adalah pada prosesnya dimana kerang itu hidup serta dimana kerang itu didapatkan. Pada kerang yang didapatkan di perairan sebaiknya dilakukan proses penanganan yang baik terkait sanitasi dan higiene, karena kerang yang tertangkap di alam terdapat resiko kontaminan bakteri dan beberapa logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Penulis: Dwitha Nirmala, S.Pi., M.Si

Catatan Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan di :

https://doi.org/10.1088/1755-1315/1036/1/012099

Application of Sanitation and Hygiene In Improving The Quality of Products From Shells In The Collective Business Group (KUB) of Shell Fishers In Banjar Kemuning Village, Sedati District, Sidoarjo Regency

IOP Conference Series: Earth and Environmental ScienceVolume 1036, The 4th International Conference on Fisheries and Marine Sciences (INCOFIMS 2021), Dwitha Nirmala, Wahju Tjahjaningsih and Endang Dewi Mashitah