Universitas Airlangga Official Website

Pengertian Budaya Sungai untuk Promosi Kesehatan dalam Pengelolaan Sungai di Banjarmasin

Pengertian Budaya Sungai untuk Promosi Kesehatan dalam Pengelolaan Sungai di Banjarmasin
Sumber: jejakrekam

Sungai ini memainkan peran penting dalam mendukung pembangunan manusia dengan menyediakan air, transportasi, pertanian, dan perikanan, membentuk hubungan erat dengan kesejahteraan manusia. Melindungi sungai sangat penting untuk mencapai sungai yang sehat, yang didefinisikan sebagai ekosistem yang meningkatkan kesejahteraan manusia. Sungai yang sehat berkontribusi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) nomor 6, yang berfokus pada penyediaan air bersih dan sanitasi. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa beberapa individu mengabaikan pemeliharaan sungai, yang dicontohkan oleh perilaku seperti pembuangan sampah yang tidak tepat. Hal ini juga terjadi karena pertumbuhan penduduk dan industrialisasi yang pesat.

Kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Indonesia, dikenal sebagai “Kota Seribu Sungai” karena jaringan sungainya yang luas. Menurut data tahun 2015 dari Sektor Sumber Daya Air dan Drainase Kota Banjarmasin, ada lebih dari 100 sungai di kota ini. Sungai terluas di Indonesia terletak di kota ini yang dikenal sebagai Sungai Barito. Selain itu, sebagian besar penduduk di kota ini tinggal di sepanjang tepi sungai, di mana sungai berfungsi sebagai aspek penting dari kehidupan sehari-hari mereka. Ini termasuk terlibat dalam kegiatan seperti berdagang di pasar terapung, berpartisipasi dalam pariwisata, menggunakannya untuk transportasi, serta untuk toilet, mencuci, dan mandi.

Aktivitas manusia di sungai memiliki efek positif dan negatif. Efek positif dapat meningkatkan kehidupan mereka yang tinggal di sepanjang tepi sungai, sementara konsekuensi negatif termasuk penurunan kualitas air, yang dibuktikan dengan peningkatan kadar E.. Untuk menjaga sungai, pengelolaan yang efektif adalah penting, membutuhkan kolaborasi dari berbagai sektor, termasuk manusia, ekonomi, dan budaya. Studi sebelumnya menekankan pentingnya kemitraan multi-sektoral dalam menangani pengelolaan sungai. Untuk mendorong sanitasi yang efektif di sungai dan pengelolaan sampah yang tepat bagi masyarakat setempat, sangat penting untuk mempertimbangkan aspek ekonomi. Hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan kegiatan pariwisata di sepanjang sungai. Selain itu, pertimbangan budaya memainkan peran penting dalam mendukung pengelolaan sungai, karena sistem kepercayaan sering menganggap pentingnya sungai, melihatnya sebagai tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri. Budaya memberikan pendekatan holistik untuk memahami interkoneksi antara manusia, lingkungan, dan kekuatan spiritual.

`Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara budaya lokal, khususnya nilai dan cara hidup dan kepercayaan, dan kesejahteraan sungai di antara penduduk yang tinggal di tepi sungai di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Orang-orang yang tinggal di sepanjang tepi sungai menyadari bahwa aktivitas alam di alam semesta dibentuk oleh sumber daya hidup dan mistisisme. Mereka percaya bahwa semua bagian lingkungan saling terkait atau saling bergantung. Selain itu, perspektif ini berpendapat bahwa penyalahgunaan lingkungan akan berdampak buruk pada seluruh sistem. Oleh karena itu, adat istiadat budaya berperan penting dalam menjaga kesejahteraan lingkungan dan sumber daya alam. Konsep-konsep ini membentuk cara berpikir dan pengambilan keputusan untuk melindungi sungai.

Dalam penelitian ini digunakan metode campuran. Desain kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi hubungan antara budaya lokal, khususnya nilai dan cara hidup, kepercayaan, dan kesehatan sungai di antara penduduk yang tinggal di sepanjang tepi sungai di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Ini juga untuk memahami fenomena yang berkaitan dengan budaya. Desain kuantitatif digunakan untuk mengevaluasi statistik deskriptif: frekuensi dan persentase sosio-demografi peserta. Data dikumpulkan menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan kuesioner. Studi sebelumnya terkait budaya yang terkait dengan sungai yang sehat termasuk mengekstraksi informasi tentang nilai, cara hidup, dan kepercayaan. Proses wawancara didokumentasikan melalui rekaman audio, ditranskripsikan dalam bahasa Banjar, dan selanjutnya dianalisis secara manual menggunakan analisis konten tematik. Untuk memastikan kepercayaan, triangulasi digunakan. Selanjutnya, identifikasi semua pernyataan yang relevan dengan fenomena tersebut dilakukan dan tema dikelompokkan. Data dikumpulkan dari Agustus hingga Juni 2020, dan total 30 sampel diperoleh. Sampel adalah masyarakat yang tinggal di tepi sungai di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia, seperti Sungai Antasan Segera, Sungai Baguntan, Sungai Tungku, Sungai Banyiur Ampera, Sungai Pekapuran Laut, dan Sungai Guring.

Sistem kepercayaan dalam budaya Banjar mencakup mitos tentang sungai, termasuk keberadaan entitas gaib yang disebut sebagai “dangsanak”, yang dikaitkan dengan ikatan keluarga. Menurut warga, dangsanak adalah hantu dan terkadang tampak seperti buaya. Masyarakat Banjar masih memiliki “budaya sungai”, yang dapat didefinisikan sebagai cara hidup bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan sungai. Menjadikan sungai sebagai “cara hidup” dan membentuk karakter masyarakat. Budaya sungai ditandai dengan adanya pemukiman tepi sungai, pasar terapung, dan jukung, serta interaksi sosial yang terjadi. Selain itu, itu juga berarti bahwa sungai secara tradisional telah menjadi sumber kehidupan masyarakat. Sungai sebagai sumber kehidupan masyarakat Banjar (juga Kota Banjarmasin), meliputi aspek fisik (kualitas fisik dan kuantitas sungai); ekologis (ekosistem sungai), ekonomi (transportasi, pasar terapung, perikanan, irigasi), dan sosial. Sungai berfungsi lebih dari sekadar saluran air; mereka adalah koneksi penting yang menghubungkan manusia dengan beragam bentuk kehidupan dan mewujudkan nilai budaya. Menurut Subiyakto, orang Banjar digambarkan sebagai masyarakat yang “berorientasi sungai”, menunjukkan bahwa aktivitas dan kehidupan masyarakat mereka berkisar pada signifikansi mendalam sungai dalam budaya mereka. Sungai ini memiliki tradisi yang signifikan bagi masyarakat Banjar, mewujudkan praktik yang telah bertahan dari waktu ke waktu dan terintegrasi dengan mulus ke dalam kehidupan masyarakat. Menurut Linton, seorang Antropolog, budaya seperti nilai dan kepercayaan sulit diubah dan sulit untuk digantikan dengan yang lain.

Untuk menjaga kesejahteraan lingkungan dan sumber daya alam, khususnya sungai, diperlukan dukungan pelaksanaan kebijakan publik. Peran pemangku kepentingan sebagai pemegang kewenangan dan masyarakat menjadi hal yang penting. Oleh karena itu, hubungan saling mendukung sangat mempengaruhi pelaksanaan kebijakan. Tentu saja, perlu melibatkan masyarakat dengan budayanya sebagai kearifan lokal. Partisipasi atau dukungan dalam masyarakat juga dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, seperti nilai-nilai, norma, dan kepercayaan yang merupakan sosial. Pendekatan budaya dalam implementasi kebijakan mengandalkan nilai dan perspektif masyarakat lokal, menekankan sudut pandang masyarakat pribumi dalam prosesnya. Pendekatan budaya juga sering disebut sebagai pendekatan bottom-up. Melalui pendekatan nilai budaya atau pengetahuan lokal dalam sistem pengelolaan sungai di Kota Banjarmasin ini, menjadi mungkin untuk meningkatkan kesehatan dan melindungi sungai dari limbah, sehingga menumbuhkan nilai-nilai positif yang penting untuk pemeliharaan sungai.

Adat budaya memainkan peran penting dalam menjaga kesejahteraan lingkungan dan sumber daya alam. Konsep budaya ini memengaruhi proses berpikir dan memiliki dampak yang signifikan pada pengambilan keputusan, terutama dalam melindungi sungai. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara budaya lokal, khususnya nilai, cara hidup, dan kepercayaan, dan promosi lingkungan sungai yang sehat di kalangan warga yang tinggal di sepanjang sungai di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.  Pendekatan metode campuran digunakan untuk menyelidiki aspek budaya, termasuk nilai, cara hidup, dan kepercayaan, dan advokasi untuk lingkungan sungai yang berkelanjutan di antara penduduk yang tinggal di sepanjang sungai di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Desain kuantitatif mengevaluasi statistik deskriptif dalam hal sosiodemografi peserta. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan kuesioner.

Disimpulkan, adat budaya diperlukan untuk menjaga kesejahteraan lingkungan dan sumber daya alam. Studi ini menunjukkan dua tema utama yang terkait dengan signifikansi budaya sungai: nilai, dan cara hidup, serta kepercayaan. Dengan menggunakan pendekatan ini, upaya promosi kesehatan dapat dilaksanakan untuk melindungi sungai dari sampah. Lebih lanjut, penelitian ini menekankan pentingnya menghormati kearifan lokal, terutama dalam memahami hubungan yang saling berhubungan antara manusia dan sungai. Langkah-langkah regulasi harus memperhitungkan keragaman ini untuk pengelolaan lingkungan yang efektif.

Penulis: Prof. Soedjajadi Keman, dr., MS., Ph.D.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/understanding-river-culture-to-approach-health-promotion-in-river

Baca juga: Eksploitasi Pekerja Rumah Tangga Anak dalam Budaya Ngenger Masyarakat Jawa di Indonesia