Universitas Airlangga Official Website

Pengaruh Ekstrak Daun Ruellia tuberosa L. terhadap Kadar SGOT, SGPT, dan Histopatologi Hepar Tikus Putih

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat penurunan produksi atau fungsi kerja insulin. Kondisi hiperglikemia yang berkepanjangan dapat meningkatkan pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) yang memicu stres oksidatif, sehingga menimbulkan kerusakan sel dan disfungsi organ, termasuk hepar. Aloksan adalah agen diabetagonik yang umum digunakan dalam model hewan coba karena toksisitas selektifnya terhadap sel β-pankreas melalui mekanisme pembentukan radikal bebas. Kerusakan hepatosit pada kondisi diabetes dapat ditunjukkan melalui peningkatan kadar enzim serum SGOT dan SGPT, serta perubahan histopatologi hepar.

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh ekstrak daun Ruellia tuberosa L. terhadap kadar SGOT, SGPT, dan gambaran histopatologi hepar tikus putih jantan yang diinduksi aloksan. Penelitian menggunakan rancangan post-test only randomized control group design, dengan 25 ekor tikus putih jantan strain Wistar yang dibagi dalam lima kelompok perlakuan, masing-masing terdiri dari lima ekor. Kelompok penelitian terdiri atas: P0 (kontrol normal), K- (kontrol negatif, induksi aloksan tanpa terapi), K+ (kontrol positif, metformin 50 mg/kg BB), P1 (ekstrak R. tuberosa 200 mg/kg BB), dan P2 (ekstrak R. tuberosa 400 mg/kg BB). Induksi diabetes dilakukan dengan aloksan dosis 150 mg/kg BB secara intraperitoneal. Kemudian, tikus dengan kadar glukosa ≥ 200 mg/dL dinyatakan diabetes dan dilanjutkan diberi perlakuan selama 14 hari berturut-turut sesuai kelompok masing-masing.

Setelah perlakuan, pengambilan sampel darah dilakukan melalui jantung untuk pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT, sedangkan jaringan hepar tikus difiksasi dan diproses untuk pembuatan preparat histopatologi menggunakan pewarnaan Hematoxylin-Eosin. Parameter kerusakan hepatosit yang diamati meliputi degenerasi hidropik, nekrosis, pyknosis, dan karyolisis. Analisis statistik menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Duncan untuk menentukan perbedaan signifikan antar kelompok.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan. Kelompok K- memiliki nilai SGOT dan SGPT tertinggi yang menunjukkan kerusakan hepatosit berat akibat stres oksidatif. Kelompok K+ menunjukkan penurunan nilai enzim hati dibanding K-, namun penurunan tersebut lebih kecil daripada kelompok perlakuan ekstrak R. tuberosa. Kelompok P2 memiliki nilai terendah untuk SGOT dan SGPT, yang menunjukkan perbaikan paling signifikan.

Hasil histopatologi mendukung temuan biokimia tersebut. Pada kelompok K- tampak kerusakan jaringan hepar berupa degenerasi hidropik, nekrosis, pyknosis, dan karyolisis. Kelompok K+ menunjukkan perbaikan namun masih ditemukan kerusakan sel. Kelompok P1 memperlihatkan kondisi hepatosit yang pulih lebih baik, meskipun masih terdapat lesi nekrotik. Kelompok P2 menunjukkan struktur sel hepar yang paling mendekati normal, dengan minimal kerusakan sel dan perbaikan paling jelas.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun Ruellia tuberosa L. mampu menurunkan kadar SGOT dan SGPT serta memperbaiki struktur histopatologi hepar tikus putih jantan yang diinduksi aloksan. Ekstrak daun R. tuberosa mengandung steroid, flavonoid, senyawa fenolik, dan asam askorbat yang bersifat antioksidan. Zat-zat ini membantu mereduksi stres oksidatif dan memperbaiki kerusakan sel hepar, sehingga regenerasi hepatosit meningkat dan kadar SGOT/SGPT menurun.

Penulis : Tridiganita Intan Solikhah, drh., M.Si

Referensi terkait tulisan di atas:

https://submission.als-journal.com/index.php/ALS/article/view/3647

Solikhah, T. I., Agustin, Q. A. D., Raffiuttaqi, G. N., Pengestu, S. A. F., & Miftakhurrozaq, R. K. (2025). Effect of Ruellia tuberosa L. leaves extract on SGOT and SGPT levels and liver histopathology in alloxan‑induced diabetes white rats (Rattus norvegicus). Advancements in Life Sciences, 12(3), 617-622.