Produk pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi dan memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan salah satunya adalah susu. Saat ini konsumsi dan kebutuhan susu segar maupun produk turunannya diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi, pertumbuhan ekonomi, perbaikan tingkat pendidikan, kesadaran gizi dan perubahan gaya hidup. Pada tahun 2016 Ditjennak menyebutkan produksi susu nasional pada tahun 2016 tercatat 852.951 ribu ton atau meningkat 2,13% dibandingkan produksi satu tahun sebelumnya. Produksi susu nasional tersebut didominasi dari produksi susu sapi segar dan susu kambing segar. Susu segar dalam negeri yang berasal dari kambing sampai saat ini sekitar 24,8 % kebutuhan nasional dan diperkirakan akan terus meningkat kebutuhannya. Di Indonesia, Beberapa jenis kambing perah yang dapat menghasilkan susu antara lain Peranakan Etawa, Anglo Nubian, Saanen dan Sapera (persilangan Saanen dengan Peranakan Etawa).
Berdasarkan aspek kebutuhan tersebut upaya dalam meningkatkan populasi kambing Sapera menjadi sangat penting. Salah satu mekanisme untuk menjalankan upaya tersebut adalah dengan teknologi reproduksi khususnya dalam bidang Inseminasi Buatan (IB). Inseminasi Buatan (IB) merupakan teknik memasukkan semen menggunakan alat khusus yang disebut insemination gun ke dalam saluran reproduksi betina. Progam IB dalam pelaksanaannya diperlukan persediaan semen yang baik secara kualitas maupun kuantitas ternak. Cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisir penurunan kualitas semen selama penyimpanan yaitu dengan pengenceran semen menggunakan tambahan diluter yang memenuhi syarat. Diluter semen pada umumnya menggunakan Tris kuning telur karena telah memenuhi syarat pengenceran yaitu mengandung nutrisi untuk spermatozoa, melindungi membran spermatozoa dari cold shock, dan bersifat buffer.
Untuk saat ini, Inseminasi Buatan (IB) pada kambing tingkat keberhasilannya masih sangat rendah di Indonesia. Hal tersebut dapat disebabkan oleh rendahnya kualitas semen beku yang ditandai dengan penurunan motilitas, viabilitas, dan peningkatan abnormalitas spermatozoa setelah thawing. Penurunan kualitas spermatozoa tersebut dimungkinkan salah satu faktornya yaitu karena adanya peningkatan radikal bebas yang memicu peroksidasi lipid. Dengan demikian akan sangat penting dilaksanakan mekanisme penambahan antioksidan pada bahan pengencer, sehingga diharpkan akan dapat meminimalisir kerusakan membran spermatozoa akibat peroksidasi lipid selama proses pendinginan. mekanisme tersebut juga sesuai dengan beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa vitamin C dan vitamin E dalam diluter dapat mempertahankan kualitas spermatozoa.
Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian ini, bahwa dalam Penelitian yang menggunakan semen kambing pejantan Sapera ini, menunjukan Suplementasi vitamin C dan E, serta kombinasi keduanya dalam diluter tris kuning telur dapat mempertahankan motilitas, viabilitas dan membran plasma utuh spermatozoa kambing Sapera pada proses pendinginan 5˚C.
Salah satu fungsi dari Vitamin C yaitu vitamin C mampu menangkal radikal bebas dan mencegah terjadinya rantai reaksi radikal bebas, sehingga dapat menghindari kerusakan peroksidasi lipid yang berpengaruh terhadap viabilitas, motilitas dan fertilitas spermatozoa. Sedangkan untuk Vitami E merupakan salah satu vitamin yang paling efektif sebagai antioksidan, hal tersebut dikarenakan vitamin E larut dalam lemak dan sangat penting karena sebagian besar kerusakan oleh radikal bebas terjadi pada membran sel dan lipoprotein berkepadatan rendah dan semua hal tersebut terbuat dari molekul lemak. Selain itu, vitamin C bersama-sama vitamin E dapat menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat vitamin E radikal yang terbentuk pada proses pemutusan reaksi radikal bebas oleh vitamin E menjadi vitamin E bebas yang berfungsi kembali sebagai antioksidan. Dengan mekanisme kerja yang berbeda antara vitamin C dan E, jika kedua vitamin ini digunakan dapat menghambat aktivitas radikal bebas.
Penulis: Amung Logam Saputro, S.KH., drh., M.Si.
Link: https://phcogj.com/article/1885
Pharmacogn J. 2022; 14(5): A Multifaceted Journal in the field of Natural Products and Pharmacognosy www.phcogj.com





