Resistensi antibiotik merupakan masalah global yang masih menjadi perhatian di sektor ksehatan. Centre for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan terdapat 35.000 juta kematian di Amerika akibat dari resistensi antibiotik (US Department of Health and Human Services & CDC., 2019). Infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten ini tentu memiliki dampak bagi ekonomi, terutama di negara-negara berkembang, yang meningkatkan biaya perawatan dan pengobatan (Friedman et al., 2016;WHO, 2017). Resistensi antibiotik berkembang cepat di masyarakat disebabkan oleh penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan. Antibiotik yang tersisa, tidak terpakai, kadaluarsa, dan dibuang dengan tidak benar, turut berkontribusi terhadap terjadinya resistensi antibiotik (Thai et al., 2018).
World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan rencana secara global untuk mengatasi resitensi antibiotik, yakni salah satunya dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang resistensi antibiotik melalui komunikasi, edukasi, dan pelatihan yang efektif (WHO, 2017). Selain itu, penelitian mengenai perilaku masyarakat sangat penting untuk dilakukan dalam memerangi resistensi antibiotik. Penelitian mengenai pengetahuan, sikap, dan perilaku pengelolaan antibiotik telah dilakukan di beberapa negara. Akan tetapi, penelitian terkait penggunaan dan pembuangan antibiotik di Indonesia masih terbatas.
Sebuah penelitian dilakukan di Kota Surabaya dengan menganalisis pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan dan pembuangan antibiotik pada masyarakat. Penelitian dilakukan pada masyarakat usia di atas 18 tahun dan menyimpan atau menggunakan antibiotik selama 6 bulan terakhir. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik (71.6%), sikap positif (68.2%), dan perilaku yang baik (78%) mengenai penggunaan dan pembuangan antibiotik. Terdapat korelasi positif yang kuat antara pengetahuan dan perilaku pengelolaan antibiotik (r = 0.568; p <0,01). Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dan sikap (r = 0.154; p = 0,018), serta sikap dan perilaku (r = 0.146; p = 0.025). Serta, terdapat korelasi positif yang signifikan antara pengetahuan dan praktik penggunaan dan pengelolaan antibiotik (R= 0.592; R2 = 0.350; = 0.592; 95% CI (1.488; 2.121); p <0.05).
Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan, sikap, dan perilaku yang dimiliki oleh mayoritas responden sudah baik, namun masih terdapat hasil yang kurang memuaskan, terutama dalam pembuangan antibiotik yang tepat. Sebesar 50% responden tidak pernah melarutkan antibiotik dengan air sabun sebelum membuangnya ke wastafel atau saluran air, hal ini penting dilakukan untuk menghindari pencemaran lingkungan. Kesadaran masyarakat tentang dampak pembuangan antibiotik yang tidak tepat sangat diperlukan untuk mencegah resistensi antibiotik (Azmi & Shakeel, 2020). Antibiotik dan obat kadaluarsa lainnya harus dibuang dengan benar untuk mempertahankan pengetahuan, sikap, dan praktik yang baik. Program pembuangan limbah obat khusus, seperti take-back program (pengembalian obat), perlu dikembangkan untuk membantu masyarakat dalam mengelola limbah obat secara khusus. Serta, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan penyedia layanan kesehatan sangat penting dalam mencegah dan mengendalikan resistensi antibiotik.
Penulis: Elida Zairina, Davina Satya Mutia
Artikel lengkap: Zairina, E., Azzahrya, A. B., Nugraheni, G., & Sulistyarini, A. (2023). Knowledge, attitudes, and practices for using and disposing of antibiotics: A cross-sectional study at an Indonesian community. Pharmacy Education, 23(4), 110-115. https://doi.org/10.46542/pe.2023.234.110115





