Universitas Airlangga Official Website

Pengaruh ekstrak kelopak Hibiscus sabdariffa terhadap IL-10, TNF-α, dan tulang anyaman selama kekambuhan ortodonti

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tujuan utama perawatan ortodonti adalah mencapai keselarasan gigi yang benar dan hubungan oklusal fungsional, sehingga meningkatkan efisiensi pengunyahan dan memperbaiki estetika wajah, serta memastikan stabilitas perawatan jangka panjang. Stabilitas keselarasan gigi jangka Panjang adalah tujuan utama, tetapi berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa prediktabilitas hasil perawatan dapat bervariasi dan ada risiko kekambuhan setelah selesainya perawatan. Kekambuhan mengacu pada kembalinya gigi ke posisi semula setelah perawatan ortodonti dan tetap menjadi tantangan kompleks di bidang ortodonti.

Kekambuhan dapat berlanjut sampai resolusi penuh resorpsi tulang alveolar. Mengurangi resorpsi tulang alveolar dan meningkatkan pembentukan tulang setelah pergerakan gigi ortodontik (OTM) diharapkan menjadi strategi yang efektif untuk mencegah kekambuhan gigi. Strategi saat ini bergantung pada retainer tetap atau lepasan, tetapi keduanya memiliki keterbatasan, dengan tingkat kekambuhan hingga 40% dalam dua tahun untuk retainer lepasan, dan meskipun retainer tetap lebih efektif, retainer tersebut dapat meningkatkan risiko periodontal dan komplikasi kebersihan mulut.  Studi sebelumnya mengeksplorasi penggunaan agen farmakologis seperti simvastatin dan bifosfonat untuk mencegah kekambuhan ortodontik, tetapi obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping dengan penggunaan yang berkepanjangan.  Sitokin dan remodeling tulang merupakan penentu penting kekambuhan ortodontik.  Faktor nekrosis tumor-alfa (TNF-α) mendorong diferensiasi osteoklas dan resorpsi tulang, dan interleukin-10 (IL-10) memberikan efek perlindungan dengan menekan osteoklastogenesis dan mendukung homeostasis tulang. Selain itu, pembentukan tulang anyaman merupakan tahap awal regenerasi tulang, memberikan stabilitas struktural awal yang penting untuk dukungan periodontal jangka panjang dan mengurangi kekambuhan.

Ekstrak kelopak Hibiscus sabdariffa (HS-CE) kaya akan antosianin, polifenol, dan vitamin C, dan menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap berbagai strain bakteri, tetapi tanpa efek sitotoksik pada osteoblas.  Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa HS-CE mendorong pembentukan tulang, memodulasi jalur inflamasi, dan menunjukkan efek osteoprotektif yang relevan dengan ortodonti. Namun, efeknya pada pembentukan tulang anyaman dan ekspresi IL-10 dan TNF-α selama fase retensi kritis belum dieksplorasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi penggunaan HSCE untuk memodulasi remodeling tulang dan mediator inflamasi, sehingga membantu dalam pencegahan kekambuhan ortodontik. HS-CE secara signifikan mengurangi jarak kekambuhan pada hari ke-7 dan ke-14 (p < 0,05). Ekspresi IL-10 meningkat pada hari ke-7 (p < 0,05) dan hari ke-14 (p < 0,001), sedangkan TNF-α ditekan pada kedua hari tersebut (p < 0,01; p < 0,001). Area tulang anyaman lebih besar pada kelompok HS-CE (p < 0,001). Temuan ini menyoroti efek mekanistik ganda HS-CE dalam mencegah kekambuhan dengan meningkatkan IL-10 dan menekan TNF-α, sekaligus memfasilitasi regenerasi tulang dini melalui pembentukan tulang anyaman. Pengurangan jarak kekambuhan yang diamati semakin menekankan pentingnya efek ini.

HS-CE berpotensi sebagai adjuvan terapeutik alami untuk meningkatkan stabilitas pasca perawatan dan mengurangi kekambuhan ortodontik. Dalam penelitian ini, pemberian HS-CE secara signifikan meningkatkan ekspresi IL-10, mengurangi kadar TNF-α, mendorong pembentukan tulang anyaman, dan menurunkan jarak kekambuhan pada hari ke-7, menunjukkan kemampuannya untuk memodulasi peradangan dini dan mempercepat regenerasi tulang untuk menstabilkan posisi gigi secara mekanis selama fase awal kritis kekambuhan. Peningkatan berkelanjutan pada area tulang dari hari ke-7 hingga hari ke-14 lebih lanjut menunjukkan bahwa HS-CE mendukung remodeling dan konsolidasi tulang yang berkelanjutan. Evaluasi dua titik waktu kunci dalam penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang respons biologis temporal yang terkait dengan pencegahan kekambuhan. Penggunaan gabungan analisis histologis dan imunohistokimia menunjukkan efek biologis HS-CE yang konsisten di dalam jaringan tulang alveolar, dan rute pemberian intrasulkular merupakan pendekatan minimal invasif dan dapat diterapkan secara klinis untuk terapi lokal. Namun, periode pengamatan yang lebih lama, variasi dosis, dan studi tingkat molekuler diperlukan untuk lebih menjelaskan mekanisme dan mengoptimalkan potensi klinis HS-CE dalam menjaga stabilitas pasca-ortodonti.

HS-CE meningkatkan ekspresi IL-10, menekan TNF-α, meningkatkan pembentukan tulang anyaman, dan mengurangi jarak kekambuhan, menyoroti potensinya sebagai adjuvan alami untuk meningkatkan stabilitas pasca-perawatan. Studi ini meneliti efektivitas HS-CE dalam memodulasi respons imun dan membantu regenerasi tulang selama fase kekambuhan setelah OTM. Komponen fitokimia HS-CE meningkatkan ekspresi IL-10, mengurangi kadar TNF-α, dan mendorong pembentukan tulang anyaman. Hasil ini berkorelasi dengan penurunan signifikan pada jarak kekambuhan, menunjukkan peningkatan stabilitas pasca-perawatan. HS-CE berpotensi sebagai adjuvan alami untuk mencegah kekambuhan ortodonti, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk profil kuantitatif, optimasi dosis, dan klarifikasi jalur molekuler.

Penulis; Evie Lamtiur, Ida Bagus Narmada Link lengkap: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1658361225001301