Indonesia dilaporkan memiliki pengguna internet sebesar 77,02% dari total penduduk dimana hamper 90% pengguna memanfaatkan untuk mengakses media sosial, lebih dari 73% untuk sarana komunikasi, 21,26 untuk belanja online dan 1,37 memanfaatkan transaksi keuangan dalam bentuk e-money. Penggunaan Internet untuk transaksi keuangan yang cenderung lebih sedikit, dimungkinkan karena kekawatiran pengguna akan keamanan aplikasi seperti dompet elektronik ataupun pembayaran seluler. Terlepas dari kekhawatiran ini, Internet telah menjadi hal yang penting bagi kehidupan dan berbagai bidang pekerjaan masyarakat di era digital. Penggunaan internet diduga berpotensi meningkatkan tingkat pendapatan rumah tangga di wilayah pedesaan dan pesisir di Indonesia secara signifikan. Namun informasi mengenai pemanfaatan internet di Indonesia hanya terbatas pada informasi transformasi digital di sektor perikanan, seperti pemanfaatan teknologi informasi untuk pembangunan pesisir dan penerapan strategi berbasis teknologi untuk meningkatkan produktivitas nelayan.
Selain itu, banyak penelitian yang lebih fokus pada kesejahteraan obyektif yang diukur dari perekonomian, yaitu produktivitas dan pendapatan, dibandingkan kesejahteraan subyektif. Saat ini, hasil perekonomian, seperti pendapatan, tingkat kemiskinan, pengelolaan usaha, dan akses terhadap pangan, dikritik karena terlalu sempit dalam mengukur kualitas hidup dan tidak mempertimbangkan faktor non-finansial seperti kebahagiaan dan kepuasan hidup. Akibatnya, para peneliti di bidang terkait seperti ekonomi dan ilmu sosial telah mulai meneliti bagaimana kesejahteraan subjektif mencerminkan kualitas hidup masyarakat terutama di daerah pesisir seperti nelayan. Kesejahteraan subyektif (Subjective Wellbeing) adalah evaluasi diri terhadap emosi, persepsi, dan perasaan mengenai multidimensi kehidupan, dan merupakan prediktor penting dari kesehatan, kesejahteraan, dan tingkat harapana hidup.
Secara teoritis, penggunaan Internet dapat meningkatkan peluang dan meningkatkan kesejahteraan dengan membangun hubungan sosial antara nelayan dan digitalisasi. Dengan memanfaatkan kekuatan penggunaan internet, nelayan dapat memperluas wawasan mereka dan membangun hubungan sosial yang kuat. Namun, karakteristik pribadi seperti kemampuan, fungsi psikologis, budaya, dan keyakinan sangat penting untuk diukur dalam menentukan sejauh mana manfaat yang berbeda dari penggunaan internet. Terlebih lagi, Indonesia, negara kepulauan terbesar, adalah rumah bagi populasi sosiokultural yang beragam dengan tingkat infrastruktur TIK yang berbeda-beda serta kebijakan pemerintah mengenai masalah pertanian dan perikanan berbeda antar provinsi, kabupaten, dan kota. Oleh karena itu, mempelajari hubungan antara penggunaan internet dan kesejahteraan subjektif di negara berkembang dan negara kepulauan adalah hal yang menarik untuk diulas. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara penggunaan Internet dan kesejahteraan subjektif nelayan skala kecil di Indonesia.
Studi ini mendefinisikan kebahagiaan sebagai kesejahteraan subjektif dalam jangka pendek yang diperoleh dari pengalaman sehari-hari seperti keberhasilan memancing, berhubungan dengan alam, dan mengakses informasi iklim. Di sisi lain, kepuasan hidup mewakili kesejahteraan subjektif nelayan dalam jangka panjang dan mencerminkan evaluasi hidup mereka secara keseluruhan, termasuk stabilitas keuangan, keamanan kerja, dukungan keluarga, dan pemenuhan tujuan dan aspirasi. Kedua faktor ini berkontribusi terhadap kesejahteraan subjektif nelayan dan membentuk persepsi mereka mengenai kepuasan dan kepuasan dalam menangkap ikan. Lebih lanjut, studi ini mengkaji perbedaan karakteristik antara nelayan yang menggunakan Internet dan yang tidak menggunakan Internet di Indonesia.
Temuan penelitian ini penting karena memperkirakan dampak penggunaan Internet terhadap kebahagiaan dan kepuasan hidup melalui pengaruh teman sebaya sebagai variabel instrumental, sehingga memberikan wawasan mengenai dampak yang heterogen. Pengguna Internet pada kelompok sosial dan keluarga merupakan variabel penting dalam mengatasi potensi endogenitas adopsi Internet di kalangan nelayan skala kecil yang hidup dalam siklus berbagi komunal. Temuan ini diharapkan bahwa peningkatan akses Internet dapat bermanfaat bagi optimisme perekonomian dan sikap positif dalam menghadapi perubahan kondisi perekonomian. Pada akhirnya, para pengambil kebijakan dapat menggunakan wawasan ini untuk merumuskan kebijakan yang mendorong akses teknologi di negara-negara kepulauan yang sedang berkembang.
Studi ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sistematis antara pengguna Internet dan non-Internet. Nelayan skala kecil didorong untuk menggunakan Internet melalui faktor-faktor seperti akses terhadap kredit, geografi berdasarkan wilayah, dan alat penangkapan ikan. Namun, tabungan dan pekerjaan di luar pertanian ternyata berdampak negatif terhadap keputusan mereka untuk menggunakan Internet. Hasil empiris menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif nelayan skala kecil, termasuk kebahagiaan dan kepuasan hidup, dipengaruhi secara positif oleh penggunaan Internet. Karakteristik dasar nelayan, seperti pendidikan, pekerjaan di luar pertanian, tabungan, dan pengalaman menangkap ikan, terbukti berdampak positif dan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif mereka. Sebaliknya, akses terhadap kredit dan alat penangkapan ikan melemahkan kesejahteraan subjektif.
Temuan kami secara umum menyoroti hubungan positif antara penggunaan Internet dan kesejahteraan subjektif nelayan skala kecil, yang menggarisbawahi perlunya kebijakan yang mendorong koordinasi regional dalam strategi Internet untuk pembangunan pesisir. Intervensi dan program kebijakan lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan layanan internet dan infrastruktur telekomunikasi. Tindakan tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian dan kualitas hidup serta mendorong inovasi teknologi dan pelatihan. Dengan meningkatkan layanan Internet dan infrastruktur telekomunikasi, penggunaan Internet dapat ditingkatkan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas perekonomian. Selain itu, hal ini dapat memfasilitasi akses yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan dan penelitian, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Oleh karena itu, penting untuk memprioritaskan pembangunan layanan Internet dan infrastruktur telekomunikasi untuk mendorong pertumbuhan dan kemajuan di berbagai sektor.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan ini menyoroti jalan yang menarik untuk penelitian di masa depan. Pertama, karena analisis ini didasarkan pada data cross-sectional, maka tidak mungkin untuk secara akurat menentukan dampak dinamis penggunaan Internet terhadap kesejahteraan subjektif nelayan. Meskipun demikian, penelitian ini memberikan bukti empiris yang berharga dari nelayan skala kecil di Indonesia. Studi longitudinal di masa depan diperlukan untuk menarik kesimpulan yang lebih tepat mengenai hubungan antara penggunaan internet dan kesejahteraan subjektif. Temuan-temuan ini menekankan pentingnya mempertimbangkan perbedaan tingkat kesenjangan digital, seperti keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk menggunakan atau memanfaatkan TIK, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan multidimensi rumah tangga nelayan.
Penulis: Annur Ahadi Abdillah





