Universitas Airlangga Official Website

Indikator Hormonal sebagai Penentu Frekuensi Bertelur Ayam

Foto oleh Pinterest

Peningkatan tingkat konsumsi telur ayam oleh masyarakat harus diimbangi dengan jumlah produksi telur ayam. Ayam dalam satu flok tidak semua bertelur secara bersamaan, beberapa kelompok ayam tidak pernah bertelur sama sekali, sedangkan kelompok ayam lain dapat menghasilkan telur lebih awal. Produksi telur ayam dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan serta beberapa faktor lainnya. Faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi telur adalah pencahayaan, suhu, dan kelembapan kandang. Pemberian cahaya buatan pada malam hari bisa merangsang perkembangan sistem reproduksi, sehingga dewasa kelamin akan tercapai lebih cepat. Gelombang cahaya akan lebih mudah berpenetrasi pada jaringan kulit tengkorak dengan gelombang yang panjang, sehingga dapat menstimulasi kelenjar pituitary untuk mensekresikan hormon yang mengontrol reproduksi.

Hormon FSH dan LH berpengaruh terhadap stimulasi perkembangan dan maturasi ovum pada ovarium. Hormon FSH dan LH yang optimal mampu merangsang pertumbuhan folikel dalam masa yang cukup singkat dan akan berakibat pada meningkatnya jumlah produksi telur, karena jumlah folikel yang berkembang dan diovulasikan lebih banyak. Hormon FSH bekerja pada fase awal pertumbuhan folikel, sedangkan LH bekerja pada folikel pre-ovulasi. Pertumbuhan folikel yang normal adalah hasil dari aksi komplementer dari FSH dan LH. Adanya penurunan kadar hormon FSH dan LH pada ayam ras petelur yang menua mengakibatkan terjadinya penurunan produksi telur. Kadar hormon FSH dan LH yang rendah akan mengakibatkan tidak terbentuknya folikel dan mengakibatkan telur tidak diproduksi oleh ayam. Hal tersebut mendasari dilakukan penelitian mengenai kadar hormon FSH dan LH dengan frekuensi bertelur yang berbeda.

Hasil penelitian kami pada ayam petelur menoba melihat kadar hormone FSH dan LH menggunakan serum dari darah ayam ras petelur dengan 5 kelompok yaitu T1, T2, T3, T4, dan T5 dengan total sampel 20 ekor. Kelompok T1-T5 ini berdasarkan frekuensi bertelur. Ayam ras petelur strain Isa brown yang digunakan berumur 54 minggu. Pengukuran kadar hormon FSH dan LH menggunakan metode enzym-linked immunosorbent assay (ELISA). Data penelitian diolah dengan menggunakan analisis stastik ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar hormon FSH signifikan terhadap frekuensi bertelur ayam ras petelur strain Isa brown (p<0.05).  Kadar hormon LH menunjukkan hasil yang signifikan terhadap frekuensi bertelur (p<0.05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah hormon FSH dan LH berpengaruh terhadap frekuensi bertelur ayam ras petelur strain Isa brown.

Penulis : Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si.

Informasi lengkap tentang riset ini dapat diakses pada artikel di bawah ini:

Effect of follicle-stimulating hormone and luteinizing hormone levels on egg-laying frequency in hens, Veterinary World, 15(12): 2890–2895.

www.doi.org/10.14202/vetworld.2022.2890-2895